Sabtu, 22 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Kolom
ANWAR BAHAR BASALAMAH

Belajar dari Pasukan Muda Leeds

17 Januari 2020, 18: 00: 42 WIB | editor : Adi Nugroho

Anwar Bahar Basalamah

Oleh: Anwar Bahar Basalamah (radarkediri)

Share this          

Leeds United pernah mengejutkan sepak bola Eropa. Tahun 2001, bermaterikan pemain muda, The Whites tampil di semifinal Liga Champions. Meski akhirnya tumbang di tangan Valencia, anak asuh David O’Leary itu telah mencatatkan sejarah penting di Benua Biru.

Bahwa, pasukan muda tidak selalu inferior. Mereka bisa jadi kuda hitam yang mampu memutarbalikkan prediksi di atas kertas. Tentu saja, pemuda yang dimaksud bukanlah anak kemarin sore yang baru belajar menendang bola. Mereka potensial dan berbakat.

Di skuad Leeds waktu itu, mereka punya deretan amunisi muda yang mumpuni. Di barisan depan, Alan Smith jadi idola bersama Mark Viduka, pria Australia. Harry Kewell sebelum populer di Liverpool adalah jaminan mutu di posisi sayap dalam skema klasik 4-4-2. Pria asal Negeri Kanguru itu dibantu koleganya, Lee Bowyer di sayap kiri.

Di lini tengah, klub yang bermarkas di Elland Road itu memercayakan pada diri James Milner. Dia ditopang oleh ketangguhan pemuda Prancis, Oliver Dacourt. Bek-bek belia juga menghiasi jantung pertahanan Leeds kala itu. Sebut saja Rio Ferdinand, Ian Harte, Danny Mills, dan Jonathan Woodgate. Di bawah mistar gawang, kehebatan itu terpancar pada sosok Paul Robinson.

Berapa usia mereka? Secara rata-rata, pasukan Leeds waktu itu masih berumur di bawah 25 tahun. Makanya, dengan kejutan yang terus diberikan dalam beberapa musim, sebutan The Young Guns layak mereka terima.

Sampai akhirnya utang dan kesulitan finansial menjerat Leeds pada musim 2002-2003. Bursa transfer yang jor-joran dan gaji selangit para pemainnya, menjadi salah satu pemicunya. Mereka kolaps lalu mengambil langkah taktis dengan menjual bintangnya.

Jadilah Ferdinand dan Smith dilego ke Manchester United. Woodgate yang digadang-gadang punya masa depan cerah, berlabuh ke Real Madrid. Begitu pula pemain-pemain potensial lain yang akhirnya memutuskan angkat kaki.

          Sukses mendapat suntikan dana segar dari penjualan pemain tak membuat Leeds bangkit. Bahkan, mereka semakin terjerembab. Di akhir musim 2004, Leeds terjun dari Liga Primer. Dan sampai sekarang mereka tak kunjung memperoleh tiket promosi ke kasta sepak bola tertinggi di Inggris itu.

          Kisah Leeds United bisa jadi pelajaran bagi sebuah klub sepak bola modern. Baik dari sisi kesuksesan dengan pilar mudanya yang penuh kejutan maupun perjalanan kebangkrutan mereka. Secara tidak langsung, Leeds memiliki dua pengalaman itu sekaligus.

          Lewat CEO Abdul Hakim Bafagih, Persik Kediri juga diarahkan ke sana. Membangun skuad muda yang sanggup berbicara di Liga 1 Indonesia. Tidak muluk-muluk dulu. Target awal skuad Macan Putih itu adalah bertahan di kompetisi. Urutan ke-10 dianggap paling realistis.

Dari 18 pemain yang dimiliki sekarang, lebih dari separonya berumur di bawah 26 tahun. Untuk rekrutan baru, penggawa muda itu bersemayam pada nama Reksa Maulana, Arif Setiawan, Ronaldo Wanma, dan Antoni Putro Nugroho.

          Di jajaran pemain lama di Liga 2 musim lalu, ada nama Septian Satria Bagaskara, Ibrahim Sanjaya, Bayu Otto, Fajar Setya, Junaidi Bakhtiar, dan Yusuf Meilana.

          Dengan pasukan mudanya, pelatih Joko Susilo tidak risau dengan kekuatan mereka. Asalkan, ada kerja keras untuk mengejar kecepatan tim-tim lain. “Kita tidak boleh berjalan. Kita harus berlari,” kata Joko.

          Secara usia, menurutnya, orang boleh menyebut pemain Persik adalah pasukan muda. Tapi secara permainan, dia tidak harus setuju dengan anggapan tersebut.

          Ucapan Joko tentu ada benarnya. Seperti Leeds, usia amunisi mereka memang muda. Tapi, pemuda-pemuda itu adalah pesepak bola yang matang dan dewasa. Mereka tahu bagaimana menyerang dengan baik. Kemudian, melakukan transisi bertahan dengan baik pula.

          Pasukan muda itu juga tahu cara memainkan ritme permainan. Tidak selalu menyerang ketika situasi belum tepat. Di sisi lain, mereka lihai melancarkan serangan balik yang mematikan. Lalu merayakan gol layaknya seorang superstar lapangan hijau. Berjingkrak dan bersorak.

          Persoalannya, dengan kekuatan pemain muda, bisakah Persik bersaing dengan klub-klub mapan di Indonesia? Tentu jawabannya tidak dapat ditulis di selembar kertas ini. Perlu pembuktian saat kompetisi mulai berjalan nanti. Maret 2020. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

 

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia