Sabtu, 22 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Politik

Pupuk Subsidi Mulai Diserbu

Gapoktan Khawatir Jadi Sasaran Petani

17 Januari 2020, 14: 47: 23 WIB | editor : Adi Nugroho

Pupuk

STOK TERBATAS: Petani membeli pupuk bersubsidi di kios Desa/Kecamatan Ngetos. Pengurangan kuota pupuk belum berdampak pada pertengahan Januari ini. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGETOS, JP Radar Nganjuk-Pengurangan kuota pupuk bersubsidi lebih dari 50 persen di Nganjuk belum berdampak Januari ini. Meski sempat terlambat, stok pupuk di kios dan gabungan kelompok tani (gapoktan) relatif aman. Hanya saja, pupuk bersubsidi mulai diserbu petani di musim tanam bulan ini.  

Ketua Gapoktan Bersinar Desa/Kecamatan Ngetos Gufron mengatakan, sejak kemarin banyak petani yang mengambil pupuk bersubsidi bersamaan di kios. Sebab, sebelumnya sempat terlambat. “Ini pupuknya baru datang langsung diserbu,” ujar Gufron sembari melihat beberapa petani yang datang mengambil pupuk.

Pupuk apa saja yang diburu petani? Ditanya demikian, Gufron menjelaskan, hampir semua jenis pupuk bersubsidi dicari petani. Mulai pupuk urea, ZA, Phonska dan pupuk lainnya.

Terkait pengurangan kuota pupuk di Kota Angin yang mencapai lebih dari 50 persen, Gufron mengaku belum mendengar kabar tersebut. Meski demikian, dia meminta agar dinas pertanian mengantisipasinya. “(Kalau kuota berkurang, Red) harus dicari cara agar kebutuhan petani tetap tercukupi,” pintanya.

Gufron menjelaskan, jika kuota pupuk bersubsidi berkurang lebih dari separo, petani akan sangat terbebani. Biaya tanam akan naik drastis. Sebab, harga pupuk nonsubsidi dua kali lipat dibanding pupuk bersubsidi.

Dia mencontohkan harga pupuk urea bersubsidi yang sekitar Rp 100-110 ribu per 50 kilogram. “Pupuk urea nonsubsidi Rp 260 ribu untuk berat 50 kilogram,” terangnya.

Adapun pupuk phonska bersubsidi sebesar Rp 120 ribu per sak. Tetapi, pupuk phonska nonsubsidi mencapai Rp 225 ribu. Kemudian, pupuk ZA bersubsidi hanya Rp 75 ribu, untuk nonsubsidi Rp 170 ribu. Terakhir, pupuk SP36 subsidi Rp 105 ribu, nonsubsidi Rp 260 ribu per sak isi 50 kilogram.

Jika Januari ini suasana masih relatif kondusif, Gufron khawatir suasana akan berubah bulan depan. Yaitu, saat petani masih membutuhkan pupuk dalam jumlah besar dan stok mulai berkurang. “Kalau memang dikurangi, dari sekarang kami juga harus antisipasi,” bebernya.

Dia mewanti-wanti agar kios atau gapoktan tidak jadi sasaran petani yang kesulitan mencari pupuk. “Bulan depan harus diantisipasi (stok pupuk, Red),” tandasnya.

Untuk diketahui, di Desa Ngetos total ada 30 hektare sawah yang masuk dalam rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK). Kebutuhan pupuk puluhan hektare lahan itu pun dipenuhi dari kuota pupuk bersubsidi.

Praktik di lapangan, terang Gufron, masih ada petani yang mencampur pupuk. Termasuk untuk memenuhi kebutuhan pupuk tanaman di area hutan. “Pupuk di hutan tidak masuk RDKK,” beber Gufron tentang praktik pemakaian pupuk yang membuat kuota semakin menipis.

Terpisah, Khanafi, 61, mengaku khawatir dengan pengurangan kuota pupuk. Sebab, jika dia harus membeli pupuk nonsubsidi sangat mahal. “Saya masih butuh banyak pupuk. Kalau beli nonsubsidi mahal,” tegas pria tua yang kemarin membeli pupuk ZA untuk tanaman padinya itu.

Seperti diberitakan, kuota pupuk Kabupaten Nganjuk tahun ini turun drastis.

Sesuai E-RDKK, tahun ini kebutuhan urea sebanyak 47.660 ton. Kemudian, ZA, 29.620. Adapun SP36, NPK, dan pupuk organik, masing-masing 20.350 ton, 43.998 ton, dan 19.599 ton.

Tetapi, alokasi pupuk bersubsidi 2020 ini kurang dari separo dibanding RDKK tersebut. Misalnya, urea hanya mendapat 23. 149 ton, ZA justru kurang dari separo. Yaitu, 10.400 ton. Kemudian, SP36, NPK, dan pupuk organik masing-masing 3.024 ton, 22.801 ton, dan 5.149 ton.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia