Selasa, 25 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Features
Jejak Karir Politik Ketua DPRD Nganjuk

Sempat Apolitis,Terpacu setelah Bapak Ditahan

Tatit Heru Tjahjono

18 Januari 2020, 13: 55: 09 WIB | editor : Adi Nugroho

MARHAEN SEJATI: Ketua DPRD Nganjuk Tatit Heru Tjahjono saat berada di kantor Sekretariat DPRD Nganjuk, kemarin.

MARHAEN SEJATI: Ketua DPRD Nganjuk Tatit Heru Tjahjono saat berada di kantor Sekretariat DPRD Nganjuk, kemarin. (SRI UTAMI - Radar Kediri)

Share this          

Mewarisi darah marhaenis, Tatit Heru Tjahjono muda sempat apolitis. Dia baru terpacu mengibarkan bendera partai setelah Susilo Muslim, ayahnya, ditahan dalam peristiwa 27 Juli 1997 (kuda tuli) di Jakarta. Menapak dari bawah, kini dia sukses mengawinkan kursi ketua DPC PDI Perjuangan dan ketua DPRD Nganjuk.

SRI UTAMI, NGANJUK. JP Radar Nganjuk

Pembawaannya santai. Gaya bicaranya juga pelan. Tidak meledak-ledak seperti tokoh PDI Perjuangan kebanyakan. Sesekali, pria yang tak lain adalah Ketua DPRD Nganjuk Tatit Heru Tjahjono itu juga tersenyum saat berbincang dengan JP Radar Nganjuk di ruang Sekretariat DPRD Nganjuk, kemarin siang. “Saya tetap seperti ini. Tidak ada yang berubah. Ora ngowah-ngowahi adat,” celetuk pria yang akrab disapa Tatit itu tentang gayanya.

Menduduki dua jabatan prestisius sekaligus, yakni sebagai ketua DPRD Nganjuk dan ketua DPC PDI Perjuangan Nganjuk, memang tidak membuat sosok pria berkemeja merah marun itu berubah. “Biasanya ngopi, kalau ada waktu longgar ya pergi ke warung. Biasanya cangkruk, kalau ada waktu ya tetap cangkruk dengan tetangga,” lanjut pria asal Desa Karangtengah, Bagor itu.

Kalaupun ada yang berubah dari putra Susilo Muslim, sesepuh PDI Perjuangan Nganjuk itu, adalah volume kesibukannya. Sebagai ketua DPRD Nganjuk dan ketua DPC PDI Perjuangan Nganjuk, dia memiliki banyak agenda kegiatan.

Hal itu pula yang membuat pria kelahiran 9 Januari 1970 itu kadang kesulitan menjalani hobi dan kegemaran seperti yang biasa dilakoni sebelumnya. “Saya ini marhaenis. Arep diapak-apakno tetep marhaen. Ya begini ini,” tegas pria yang menjabat ketua DPC PDI Perjuangan periode 2019-2024 itu.

Meski mewarisi darah marhaenis sejak kecil, pria berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan agenda partai sejak masih bernama Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD), dia sudah sering ikut kegiatan ayahnya yang notabene adalah pengagum Soekarno tersebut.

Partai berlambang kepala banteng pun tertanam lekat di benaknya. Tetapi, saat orde baru dan PDI mendapat tekanan luar biasa, sempat membuat dia apolitis alias tidak tertarik dengan dunia kepartaian.

Hidupnya yang serbaterbatas membuat bapak empat anak itu harus bekerja selepas SMA pada 1989 silam. “Saat itu saya sempat berhenti setahun. Merantau ke Jakarta. Setelah itu baru melanjutkan kuliah,” kenangnya.

Adalah peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996 (Kudatuli) di Jakarta yang membangkitkan jiwa marhaenisnya. Kala itu, Susilo Muslim yang merupakan aktivis PDI terlibat di sana.

Setelah tragedi itu pecah, sesepuh PDI itu dikabarkan meninggal. Demi mempercayai kabar itu, keluarga melakukan selamatan. Pun menggelar peringatan tujuh hari di kantor DPC PDI. “Setelah sepuluh hari mendapat surat dari dokter kalau bapak masih hidup. Ditahan di Jakarta,” tutur Tatit.

Tatit yang tinggal menunggu wisuda kuliah diploma III komputer itu lantas berangkat ke Jakarta. Mendatangi rutan Pondok Bambu, tempat ayahnya di tahan. Untuk bertahan hidup, dia sempat tidur lesehan di rumah Megawati.

Setelah proses hukum Susilo Muslim selesai, Tatit yang pulang ke Nganjuk bersama sang ayah langsung bertekad untuk berpartai. “Saya kibarkan bendera partai di desa (Karangtengah, Red),” urainya tentang ihwal dirinya terjun sebagai politisi.

Masih lekat dalam ingatan Tatit bagaimana militansi kader PDI kala itu. Bersama anggotanya, dia terbiasa bergotong royong. Termasuk jika ada kegiatan partai, mereka terbiasa memasak bersama. Iuran seadanya agar kegiatan berjalan lancar.

Menapaki jabatan ketua ranting PDI, Tatit melenggang sebagai ketua Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Bagor dua periode. Saat partai berlambang moncong putih itu berubah nama menjadi PDI Perjuangan, Tatit menjabat bendahara DPC.

Karirnya terus menanjak setelah dia menggantikan Ketua DPC PDI Perjuangan Taufiqurrahman yang 2017 silam tersangkut kasus korupsi. Jabatan ketua DPC PDI Perjuangan berlanjut dalam kongres PDI Perjuangan 2019 lalu. Dia menjabat ketua DPC PDI Perjuangan hingga 2024 nanti.

Kesuksesannya berlanjut setelah secara aklamasi  dia diusulkan menjadi ketua DPRD Nganjuk dari PDI Perjuangan. “Siapa yang menyangka. Tidak ada yang tahu garis hidup. Semua mengalir,” beber nomor dua dari lima bersaudara itu.

Menahkodai partai yang sempat guncang akibat skandal korupsi yang membelit Taufiqurrahman, perolehan PDI Perjuangan dalam pemilihan legislatif (pileg) 2018 lalu sempat diramal akan terpuruk. Tetapi, Tatit dan jajaran pengurus lainnya berhasil membuktikan sebaliknya.

Jika di pileg sebelumnya mereka mendapat 11 kursi, dalam pileg 2018 mereka meraih 13 kursi dan menjadi pemenang pemilu. “Alhamdulillah hasil baik. Cabup dan cawabup yang kami usung juga menang,” terangnya bersyukur.

Menyandang status sebagai pemenang pemilu selama dua kali berturut-turut, diakui Tatit justru menjadi tantangan tersendiri. Terutama, menjaga agar partai tak lengah. Pun menjaga militansi kader yang menurutnya mulai berkurang. “Itu PR buat saya. Menyolidkan partai. Menjaga militansi kader. Menjaga jiwa marhaenis. PDI Perjuangan dari dulu sampai sekarang adalah partainya wong cilik,” tandasnya.

Di DPRD Nganjuk, Tatit mengajak anggota DPRD menjalankan tiga fungsi dengan baik. Yaitu, fungsi anggaran, pengawasan, dan legislasi. “Menjalankan fungsi sebaik-baiknya secara sinergi. Tidak asal kritik. Tetapi kritik yang konstruktif. Kritik sekaligus memberikan solusi,” tegasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia