Selasa, 25 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Features

Anyaman Bahan Kipas asal Ngetos Tembus Lamongan

Sebulan Bisa Kirim Ribuan Lembar

17 Januari 2020, 14: 34: 20 WIB | editor : Adi Nugroho

Boks

BERDAYA: Subaidah (kanan) dan Sumarliah (tengah) membuat anyaman untuk bahan kipas di rumahnya Desa/Kecamatan Ngetos, kemarin. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Kreativitas Subaidah, 53, dan Sumarliah, 37, patut diacungi jempol. Kerja sama bibi dan keponakan asal Desa Selopuro, Desa/Kecamatan Ngetos itu membuat anyaman bahan kipas berhasil mendatangkan pundi rupiah. Pun, membuat mereka lepas dari status pengangguran.   

REKIAN, NGETOS- JP Radar Nganjuk  

Hujan deras mengguyur Dusun Selopuro, Desa/Kecamatan Ngetos, kemarin sore. Rumah bercat hijau di lereng gunung Wilis yang tak lain adalah tempat tinggal Subaidah, 53, juga tak luput. Air masuk ke teras rumah setelah diterpa angin kencang sekitar pukul 14.30.

Meski banyak warga yang memilih beristirahat, tidak demikian dengan rumah yang pintunya dibuka separo itu. Di dalamnya, Subaidah bersama Sumarliah, 37, sang keponakan, tengah sibuk menganyam potongan tipis bambu.

Ruang tengah berukuran 4x6 meter itu penuh dengan potongan bambu tipis warna-warni. Ada hijau, merah muda, dan kuning. Seolah kompak, Subaidah dan Sumarliah mengambil potongan-potongan bambu yang sudah dipisahkan berdasarkan warnanya dan menganyamnya.

Dengan terampil mereka mampu membuat anyaman yang rapi dan menarik. Tidak hanya dari perpaduan warnanya. Melainkan, selembar anyaman itu mampu memunculkan motif-motif yang berbeda dari anyaman kebanyakan. “Anyaman ini tidak boleh basah. Nanti diserang rabuk (semacam jamur seperti tepung, Red),” ujar Subaidah membuka pembicaraan.

Jika kemarin perempuan berbaju ungu itu bisa menggerakkan jari jemarinya dengan lincah untuk menganyam, proses itu rupanya tidak dilaluinya dengan mudah. Butuh waktu lama sebelum dia bisa menjadi terampil dan bisa menganyam dengan cepat. 

Apalagi membuat anyaman bahan baku kipas seperti yang digarap bersama keponakannya kemarin. “Selain menganyam, proses menyiapkan bahan juga lama,” lanjut nenek tiga cucu itu.

Dia mencontohkan, setelah memotong bambu, mereka harus mengirisnya menjadi bagian tipis-tipis agar bisa dianyam. Tidak cukup mengiris saja. Setelah bambu kering, mereka ganti membubuhkan pewarna sesuai yang diinginkan. “Setelah diberi warna harus dikeringkan lagi,” beber Subaidah tentang tahapan menyiapkan bahan anyaman.

Keterampilan menganyam bahan baku kipas itu diakui Subaidah didapat dari orang tuanya di Lamongan. Ilmu turun temurun itu tetap diterapkan meski dirinya sudah menetap di Nganjuk.

Sejak 2018 lalu, Subaidah mengajak Sumarliah keponakannya membuat anyaman bahan baku kipas setelah melihat pasarnya di Lamongan masih sangat terbuka. Keduanya antusias menganyam karena bahan baku bambu di Nganjuk masih terbilang murah.

Di Lamongan, harga satu batang bambu bisa mencapai Rp 30 ribu. Adapun di Nganjuk, dia bisa mendapatkan bambu dengan harga Rp 5 ribu. Harga bahan baku inilah yang membuat keduanya semangat untuk menganyam. “Awalnya ingin bikin kipas sudah jadi tapi tidak ada alatnya. Jadi kami hanya bisa membuat bahan bakunya saja,” sambung Sumarliah.

Awalnya mereka hanya membuat 300 lembar anyaman bahan baku kipas. Saat anak Subaidah pulang ke Lamongan, karya sang ibu itu dicoba untuk dipasarkan. Tak disangka, anyaman kipas setengah jadi itu langsung habis dibeli.

Sesuai harga pasaran, 100 lembar anyaman kipas berukuran besar dibeli Rp 60 ribu. Kemudian, untuk yang berukuran kecil Rp 30 ribu. Melihat prospek anyaman bahan kipas itu, Subaidah semakin bersemangat menganyam. “Setidaknya saya dan bulik tidak menganggur,” terang perempuan lulusan SMA itu.

Jika awalnya menitipkan penjualan kepada anaknya, kali ini Subaidah ingin mengirim sendiri anyaman kipas buatannya. Tetapi, ternyata ongkos kirim mencapai ratusan ribu rupiah.

Agar tak merugi, mereka memutuskan untuk memproduksi kipas dalam jumlah banyak lebih dulu sebelum mengirimnya. Bersama sang bibi, ibu satu anak ini menargetkan untuk membuat 60-100 lembar anyaman bahan kipas tiap harinya.

Setelah terkumpul sekitar 2.000-5.000 lembar, mereka baru mengirim ke Lamongan. Dengan jumlah itu, dua perempuan tersebut bisa mengantongi uang sekitar Rp 3 juta sekali kirim. “Bahan anyaman tidak boleh lama-lama disimpan. Maksimal dua bulan harus dikirim. Takut kena jamur,” urainya.

Sebenarnya, Subaidah dan Sumarliah bisa mendapat uang yang jauh lebih banyak jika bisa menjual kipas jadi. Sebab, satu lembar kipas dibeli dengan harga Rp 5 ribu. Tetapi, karena keterbatasan alat dan tenaga, keduanya menyerah. “Bisanya hanya membuat bahan setengah jadi. Tidak apa-apa, asalkan kami tetap bisa bekerja,” tandas Subaidah.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia