Sabtu, 22 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Features

Gusdurian Nganjuk Jadikan Momen Perayaan Imlek untuk Rajut Kerukunan

Anggotanya Bersihkan Kelenteng Hok Yoe Kiong

21 Januari 2020, 11: 54: 40 WIB | editor : Adi Nugroho

GOTONG ROYONG: Anggota Gusdurian Nganjuk ikut membantu mengangkat perlengkapan beribadah di kelenteng Hok Yoe Kiong (19/1).

GOTONG ROYONG: Anggota Gusdurian Nganjuk ikut membantu mengangkat perlengkapan beribadah di kelenteng Hok Yoe Kiong (19/1). (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Tekad Gusdurian untuk merajut kerukunan antarumat beragama bukan sekadar slogan. Salah satunya lewat aksi bersih-bersih kelenteng Hok Yoe Kiong untuk menyambut perayaan Imlek, Sabtu (25/1) nanti.

REKIAN, SUKOMORO. JP Radar Nganjuk

Jarum jam menunjukkan pukul 10.00, Minggu (19/1) lalu. Halaman kelenteng Hok Yoe Kiong di Jl Raya Sukomoro, Kelurahan/Kecamatan Sukomoro terlihat ramai. Sejumlah pria sibuk mengeluarkan sejumlah peralatan dan perlengkapan yang ada di dalam tempat ibadah umat Tridarma itu.

          Selain sejumlah patung dewa yang dikeluarkan lebih dulu, mereka juga mengeluarkan meja altar dan perlengkapan lainnya. Termasuk sejumlah lilin yang biasanya dinyalakan di dalam kelenteng. “Tolong ini dibawa ke sana,” ujar Benny Sunata, salah satu umat Hok Yoe Kiong, sembari menunjuk meja di dalam kelenteng pada sekelompok pemuda yang ada di depannya.

          Mendengar perkataan Benny, pria berkepala plontos yang tak lain adalah Tri Santoso, salah satu anggota Gusdurian Nganjuk, langsung merespons dengan mengajak teman-temannya mengangkat meja yang dimaksud. Mereka membawa keluar meja dan meletakannya di tempat yang diminta.

          Setelah mengeluarkan peralatan dan perlengkapan beribadah dari dalam kelenteng, Tri, demikian Tri Santoso akrab disapa, mengajak teman-temannya membersihkan dinding kelenteng. Memakai sapu yang sudah dilengkapi dengan tongkat bambu, para pemuda itu menyingkirkan debu yang menempel di dinding.  

          Hal serupa juga dilakukan pada genting dan plafon. Selama aktivitas bersih-bersih itu, Tri dan teman-temannya tidak menggunakan masker. “Tidak masalah,” sahutnya menjawab pertanyaan koran ini akan kekhawatiran menderita sakit akibat debu.

          Pemuda berkaus hitam itu menuturkan, sedianya dia akan membawa lebih banyak anggota Gusdurian pada Senin (20/1) kemarin untuk membersihkan kelenteng. “Eh ternyata bersih-bersihnya sudah mulai hari ini (Minggu lalu, Red),” ujarnya tentang aksi yang dilakukan oleh para pengagum almarhum Gus Dur itu.

          Begitu mengetahui kelenteng sudah mulai melakukan aksi bersih-bersih, pria asal Desa Sumberkepuh, Tanjunganom itu langsung mengontak teman-temannya sesama anggota Gusdurian Nganjuk. Gayung bersambut, pihak kelenteng mempersilakan mereka untuk membantu membersihkan tempat ibadah tersebut.

          Pria penghayat kepercayaan itu terlihat antusias membersihkan kelenteng bersama teman-temannya. “Yang kami bantu bukan hal yang bersifat sakral. Tetapi membantu mengangkat meja dan membersihkan bangunan,” lanjut pria berusia 27 tahun itu.

          Apakah Gusdurian sering terlibat aksi serupa di tempat ibadah lainnya? Ditanya demikian, Tri berujar jika kegiatan yang dilakukan Minggu lalu adalah kali pertama. Meski demikian, dia memastikan akan dengan senang hati ikut membersihkan tempat ibadah jika memang diperbolehkan.

          Bagi Tri, aksi tersebut memiliki banyak makna. Di antaranya, bisa mempererat kerukunan antarumat beragama. Karenanya, dia berharap di tahun-tahun mendatang Gusdurian Nganjuk kembali dilibatkan saat jelang perayaan Imlek. “Kami ingin semua ikut nyawiji,” beber Tri.

          Tri menuturkan, anggota Gusdurian Nganjuk sudah terbiasa melakukan kerja bakti hingga aksi sosial lainnya. Makanya, seluruh anggota terlihat tak canggung meski berada di dalam tempat ibadah umat tridarma itu. “Kami anggap membersihkan tempat ibadah sendiri,” celetuknya.

          Kendati demikian, Tri tetap meminta teman-temannya berhati-hati. Terutama jika terkait dengan ritual ibadah. Seperti saat dia dan teman-temannya akan membersihkan dinding bergambar dewa.

          Berbeda dengan tempat lainnya, dia meminta beberapa pria yang hendak menyapu dinding itu berhenti. Sebagai gantinya, Tri menghampiri Benny, umat Hok Yoe Kiong, dan bertanya. “Apakah ini boleh kami bersihkan (disapu, Red)?” tanya Tri.

          Setelah mengecek dinding yang akan dibersihkan, Benny meminta para anggota Gusdurian Nganjuk itu untuk membersihkan dinding bagian luar. Selebihnya, Benny meminta mereka berkoordinasi dengan Thiam Jum, umat yang dipercaya membersihkan patung dewa pada Minggu (19/1) lalu.

          Demi menghormati kepercayaan umat tri darma, Tri lantas mengajak teman-temannya berpindah. Mereka kembali mengangkat perlengkapan beribadah yang masih ada di dalam kelenteng.

          Saat hendak mengangkat tempat abu yang terbuat dari tembaga berukuran besar, sekelompok anak muda itu menyerah. “Tidak kuat. Berat sekali,” sambung Muksin, 23, asal Desa/Kecamatan Ngronggot.

          Mahasiswa IAIN Kediri itu mengaku senang bisa ikut membersihkan kelenteng Hok Yoe Kiong. Aksi yang dilakukan Minggu lalu itu bagi Muksin memiliki banyak makna. “Kami mampu memahami makna toleransi secara nyata,” bebernya sembari berharap di perayaan Imlek tahun ini tidak ada tindakan intoleransi di Kota Angin.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia