Minggu, 29 Mar 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Demam Tinggi, Waspada Serangan Demam Berdarah

19 Januari 2020, 19: 38: 06 WIB | editor : Adi Nugroho

demam berdarah kediri

KONSULTASI: Dokter Spesialis Penyakit Dalam Andrean Prahudi dari RS HVA Toeloengredjo Pare saat melayani konsultasi. (HABIBAH A. MUKTIARA - JP Radar Kediri)

Share this          

Cuaca ekstrem dan banjir meningkatkan risiko penyebaran penyakit, salah satunya demam berdarah (DB) atau dengue hemorrhagic fever (demam dengue) di musim hujan.

Kenapa DB paling rentang, karena selama musim hujan membuat genangan air menjadi tempat nyamuk untuk berkembang biak. Apalagi, nyamuk menyebarkan berbagai penyakit, salah satunya demam berdarah.

“Penyebab penyakit tersebut karena adanya virus yang ditularkan virus dengue melalui perantara nyamuk Aedes Aegypti kepada manusia,” terang Dokter Andrian Prahudi, SpPD.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS HVA Toeloengredjo, Pare ini menjelaskan dalam penyakit ini gejala utamanya adalah demam. Namun demam pada tipe penyakit demam berdarah menyerang secara mendadak. Sebelum terkena demam, sebagian besar mereka semua dapat melakukan aktivitas. Selain menyerang selama mendadak, demam ini bersifat akut atau lama. “Panasnya ini akut sampai tiga atau lima hari,” imbuhnya.

Sementara itu, untuk gejala-gejala terkena DB. Mulai nyeri di bagian kepala, sendi, atau nyeri pada otot dan di bagian persendian lainnya. Seperti namanya demam berdarah, dalam penyakit ini juga terjadi pendarahan.

Pendarahan tersebut seperti bintik-bintik merah yang biasanya di bagian lengan. Setelah bintik bintik merah, adanya ruam-rumah merah. Kemudian muncul pendarahan pada hidung, gusi, lambung, dan pendarahan ketika sedang BAB.

“Selain ditandai dengan pendarahan, namun juga berdasarkan uji laboratorium,” tutur Andrian.

Dari hasil uji laboratorium, untuk penderita DBD akan adanya penurunan sel darah putih dan trombosit. Untuk mengecek seseorang terkena DBD, hingga saat ini Andrian masih menggunakan kriteria WHO tahun 1997.

Yaitu terdapat empat kriteria ketika seseorang terkena DBD, pertama demam akut, kedua adanya pendarahan, ketiga penurunan trombosit, dan keempat peningkatan HCT (Hematokrit). “Dengan adanya hal tersebut, telah terjadinya kebocoran plasma,” ungkap Andrian.

Kondisi ini menyebabkan plasma darah yang mengandung 91% air,  dan nutrisi lainnya keluar dari pembuluh darah. Akibatnya, darah jadi pekat dan alirannya semakin lambat. Seluruh sel di tubuh tentunya akan sulit menerima asupan oksigen, darah, dan nutrisi. Jika tidak segera ditangani, pasien bisa kehilangan nyawa.

Karena berkurangnya cairan di dalam tubuh akibat demam, dan kebocoran plasma. Hal tersebut dapat dicegah dengan minum banyak air putih dan cairan lainnya.

Pemenuhan kebutuhan cairan pasien rawat jalan bisa disesuaikan oleh pasiennya sendiri. Misalnya, kapan waktu minum air dan cairan apa saja yang akan diminum, bisa diatur sendiri oleh pasien di bawah pengawasan dokter. Sementara di rumah sakit, cairan akan ditambahkan dengan infus.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia