Sabtu, 22 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Paksa Anak Mengemis di Kediri, Warga Trenggalek Ini Ternyata Buron

21 Januari 2020, 15: 24: 52 WIB | editor : Adi Nugroho

pengemis anak

BURON: Suyono saat diamankan oleh petugas. (Iqbal Syahroni - radarkediri)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Ketahuan paksa sang anak mengemis, ucapan Slamet Suyono berbeda-beda setiap kali ditanya petugas. Ketika ditelisik kapan dia datang di Kota Kediri sempat menjawab Senin (20/1). Tapi, saat ditanya pertanyaan serupa, dia ganti menjawab sehari sebelumnya.

Itulah jawaban mencla-mencle lelaki yang beralamat di Kecamatan Bandung, Kabupaten Trenggalek itu. Bahkan, meskipun ketahuan menyuruh anak-anaknya mengemis di jalanan, dia masih berkilah hanya mengajak keduanya makan siang. Kemudian salat di Masjid Agung Kota Kediri.

Dan, ucapan lelaki itu memang tak bisa dipercaya. Selain telah menyuruh kedua anaknya mengemis, dia ternyata juga buron polisi. Karena kemarin, polisi dari Polsek Watulimo, Trenggalek, datang untuk menangkapnya.

“Dia ternyata juga buron kasus penggelapan sepeda motor dan penipuan uang,” terang Nur Khamid, Kabid Trantibum Satpol PP, yang awalnya mengamankan lelaki tersebut.

Sebelumnya, polisi mengambankan Slamet bersama dua anaknya, GP dan RP. Menyusul laporan dari seorang wanita asal Trenggalek yang kehilangan jejak dua keponakannya. Ada kabar, dua keponakannya itu justru diminta mengemis oleh ayah kandungnya.

Saat diinterogasi petugas, Slamet mengaku baru datang dari Mojoagung, Jombang. Dan berdalih kerja di sana. Slamet mengaku bahwa ia sudah bekerja di sana. Sebagai tukang cat. Atau kadang mengantarkan barang. Intinya, lelaki berkumis tebal itu bekerja serabutan. Sekali bekerja, ia dapat Rp 60-80ribu. “Cukup untuk makan anak-anak,” akunya.

Slamet juga mengaku bahwa dahulu saat berada di Trenggalek, ia bekerja sebagai tukang bakso. Sedangkan istrinya, bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) di Singapura. Slamet bersama dengan kedua anaknya pun setiap bulan juga terus dikirimi uang dari hasil menjadi TKI.

Ditanya mengapa ia pergi dari rumah di Trenggalek, lelaki yang saat ditangkap memakai sarung dan kaus cokelat ini mengaku bahwa ia ingin mencoba bekerja di tempat lain. Bukan meneruskan usaha kulinernya, ia menjadi pekerja serabutan. “Dengan teman saya, di Mojoagung,” kilah Slamet.

Saat didesak apakah dia menyuruh anaknya mengemis, Slamet membantah. “Kata siapa? Bisa tanya sendiri ke anak-anak,” jawabnya dengan lantang.

Tapi, jawaban Slamet itu tidak bisa dikonfrontasikan dengan kedua anaknya. Entah takut, bocah yang masih berumur 12 tahun dan 7 tahun itu lebih sering diam saat ditanyai. Baik oleh petugas Satpol PP Kota Kediri maupun ketika coba ditanya Jawa Pos Radar Kediri.

Slamet mengaku bahwa ia, hanya sedang mengajak anaknya untuk makan di warung. Sebelum para petugas Satpol PP Kota Kediri menciduknya di sekitar perempatan Alun-Alun Kota Kediri. “Habis salat di masjid agung, Mas, mau makan,” begitu ucapnya.

Kabid Trantibum Satpol PP Kota Kediri pun juga tidak bisa membiarkan Slamet pergi begitu saja dari keterangan yang diberikan. Pasalnya, petugas Satpol PP Kota Kediri mendapatkan aduan terlebih dahulu dari Partini, bibi dari dua bocah itu. Partini melaporkan  bahwa Slamet membawa kabur kedua anaknya sendiri dari rumah selama lebih dari lima bulan. Dan anaknya disuruh untuk mengemis. “Kami sudah panggil pelapor (Partini, Red), dari infonya juga, petugas kepolisian dari Trenggalek juga sudah dikabari pelapor,” imbuhnya.

Sekitar pukul 15.20 WIB, Partini pun datang ke Kantor Satpol PP Kota Kediri. Bertemu dengan kedua keponakannya pun membuatnya terharu dan menangis.

Sedangkan Slamet, yang masih menyangkal bahwa ia meminta anaknya untuk mengemis pun tidak diperbolehkan bertemu dengan Partini. Satpol PP Kota Kediri mengamankan Slamet, hingga petugas kepolisian datang.

Sekitar pukul 17.10 WIB, petugas dari Polsek Watulimo dan Polres Trenggalek datang ke Kantor Satpol PP Kota Kediri. Ternyata, Slamet merupakan salah satu daftar pencarian orang (DPO) Polsek Watulimo terkait penggelapan dan penipuan sepeda motor di Trenggalek. Total yang diperkirakan hasil dari kerugian yang diciptakan Slamet mencapai Rp 60 juta dan satu buah motor Honda Beat milik saudaranya sendiri. Satpol PP pun menyerahkan Slamet kepada polisi Trenggalek tersebut.

Setelah n digelandang oleh polisi dua anaknya diserahkan ke bibinya. Partini kemudian membawa pulang sang bocah ke Trenggalek.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia