Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Tinggalan dari Kampung Perajin Anyaman Bambu di Dusun Sukodono, Ngetos

Bertekad Tak Pensiun sebelum Ada Penerus

14 Januari 2020, 12: 33: 25 WIB | editor : Adi Nugroho

FINISHING: Sarimin menyelesaikan pesanan tumbu dari pelanggannya. Meski tidak lagi banyak peminat, dia bertekad untuk terus menjadi perajin anyaman bambu agar keterampilan menganyam tak punah.

FINISHING: Sarimin menyelesaikan pesanan tumbu dari pelanggannya. Meski tidak lagi banyak peminat, dia bertekad untuk terus menjadi perajin anyaman bambu agar keterampilan menganyam tak punah. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Pernah jaya di tahun 1970-an, kini penjualan keranjang dari anyaman bambu atau tumbu terus merosot. Warga yang dahulu menjadi perajin pun beralih pekerjaan. Kini, tinggal Sarimin yang bertahan. Dia belum mau “pensiun” sebelum ada penerusnya.

 

REKIAN, NGETOS - JP Radar Nganjuk

Membuat tumbu atau keranjang dari anyaman bambu, bukan sekadar pekerjaan bagi Sarimin. Maklum saja, pria yang kini berusia 70 tahun itu sudah menekuninya sejak muda. Tepatnya sejak dia berusia 20 tahun atau tepat pada 1970 silam. 

          Selama lima puluh tahun bergelut dengan anyaman bambu, tangannya terlihat terampil merangkainya. Hanya dalam hitungan menit, dia bisa mengubah potongan-potongan tipis bambu itu menjadi anyaman. “Sehari bisa membuat tiga tumbu,” ujarnya sembari terus menganyam.  

          Jika saat ini Sarimin hanya menekuni kerajinan anyaman bambu sendiri, tidak demikian halnya pada 1970-an silam. Saat itu, hampir semua warga di Dusun Sukodono, Desa/Kecamatan Ngetos, menjadi perajin anyaman bambu. “Anak-anak muda dulu juga belajar menganyam bambu,” kenangnya.

          Minat warga untuk menganyam selaras dengan permintaannya yang tinggi. Saat itu tumbu memang begitu diminati. Apalagi, tumbu juga memiliki banyak fungsi. Mulai tempat nasi, sayuran, hingga tempat jajanan dan buah-buahan.

          Saking banyaknya warga yang menekuni pembuatan tumbu, Dusun Sukodono pernah menjadi sentra anyaman bambu puluhan tahun lalu. “Kami memakai bahan bambu apus,” lanjut Sarimin ditemui di rumahnya sekitar pukul 15.30, Minggu (12/1) lalu.

          Hingga kini, bambu apus masih banyak didapati di Ngetos. Dia pun mengaku tak pernah kesulitan mendapatkan bahan bakunya. Sarimin dan para penganyam lainnya sengaja memilih bambu jenis ini karena beberapa kelebihan.

          Yaitu, teksturnya yang lembut. Sehingga, mudah dibentuk. “Kalau bambu jenis lain kaku. Tidak mudah dibentuk,” tuturnya sembari menunjukkan potongan tipis bambu apus yang bisa dengan mudah dianyam menyesuaikan bentuk yang diinginkannya.

          Sembari terus menganyam, ingatan Sarimin melayang pada puluhan tahun silam. Kala itu, dia mengaku belajar menganyam dari orang tuanya. Keterampilan yang didapat secara turun temurun itu dianggapnya sebagai warisan.

          Karenanya, di usia senjanya seperti sekarang, dia ingin agar keterampilan itu juga ada yang mewarisi. Sayangnya, anak-anak Sarimin tidak ada yang menguasainya. Anak-anak pria yang rambutnya memutih itu mayoritas memilih merantau. Menekuni pekerjaan lainnya. “Tidak ada penerusnya,” keluh bapak empat anak itu.

          Makanya, Sarimin memilih untuk terus melanjutkan aktivitasnya. Jika sedang tidak ada pesanan, dia tetap menganyam tumbu setiap hari. Meski, dalam seminggu kini dia hanya menyelesaikan lima tumbu saja.

          Sebaliknya, jika sedang ada pesanan, dia berusaha menuntaskan sesuai permintaan pembeli. Dibantu Yatini, 56, istrinya, pasangan suami-istri (pasutri) lansia ini berusaha menuntaskan pesanan tepat waktu.

          Seperti Minggu (12/1) lalu, Sarimin mendapat pesanan 30 tumbu. Jumlah tersebut harus bisa dituntaskan dalam waktu tiga minggu. Jika tenggat habis, pembeli yang akan mengambilnya di rumah. “Mereka (tengkulak, Red) yang datang ke sini. Pesan langsung,” tutur pria yang juga mulai bekerja di sawah karena jumlah pesanan yang terus turun itu.

          Dengan proses yang relatif rumit dan membutuhkan ketelitian, Sarimin tidak membanderol mahal hasil karyanya. Satu tumbu berukuran kecil dijual Rp 5 ribu. Sedangkan tumbu yang lebih besar dijual seharga Rp 7 ribu dan Rp 10 ribu.

          Sebenarnya, Sarimin bisa mendapatkan harga yang lebih bagus jika mau datang ke pasar. Tumbu paling kecil bisa laku Rp 7 ribu. Kemudian, tumbu yang lebih besar Rp 11 ribu. “Yang paling besar kalau di pasar bisa laku Rp 15 ribu,” urainya.

          Dengan harga satu batang bambu apus Rp 5 ribu, sebenarnya keuntungan yang didapatnya bisa jauh lebih banyak jika bisa menjual langsung ke pasar. Tetapi, pilihan itu baru diambilnya jika stok tumbu buatannya sudah berlimpah dan tidak ada tengkulak yang mengambil.

          Sebaliknya, jika dia dan istrinya masih harus menuntaskan pesanan, dia memilih untuk menyelesaikan tumbu tersebut. “Kalau pesanan kan rutin. Untuk jual di pasar itu hanya kalau ada barang banyak saja,” bebernya.

          Berbeda dengan para tengkulak yang biasa mengambil tumbu darinya, Sarimin memang tidak memiliki keinginan yang muluk-muluk. Pria sederhana ini hanya ingin terus menganyam bambu. “Mau bagaimana lagi, tidak ada yang meneruskan. Jangan sampai keterampilan ini punah,” tandasnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia