Sabtu, 22 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Harga Cabai Rawit Kian Melejit

Berimbas Daya Beli Pedagang yang Menurun

22 Januari 2020, 10: 47: 53 WIB | editor : Adi Nugroho

Cabe

PEDAS: Aktivitas transaksi cabai di Pasar Sukomoro tetap tinggi di tengah harga yang melejit, kemarin. Sebagian pedagang menyiasati dengan mengurangi jumlah pembelian. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

SUKOMORO, JP Radar Nganjuk-Harga cabai rawit merah kembali melejit di Pasar Sukomoro, Nganjuk, kemarin. Jika dua hari yang lalu harga si pedas itu Rp 65 ribu per kilogram (kg), kemarin meroket hingga Rp 75 ribu per kg.

Setiyoko, 30, salah satu pedagang cabai di Pasar Sukomoro mengatakan, kenaikan mulai terasa beberapa hari terakhir ini. “Ini kenaikan dari hari sebelumnya (20/1) langsung mencapai Rp 10 ribu per kg. Tembus Rp 75 ribu,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Nganjuk saat ditemui di lokasi.

Berdasarkan keterangan pemilik lapak Beta Cabe tersebut, harga cabai yang terus meroket itu karena stok yang mulai menipis. Baik dari dalam kota dan dari luar kota.

Meski demikian, stok cabai di Pasar Sukomoro masih mengandalkan dari kiriman lokal Nganjuk. Adapun dari luar kota nyaris tidak ada. “Kalau masih ada cabai lokal, yang dari luar kota justru sepi meski harganya lebih murah. Pembeli lebih suka cabai lokal,” klaim Setiyoko.

Selain masih dalam keadaan yang segar, cabai lokal dinilai memiliki kualitas yang lebih bersaing. Sehingga, meski harganya lebih mahal, pembeli tetap mengutamakan cabai lokal.

“Ini sebenarnya sudah mulai berkurang stoknya. Di Nganjuk biasanya panen sekitar bulan Agustus-September,” terang warga Kelurahan Kapas, Sukomoro tersebut.

Dikatakan Setiyoko, menipisnya stok cabai otomatis berdampak pada pedagang. Dia mengaku mengurangi pembelian cabai untuk lapaknya. Jika biasanya mendatangkan dan habis sekitar satu ton, kini menjadi sekitar lima kuintal.

Begitu pula dengan pedagang eceran yang beli di tempatnya. Mereka juga mengurangi daya belinya. Biasanya dalam sekali kulakani bisa membeli sampai 50 kg, kini menjadi sekitar 20-30 kg. “Pedagang tidak mau berspekulasi. Daripada tidak laku lalu busuk cabainya,” imbuh Setiyoko.

Berdasarkan pantauan koran ini, aktivitas transaksi cabai memang masih tetap berjalan. Namun, banyak pedagang yang mengeluhkan daya beli menjadi berkurang dengan kenaikan harga tersebut.

Untuk diketahui, kenaikan harga tidak hanya dialami oleh cabai rawit merah. Melainkan diikuti cabai jenis lainnya. Seperti cabai keriting yang tembus harga Rp 45 ribu per kg. Hingga cabai besar yang menjadi Rp 50 ribu. Rata-rata kenaikannya antara Rp 5-10 ribu.

Berkurangnya daya beli tersebut diamini oleh Lisa, 39, pedagang eceran di Pasar Watudandang, Prambon. Pada hari-hari normal, ia mengaku kulakan cabai sekitar tujuh kilogram. “Ini tadi cuma beli 2 kilo saja,” timpalnya sembari menyebut harga eceran cabai berkisar Rp 80-85 ribu per kilogram.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia