Selasa, 25 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Politik

Cagar Budaya di Kediri: Terowongan Kelud dan Surowono Berpotensi

19 Januari 2020, 20: 18: 46 WIB | editor : Adi Nugroho

terowongan ganesha kelud

INLET GANESHA: Pintu terowongan yang menuju kawasan kawah Gunung Kelud.   (Didin Saputro - radarkediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Potensi situs yang bisa menjadi cagar budaya di Kabupaten Kediri sangat besar. Beberapa lokasi menjadi perhatian dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Nasional. Setelah menetapkan tiga bangunan cagar budaya menjadi peringkat nasional, dua cagar budaya lain juga berpotensi menyusul. Yaitu Terowongan Gunung Kelud dan Arung Surowono.

Staf TACB Nasional Junus Satrioatmodjo mengatakan, pemeringkatan ini diartikan bahwa cagar budaya itu menjadi yang dipentingkan di daerah atau tidak. Walaupun sama-sama cagar budaya, namun dari banyaknya cagar budaya yang dinilai akan dilihat yang paling penting dan yang paling berpengaruh. Tentu saja perbandingannya dengan cagar budaya daerah lain di seluruh Nusantara.

Dia kemudian mencontohkan Arung atau Terowongan Surowono. Menurutnya itu berpotensi sebagai cagar budaya dan kondisinya sangat potensial naik ke level nasional.

“Proses membuatnya tentu sangat sulit. Bayangkan mereka bekerja membuat terowongan bawah tanah dengan kondisi gelap dan berair. Tentu itu suatu pekerjaan yang luar biasa,” paparnya.

Termasuk Terowongan di Gunung Kelud. Terowongan tersebut menjadi sangat penting sebagai mitigasi bencana letusan kelud. Usianya juga sudah lebih dari 50 tahun. Itupun tak dimiliki gunung berapi lain di Indonesia. Sehingga terowongan di Gunung Kelud sangat berpotensi menjadi CB tingkat nasional.

Hanya saja, jalan untuk itu  juga masih panjang. Untuk keduanya Junus menyebut masih perlu kajian lebih lanjut.

Sementara yang sudah ditetapkan sebelumnya adalah Goa Selomangleng di lereng Gunung Klotok, Kota Kediri. Junus menyebut goa itu merupakan salah satu masterpiece masa kerajaan yang luar biasa di negeri ini. “Dan tim sudah sepakat bahwa ini (Selomangleng, Red) levelnya nasional,” jelasnya.

Dia menilai goa dengan ukiran yang penuh seperti Selomangleng sangat jarang di Indonesia. Selain di Kediri, sebenarnya Selomangleng juga ada di Tulungagung dan itu menurutnya juga bagus. Tak hanya itu, Goa Gajah di Pulau Bali juga memiliki arsitektur serupa. “Goa Gajah memang ada pahatannya tetapi reliefnya yang tidak ada, tidak seperti Goa Selomangleng,” ujarnya.

Salah satu pertimbangan Selomangleng menjadi cagar budaya yang luar biasa dan jarang ditemui di daerah lain adalah karena berada di batuan yang keras. Namun, dengan dinding keras itu tapi penuh pahatan relief. Menurut Junus butuh keahlian yang tinggi untuk membuatnya.

“Itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Dengan ukiran yang begitu rapat, cantik, dan detail. Saya yakin itu dibuat oleh ahli seni pahat yang luar biasa,” paparnya.

Sementara untuk Arung atau Terowongan Surowono, ia menyebut itu merupakan sebuah peninggalan yang unik. Di daerah lain, termasuk Jawa Tengah, tidak pernah dijumpai semacam itu. “Adanya (hanya) di wilayah Kediri. Salah satunya di dekat Candi Surowono dan berpotensi (jadi CB nasional),” jelasnya.

Terakhir, untuk Kabupaten Kediri yang sudah dinilai adalah Arca Totok Kerot. Benda purbakala itu menjadi salah satu yang dipertimbangkan oleh TACB Nasional. Namun patung yang diindikasi merupakan arca dwarapala tersebut belum jelas statusnya. Apakah sebagai benda, bangunan, struktur, ataukah situs. “Jadi tidak jelas yang dimaksud apa, padahal menurut undang-undang itu harus jelas,” tegasnya.

Walaupun demikian, arca tersebut dia nilai merupakan peninggalan penting. Sebuah dwarapala yang diperkirakan menjaga kawasan penting zaman Kerajaan Kadhiri. “Uniknya, dwarapala itu (Totok Kerot, Red) yang satu masih belum ditemukan. Dan itu yang menarik dari benda cagar budaya ini,” pungkasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia