Sabtu, 22 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Politik

Kampung Tanjung Baru, Daerah Relokasi Warga Terdampak Bandara Kediri

16 Januari 2020, 14: 24: 11 WIB | editor : Adi Nugroho

tanjung baru bandara kediri

CIKAL: Permukiman warga di Dusun Bedrek, Desa Grogol, Kecamatan Grogol, yang disebut sebagai Tanjung Baru. Di lokasi ini telah disiapkan area untuk tukar guling bagi  warga terdampak bandara yang tak ingin pindah terlalu jauh dari lokasi lama. (Didin Saputro - radarkediri)

Share this          

Nama Dusun Tanjung boleh saja sudah lenyap dari peta Desa Grogol. Berganti menjadi area untuk bandar udara (bandara). Namun, ada daerah baru yang banyak orang ingin berpindah ke tempat itu. Terutama warga korban pembebasan lahan bandara. Nama daerah itu Tanjung Baru.

Bila dicari dari google maps, Dusun Tanjung berada pada koordinat 7 derajat lintang Selatan serta  111 derajat bujur Timur. Namun, dusun yang awalnya menjadi bagian dari Desa Grogol, Kecamatan Grogol, ini boleh disebut sudah hilang dari peta desa. Berubah menjadi salah satu titik penting dari area bandara Kediri yang segera dibangun mulai tahun ini.

Dusun Tanjung sendiri menjadi titik penting pada pembangunan bandara. Karena itu menjadi target pembebasan lahan yang paling awal. Di dusun inilah pangkal dari landas pacu bandara yang konon kabarnya sepanjang 3 ribu meter tersebut.

Jumlah penduduk di dusun ini juga tak terlalu banyak. Hanya sekitar 20 kepala keluarga (KK). Secara administrasi juga hanya terdiri dari satu wilayah rukun tetangga (RT). “Dusun Tanjung (lama) memang daerah sempalan, jadi penduduknya sedikit,” terang Kepala Desa Grogol Suparyono.

Meskipun Dusun Tanjung sudah hilang dari ‘peredaran’ bukan berarti nama Tanjung ikutan lenyap. Karena ada perkampungan anyar yang juga mengambil nama tanjung. Yaitu Tanjung Baru. Perkampungan ini berada di Dusun Bedrek Selatan. Banyak warga yang ingin menghuni permukiman bentukan baru ini. Terutama mereka yang jadi objek pembebasan tanah untuk lahan bandara. Karena itu bukan mustahil di masa depan akan menjadi dusun tersendiri secara administratif.

Suparyono mengatakan, saat ini proses pembebasan lahan yang belum selesai adalah di Dusun Bedrek Selatan. Rata-rata warganya telah diberi alternatif jika nanti benar-benar direlokasi. Bahkan warga di sana juga sudah memiliki solusi dengan mempertimbangkan perpindahan tempat tinggal ke lokasi lain. Baik ke desa lain maupun ke luar kota.

“Tapi yang paling disukai adalah Tanjung Baru. Karena tetap menjadi tetangga dengan yang lain,” kata Suparyono.

Apalagi lokasi Tanjung Baru  tak terlalu jauh dari permukiman awal. Hal itu menjadi salah satu alasan warga melirik daerah ini. Hanya saja, Paryono menyebut, kendala saat ini adalah lahan yang terbatas. “Sekarang masih 7 ribu meter persegi,” imbuhnya.

Artinya, permukiman baru itu luasnya tak ada satu hektare. Dengan total bangunan sementara ini berjumlah 9, itu pun termasuk dengan musala. Suparyono mengaku jumlah itu akan semakin bertambah ke depannya. Sebab, saat ini ada dua kavling lahan yang belum dibangun rumah oleh pemiliknya.

Ia juga menerangkan, lokasi ini ke depan rencana akan dikembangkan oleh PT Surya Dhaha Investama (SDhI) selaku pengembang. “Bahkan musala ini juga wakaf dari SDhI. Yang bangun mereka,” ungkapnya.

Sementara untuk rumah warga, dibangun sendiri-sendiri secara swadaya. Suparyono hanya menyediakan lahan yang rata-rata mereka membeli minimal seluas 40 ru (sekitar 560 meter persegi). “Sebenarnya banyak yang minat, tapi tidak bisa karena tanah saya terbatas,” tandasnya.

Tanahnya itu memang menjadi aset pribadi Suparyono jauh sebelum ia menjabat kepala desa. Itu ketika ia masih bekerja di PT Freeport, Irian Jaya. Ia mengaku sebenarnya masih ada tanah seluas 1.700 meter persegi. Masih ada satu bidang yang belum terjual. Hanya saja, itu terhambat satu bidang lahan milik orang lain yang hingga kini belum dinegosiasi.

Ia mengatakan, jika ke depan lahan di sekitar Tanjung Baru ini bisa dijadikan permukiman. Bisa jadi, lokasi ini bisa menjadi dusun baru di Desa Grogol.

“Saat ini masih ikut RT di Bedrek Selatan. Nanti kalau sudah banyak rumah pasti akan dijadikan 1 RT sendiri. Bisa juga jadi dusun sendiri,” jelasnya.

Keberadaan Tanjung Baru ini tak lepas dari keinginan warga Tanjung yang sekarang terdampak pembangunan bandara. Mereka ingin tetap bertetangga satu sama lain. “Dulu itu kita pengen tetap kumpul satu RT. Karena lahan sini terbatas jadi akhirnya ada beberapa yang mencar (terpisah, Red),” kata Joko Waluyo, salah satu warga.

Bahkan, salah satu SD yang terdampak yakni SD Pelangi Bangsa juga pindah dekat dengan lokasi Tanjung Baru. Meski sudah berbeda dusun, setidaknya sekolah itu jaraknya hanya 200 meter saja dari permukiman anyar ini.

Seperti diberitakan sebelumnya, keluhan ada warga tak mampu untuk membeli lahan telah disikapi oleh PT SDhI dan Pemkab Kediri. Salah satunya yaitu dengan menyiapkan lahan untuk tukar guling. Lahan ini hanya untuk warga yang kurang mampu sesuai dengan data base desa dan dinas sosial. Bahkan kemarin sudah ada dua warga kurang mampu di Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan, dan Desa Grogol yang mendapat dana santunan Rp 30 juta. Itu bisa untuk kepentingan membangun rumah.

Direktur SDhI Maksin Arisandi mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan lahan tukar guling yang berlokasi di daerah Tanjung Baru. Lahan ini rencananya diutamakan untuk warga yang kurang mampu. Dan belum ditransaksikan untuk dijadikan permukiman baru.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia