Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Rumah Ambruk Timpa Satu Keluarga di Kapas, Sukomoro, Nganjuk

Terluka, Poniran Dijahit di Pelipis dan Paha

14 Januari 2020, 11: 53: 20 WIB | editor : Adi Nugroho

LAPUK: Genting rumah Poniran, 45, di Kelurahan Kapas, Sukomoro berserakan setelah atap rumahnya ambruk dini hari kemarin. Selain membuat tiga orang luka-luka, bencana tersebut juga menimbulkan kerugian senilai puluhan juta rupiah.

LAPUK: Genting rumah Poniran, 45, di Kelurahan Kapas, Sukomoro berserakan setelah atap rumahnya ambruk dini hari kemarin. Selain membuat tiga orang luka-luka, bencana tersebut juga menimbulkan kerugian senilai puluhan juta rupiah. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

SUKOMORO, JP Radar Nganjuk - Nasib malang dialami Poniran, 45, warga Kelurahan Kapas, Sukomoro dan keluarganya. Dini hari kemarin mereka tertimpa atap rumahnya yang ambruk. Akibat kejadian itu, Poniran bersama istri dan anak sulungnya menderita luka-luka.

          Data yang dihimpun koran ini menyebutkan, atap rumah berdinding batu bata itu ambruk sekitar pukul 02.30, kemarin. Saat kejadian, Poniran, bersama Ranti Purmawanti, 37, istrinya, serta M. Nur Angga, 10, anak sulungnya, dan M. Abid Aqil, 4, tengah terlelap tidur.

Sumiati, 37, kerabat korban yang rumahnya berdampingan dengan Poniran menuturkan, saat rumah saudaranya itu ambruk, suara dentuman terdengar sangat keras. “Saya terbangun karena ada suara ambruk. Lalu, saya lihat (rumah Poniran, Red) sudah rata dengan tanah,” ujarnya saat ditemui Jawa Pos Radar Nganjuk, kemarin siang.

Bersama anggota keluarga lainnya, Sumiati berusaha menolong Poniran dan keluarganya. Sumiati tahu benar jika Poniran dan keluarganya tidur di satu kamar. Karenanya, setelah mengetahui rumahnya ambruk, warga langsung berusaha membongkar bangunan dan mencari kamarnya.

Nahas, saat pintu kamar berusaha dibuka warga kesulitan. Sebab, pintu terganjal reruntuhan. “Dari dalam kamarnya terdengar korban teriak-teriak minta tolong,” lanjut Sumiati.

Akhirnya, pintu kamar itu dibuka paksa. Sekeluarga itu pun terlihat tertimpa reruntuhan atap rumah mereka. Ranti tengah memeluk Abid, anak bungsunya. Meski sang anak bungsu tak terluka, Ranti harus menderita sakit dan luka di punggung kirinya.  

Adapun Angga mengalami luka di pelipis kiri. Luka paling parah diderita Poniran. Pelipis kanan dan paha kirinya robek hingga mengeluarkan darah segar. Setelah dievakuasi, mereka langsung dilarikan ke RSUD Nganjuk. “Saya minta tolong ke salah satu tetangga. Tetangga lainnya masih tidur,” terang Sumiati.

Di RSUD Nganjuk, ketiganya langsung dimasukkan ke IGD. Luka Poniran dijahit. Paha kirinya mendapat 18 jahitan, sedangkan pelipisnya mendapat 13 jahitan. Sementara luka di pelipis kiri Angga cukup perban. Adapun Ranti cukup mendapat obat karena hasil rontgen menunjukkan punggungnya tidak apa-apa.

Sementara itu, selain memakan korban manusia, insiden tersebut juga menimbulkan kerugian materiil yang cukup besar. Pasalnya, reruntuhan tersebut menimpa perabotan rumah seperti alat dapur dan sebagainya.  Tak hanya itu, alat elektronik berupa televisi dan kipas juga rusak. “Televisinya pecah,” tandas Sumiati.

Kemudian, reruntuhan atap juga menimpa empat unit sepeda motor, dan dua sepeda angin yang dititipkan di rumah milik Poniran. Lurah Kapas Budi Utomo mengungkapkan, total kerugian yang diderita Poniran diperkirakan sekitar Rp 50 juta. “Tadi (kemarin, Red) sudah dilakukan penghitungan,” ujarnya.

Atas kejadian tersebut, Budi langsung mengerahkan warga dan perangkatnya untuk kerja bakti. Sekitar pukul 06.00 mereka gotong-royong membersihkan sisa-sisa reruntuhan yang ada di sana.

Terpisah, Koordinator Tagana Nganjuk Aries Trio Effendi mengatakan, pihaknya juga langsung turun ke lapangan. Mereka turut membantu korban dan memberikan bantuan. Antara lain perlengkapan harian, makanan siap saji, dan terpal. “Kejadian ini termasuk bencana sosial,” pungkas Aris. (tar/ut)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia