Selasa, 25 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Features

Pembelajaran Berbasis Aplikasi All In One (AIO) di SMAN 2 Nganjuk

16 Januari 2020, 14: 34: 48 WIB | editor : Adi Nugroho

MEMUDAHKAN: Rita Amalisa (kiri) bersama Cosmas Arya Satya (tengah) dan Andrik Jatmiko yang masing-masing menunjukkan fitur aplikasi AIO untuk siswa dan guru di ponselnya, kemarin.

MEMUDAHKAN: Rita Amalisa (kiri) bersama Cosmas Arya Satya (tengah) dan Andrik Jatmiko yang masing-masing menunjukkan fitur aplikasi AIO untuk siswa dan guru di ponselnya, kemarin. (Sri Utami - radarkediri.id)

Share this          

Teknologi bisa membuat apapun jadi lebih mudah dan praktis. Termasuk pembelajaran di SMAN 2 Nganjuk yang menggunakan aplikasi All In One (AIO). Saat mengajar, guru biasa mengunggah materi di sana. Bahkan, ada juga fitur tentang tagihan dan pelanggaran siswa.

SRI UTAMI, NGANJUK. JP Radar Nganjuk

“Mulai hari ini (kemarin, Red) anak-anak sudah check clock di HP (ponsel, Red) lewat (aplikasi, Red) AIO,” ujar Kepala SMAN 2 (Smada) Nganjuk Rita Amalisa, sembari menunjukkan fitur-fitur di aplikasi All In One (AIO) yang digunakan sejak 1 September lalu.

          Ditemui di ruang kerjanya sekitar pukul 14.00 kemarin, Rita, demikian Rita Amalisa biasa disapa, langsung membuka satu persatu fitur yang ada di AIO. Aplikasi yang dibuat oleh tim IT sekolah yang beralamat di Jl Anjuk Ladang itu.

Sembari mengusap layar ponsel, dia mulai membuka tujuh fitur yang tertera di sana. Mulai fitur Pembayaranku, Presensiku, Nilaiku, Daftar Guruku, Temanku, Kata Mereka, hingga fitur Profilku.

Fitur-fitur itu memuat semua kebutuhan siswa. “Nilai ulangan harian, ulangan tengah semester, sampai ulangan semester diunggah langsung oleh guru di AIO. Tidak perlu menunggu lama,” lanjut perempuan berjilbab itu sembari membuka fitur Nilaiku untuk laman siswa.

          Demikian juga fitur Presensiku yang memuat daftar absensi siswa. Tidak saja rekapan waktu kedatangan siswa. Di fitur itu juga merekap kehadiran siswa di tiap mata pelajaran. “Guru kan juga mengabsen siswa tiap memulai pelajaran di AIO,” terang Rita sembari menunjukkan poin pelanggaran yang akan didapat siswa jika mereka terlambat.

          Khusus untuk guru, mereka memiliki fitur yang lebih banyak dari siswa. Para guru bisa membuka fitur Jurnal KBM Guru, Kata Mereka, Daftar Guru, Nilai, Absensi Siswa, Data Siswa, Presensi, File Perangkat, Lihat Absen.

          Setelah membuka aplikasi AIO untuk guru, perempuan berusia 55 tahun itu kembali membuka beberapa fiturnya. “Di jurnal KBM guru ini, mereka bisa mengunggah materi dan catatan guru selama pembelajaran di kelas,” ujarnya sambil tersenyum.

          Dengan aplikasi itu, para guru lebih banyak presentasi di kelas. Tidak lagi sibuk menulis di papan tulis. Hanya guru matematika dan ilmu pengetahuan alam (IPA) yang masih menulis di papan tulis. “Itu pun saat mereka harus menjelaskan rumus. Selebihnya tidak perlu lagi,” papar perempuan kelahiran 1 Februari 1964 silam itu.

          Diakui Rita, untuk menerapkan pembelajaran yang paperless diperlukan beberapa tahapan. Meski baru melakukan grand launching AIO pada 1 September lalu, sebenarnya sekolah sudah melakukan soft launching pada 1 Juli. Sejak awal Juli itu pula, perempuan yang tinggal di Kelurahan Kartoharjo, Kota Nganjuk tersebut mulai melakukan sosialisasi. Terutama kepada para guru.

          Dengan usia yang beragam, dia mafhum jika kemampuan guru untuk beradaptasi dengan teknologi baru itu juga bermacam-macam. Karenanya, perempuan berjilbab itu juga memberi perlakuan yang berbeda. “Kalau memang yang sudah sepuh dan tidak memungkinkan lagi untuk mengejar (penerapan AIO, Red) akan didampingi oleh tim IT,” tandasnya.

          Setelah lebih dari empat bulan berjalan, Rita bersyukur penggunaan AIO yang digagas  oleh Agus Romi bersama lima orang tim IT Smada itu benar-benar memudahkan pembelajaran. Sistem paperless itu juga menghemat biaya pembelian kertas.

          Meski belum bisa menyebut besaran nilai penghematan akibat penerapan teknologi dalam pembelajaran itu, Rita memastikan jika dampaknya sangat positif. “Sekarang sampah kertas sangat sedikit. Dulu saya pertama kali masuk sangat banyak,” tutur perempuan yang menjabat kepala Smada sejak 1 Januari 2019 lalu itu.

          Tak hanya hemat biaya, siswa juga mengaku sangat terbantu dengan penerapan AIO. “Saya jadi bisa melihat langsung nilai tiap ulangan. Sekaligus untuk evaluasi. Mana pelajaran yang harus ditingkatkan dan yang dipertahankan,” papar Cosmas Arya Satya, siswa kelas X IPS 1.

          Tidak hanya soal nilai, Cosmas juga termotivasi untuk bangun lebih pagi agar tidak terlambat ke sekolah setelah diterapkan sistem absen online lewat AIO mulai kemarin. “Saya harus bangun pagi agar tidak terlambat dan mendapat poin pelanggaran,” kelakarnya sambil tersenyum.

          Melihat respons anak didiknya, Rita juga membalas dengan senyum. Dia memastikan fitur-fitur AIO tidak akan berhenti di sini. Dia akan meminta tim IT untuk terus mengembangkannya.

          Yang terdekat, dia akan meminta agar ada fitur rating untuk menilai pembelajaran tiap guru. Ke depan, usai pembelajaran siswa bisa memberi rating indikator kepuasan mereka terhadap materi yang disampaikan guru. “Tidak apa-apa. Kita harus siap. Anak-anak juga berhak menilai. Ini demi kemajuan bersama,” katanya tersenyum ke arah Andrik Jatmiko, guru seni yang jadi salah satu anggota tim IT Smada.

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia