Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Romo Hardo, Pastur yang Peduli Lingkungan Hidup

Kampanyekan Sukun untuk Penghijauan

13 Januari 2020, 18: 59: 48 WIB | editor : Adi Nugroho

romo hardo

LESTARI ALAM: Romo Hardo (kanan) bersama Dandim Letkol Kav Dwi Agung Sutrisno, Camat Ngancar Elok Etika, dan pengusaha Doni Hartono saat kegiatan penghijauan. (Puspitorini Dian - radarkediri)

Share this          

Dikenal sebagai pastur pengelola Gubug Lazaris, Romo Hardo CM berusaha terus mengenalkan pertanian organik ke masyarakat. Termasuk melakukan penghijauan di sejumlah tempat yang rawan bencana.

PUSPITORINI DIAN H., Kabupaten, JP Radar Kediri

Lokasi penghijauan itu berada di lereng Gunung Kelud. Tepatnya di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar. Ada ratusan peserta yang mendatangi lokasi yang berada di Kebun Obat Gunung Kelud.

Acara dimulai pukul 08.00, peserta memadati jalur penghijauan yang menuju puncak Gunung Kelud itu. Setidaknya ada sekitar 5 hektare (ha) lahan yang ditanami.

Selain masyarakat setempat, terlihat kegiatan penanaman bibit pohon tersebut juga melibatkan anggota TNI dari Kodim 08/09 Kediri. Tampak hadir Komandan Kodim (Dandim) 08/09 Letkol Kav Dwi Agung Sutrisno yang membawa serta para anggotanya untuk penghijauan.

Ada pula pengelola Hutan Obat Mbambingan Wahyu, Camat Ngancar Elok Etika, dan pengusaha Doni Hartono. Mereka bergabung bersama dengan rombongan dari Gereja Santo Yoseph Kediri.

Salah satu yang terlihat aktif adalah Romo Hardo. Melebur dengan masyarakat lainnya. Penampilannya kasual. Bercelana jins, kaus oblong putih, dan memakai topi biru, Romo terlihat tak beda dengan peserta penghijauan lainnya. Senyum pun terus terukir di wajahnya.

Bagi yang bergerak di bidang pembinaan lingkungan atau aktivis lingkungan, sosok Romo yang satu ini pasti sangat dikenal. Romo 53 tahun tersebut memang dikenal dengan Gubug Lazaris yang menggaungkan Gerakan Peduli Lingkungan Hidup.

“Setiap tahun, kami konsisten mengadakan penghijauan. Terutama di lokasi yang rawan bencana,” tutur Romo Hardo.

Setiap kali penghijauan, dia berupaya mengajak masyarakat dan tokoh masyarakat untuk turut terlibat. Seperti yang dilakukannya bersama Dandim Dwi Agung, Minggu kemarin (12/1).

“Beliau kebetulan mampir ke Gubug Lazaris. Kami mengajak terlibat, dan beliau menyambut baik,” bebernya.

Kala itu, selain 2000 tanaman dari Gubug Lazaris, ada lebih dari seribu tanaman yang dibawa oleh Dandim. Belum lagi tambahan dari pengelola Hutan Obat. Sehingga total ada sekitar 4 ribu tanaman yang ditanam.

Seperti misi yang diusungnya, Romo Hardo memang konsisten di bidang perlindungan ekologi. Mendirikan Gubug Lazaris sejak 13 tahun lalu, dirinya mengawali dengan memberikan edukasi tentang tanaman organik.

Bagi pastor yang tergabung dalam komunitas Congregatio Mission ini, dirinya memang berkutat di bidang pertanian. Di tempatnya yang berada di Desa Sambirejo, Kecamatan Pare inilah dikembangkan program edukasi lahan pertanian yang sehat.

Mulai pertanian untuk kebutuhan sehari-hari, buah, pengelolaan pupuk hingga peternakan. Karena itu, di tempatnya, dia menyiapkan produk-produk tanaman organik, mulai buah-buahan, padi, jagung, hingga susu dari peternakan yang dikelola secara organik.

Begitu juga dengan tanaman buah sukun yang dibawanya untuk penghijauan. Bukan tanpa alasan, pemilik nama lengkap Romo Markus Marcelinus Hardo Iswanto CM ini memilih tanaman tersebut.

Menurutnya, banyak kelebihan yang dimiliki buah sukun untuk dijadikan tanaman penghijauan. “Ini sudah tahun kedelapan kami kembangkan Sukun,” tuturnya.

Buah Sukun memberikan manfaat besar untuk tanaman penghijauan. Selain, umbinya bisa dimanfaatkan sebagai pengganti tepung terigu dan makanan pokok, sukun memiliki dahan dan daun pohon yang rindang. Sehingga cocok untuk konservasi bencana. Khususnya untuk menjaga mata air.

Kemudian kelebihan lainnya adalah kayu sukun tidak bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan industri atau ditebang. “Jadi akan awet untuk konservasi karena tidak bisa ditebang,” bebernya.

Konsisten menjaga ekosistem ini memang menjadi perhatian dari Romo Hardo. Sehingga baginya, lebih baik mementingkan antisipasi atau pencegahan dengan banyak menanam daripada menunggu bencana datang. Karena pentingnya tanaman sukun inilah, dirinya pun terus mengembangkan bibitnya.

Seperti ketika kegiatan penghijauan itu, dari Gubug Lazaris yang telah memiliki puluhan pegawai dan relawan ini, menyumbang sekitar 3 ribu bibit sukun. Romo Hardo berharap, umbi tanaman buah ini bisa dimanfaatkan masyarakat yang membutuhkan. Tetapi, pohonnya tetap menjadi tanaman konservasi sehingga penghijauan pun terjaga. “Saya masuk komunitas Sukun Internasional. Prospeknya sangat besar,” pungkasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia