Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Kisah Kasiyanto yang Nyaris Celaka saat Rumahnya Diterjang Hujan Es

Terbangun ketika Mendengar Suara Tembok Retak

14 Januari 2020, 13: 02: 56 WIB | editor : Adi Nugroho

kasiyanto

TINGGAL RANGKA: Kasiyanto berdiri dengan latar belakang rumahnya yang hancur saat hujan disertai es mengguyur pada Sabtu (11/2) lalu. (Mualifu Rosyidin - radarkediri)

Share this          

Kasiyanto terbangun dari tidur pulasnya saat hujan deras mengguyur siang itu. Sempoyongan dia berjalan ke luar kamar. Sejurus kemudian, dinding kamarnya itu runtuh. Nyaris menimpa dirinya.

MUALIFU ROSYIDIN AL FARISI, Kabupaten, JP Radar Kediri

Rumah di Dusun Jati, Desa Jati, Kecamatan Tarokan itu sudah tak berbentuk sempurna lagi. Dinding-dindingnya banyak yang hilang. Ambruk dan menyisakan puing-puing yang berserakan di sekitarnya. Atapnya juga rusak. Sebagian besar gentingnya sudah tak berbentuk. Pecah berkeping-keping. Hanya menyisakan rangka atap yang terbuat dari kayu.

Seorang lelaki berdiri di bawahnya. Memeriksa beberapa batang bambu yang menyangga kerangka atap. Tangan kiri pria ini berada di kain jarit yang kedua ujungnya terikat di pundaknya. Menandakan sang lengan sedang sakit.

Lelaki itu adalah Kasiyanto, si pemilik rumah. Dia nyaris saja jadi korban saat hujan deras mengguyur desanya, Sabtu (11/1). Yang disertai gumpalan es sebesar jempol tangan.

“Kira-kira (hujannya) jam setengah dua,” kenang Kasiyanto.

Lelaki 59 tahun itu belum bisa melupakan peristiwa itu dari benaknya. Saat es berdiameter hingga 5 sentimeter menerjang rumahnya. Membuat rumah itu nyaris roboh seluruhnya. Tembok dua kamarnya habis tak tersisa. Menyisakan rangka atap yang menggantung tanpa penyangga.

Saat hujan lebat itu pria dengan empat anak ini  tengah pulas di kamarnya, di bagian belakang rumah. Beruntung dia segera terbangun. Meskipun dalam kondisi setengah sadar, dia mendengar suara tembok yang berkeretak. “Keretek....keretek...keretek..,” ujarnya menirukan suara tembok retak itu.

Dia pun berjalan ke luar kamar. Dengan sempoyongan.  Kemudian berhenti tepat di pojok belakang kamar. Saat itulah tembok di belakangnya runtuh. Genting juga meluncur keras ke lantai. Menimpa dapur dan seisinya.

Kusen pintu kamar yang sebelumnya berdiri tegak juga patah berkeping. Patahannya meluncur ke arahnya. Mengenai lengan kiri. Seketika tubuhnya terkulai. Kesakitan. Lumuran darah memenuhi tangan kirinya. Material rumah juga hampir menimbun dirinya.

Ini Sukarti, 38, sang istri, yang saat itu di bagian depan langsung berlari ke belakang bersama dengan beberapa tetangga. Mereka segera menolong Kasiyanto. Para tetangga kemudian membopongnya ke tempat yang lebih aman. Sementara Sukarti, ketika melihat kondisi suaminya langsung pingsan.

“Tak kuat, kaget karena banyak darahnya. Kasihan,” kata Sukarti, sambil matanya berkaca-kaca.

Untungnya Kasiyanto hanya luka ringan. Hanya memar dan luka gores saja di tangan kirinya itu. Dia masih bisa membantu tetangganya yang berusaha mencari penyangga atapnya yang nyaris runtuh. Mereka mengganjal dengan empat batang bambu. “Bila tidak (disangga) bisa (runtuh) sampai depan,” terangnya.

Hasil asesmen dari BPBD Kabupaten Kediri, kerusakan rumah dikategorikan sedang. Karena dua kamar dan dapur masih bisa difungsikan. Bagian yang roboh sepanjang 6 meter. Selain itu peralatan dapur juga rusak seluruhnya.

Minggu pagi (12/1) kemarin, tetangga sekitar bergotong royong untuk membersihkan reruntuhan. Dan sedikit melakukan perbaikan di bagian belakang. Agar tidak membahayakan penghuni rumah maupun bangunan milik tetangga.

Kondisi Kasiyanto juga berangsur membaik. Akan tetapi tangannya yang terluka masih sulit digerakkan karena nyeri. Kain selendang menjadi pembantu topangan tangan kiri Kasiyanto sambil ikut bergotong royong bersama tetangganya. Meskipun tidak banyak dilakukannya. “Alhamdulillah, bapak tasik diparingi seger waras (masih diberi keselamatan, Red),” ucap syukur Sukarti.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia