Sabtu, 22 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Features

Pasien Ganti Kelamin asal Kediri Belum Ganti Status, Ini Kendalanya

16 Januari 2020, 14: 08: 51 WIB | editor : Adi Nugroho

anang ganti kelamin

SEKARANG: Anang memegang foto masa kecilnya, yang menjadi cantrik perempuan, kemarin. (Mualifu Rosyidin - radarkediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Anang Soetomo, pria asal Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, belum benar-benar bisa menikmati status genitalnya sebagai laki-laki. Sebab, pemuda yang awalnya bernama Ani Kasanah ini masih harus menunggu operasi tahap ketiga.

Sayangnya, waktu menunggu itu tak sebentar. Sejak selesai menjalani operasi keduanya, sudah hampir tiga tahun ini jadwal operasi ketiga belum juga keluar.

“Daftar operasi ketiga sudah bulan sepuluh 2016 Mas,” aku Anang, saat ditemui di rumahnya kemarin (15/1).

Menurut keterangannya, operasi kedua sudah dia lalui Oktober 2016. Setelah itu dia langsung mendaftarkan diri untuk operasi ketiga. Sayang, hingga kemarin belum ada kejelasan kapan pelaksanaan operasi tersebut.

Bahkan, dalam masa tunggu hingga saat ini, keluarga Anang belum mendapat kabar dari pihak RS Dr Soetomo Surabaya. Ataupun pihak-pihak lain yang mengurus kelanjutan operasinya. Padahal, menurutnya, operasi ketiga ini juga sangat penting. Merupakan kelanjutan operasi tiga tahun silam. Salah satunya adalah pemindahan saluran kemih yang sebelumnya masih selayaknya perempuan.

Sebenarnya, setelah operasi kedua dulu akan langsung dilanjutkan operasi ketiga. Namun karena harus menjalani ujian sekolah yang waktunya berdekatan dengan waktu operasi, pihak rumah sakit menunda pelaksanaannya. Hingga Anang selesai menjalani ujian itu. Ternyata, hingga saat ini operasi tak kunjung terjadi.

Anang mengaku juga sudah sempat menjalani pemeriksaan medis. Serta sudah mendapatkan antrean kamar untuk opname. Namun karena terkendala jadwal ujian sekolah, Anang dipulangkan ke rumahnya sambil menunggu jadwal operasi selanjutnya.

Saat berhubungan dengan rumah sakit, nomor telepon yang tercatat adalah milik kakak Anang. Dan hingga saat ini sang kakak juga belum pernah dihubungi oleh pihak rumah sakit.  “Larene nggih bingung Mas, ngrantos mboten wonten kabare (anaknya juga bingung, menunggu tidak ada kabarnya, Red),” jelas Tutik, 55, ibu kandung Anang.

Sementara itu, sejak lulus dari SMP, Anang tak lagi melanjutkan sekolah. Alasannya, karena terkendala biaya. Karena itu, sehari-hari Anang beraktivitas di ladang. Membantu kedua orang tuanya. Setiap hari dia berangkat pagi dan pulang menjelang sore.

Anang mengaku masih ingin melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMA. Jika memang dirinya dapat sekolah lagi, dirinya akan sangat senang. Dirinya yang dahulu selalu minder dan menjadi bahan ejekan teman sekolahnya, saat ini sudah tidak lagi berpikiran demikian. “Pun mboten Mas, santai sakniki kulo (sudah tidak (minder) Mas, sekarang saya santi, Red),” terangnya sambil tersenyum lebar.

Yang membuatnya minder hingga saat ini adalah karena dirinya belum mempunyai akta baru perihal perubahan nama dan jenis kelamin. Info dari perangkat desa, pemindahan status itu dapat diproses jika Anang sudah menjalani operasi terakhirnya. Yang menyatakan dirinya memang pria. Dengan alasan tersebut pihak desa tidak dapat memproses. Pihak lanjutan seperti Dispendukcapil juga menyatakan syarat pengurusan akta seperti perubahan nama harus melalui persetujuan dari desa dahulu. “Malih larene mboten saget tumut nyoblos mas (akibatnya Anang tidak bisa ikut pemilu, Red),” pungkas Tutik.   

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia