Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Politik

Tawon Endas Menyerang, Jaket Caping Disiapkan

13 Januari 2020, 18: 51: 40 WIB | editor : Adi Nugroho

serangan tawon

FUNGSI PRAKTIS: Supriyadi mengenakan jaket caping yang digunakan untuk melindungi dari sengatan tawon endas di kantor PMK Kabupaten Kediri, kemarin (12/1). (Rendi Mahendra - radarkediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri — Pasukan memadamkan kebakaran (PMK) harus bersiap menangani serangan vespa affinis atau tawon endas. Pasalnya, akhir-akhir ini masih banyak pengaduan warga terkait keberadaan sarang tawon yang dikenal ganas tersebut.

          “Karena itu kami harus mampu untuk bertindak kreatif,” ujar Supriyadi, anggota PMK Kabupaten Kediri, kepada koran ini, kemarin.

Hal itu, diakui dia, karena selama ini PMK belum memiliki alat khusus untuk menangani tawon endas. Maka salah satu tindakan kreatif itu adalah membikin sendiri jaket khusus. Tujuannya, agar saat menangani tawon endas, petugas tidak tersengat.

Menurut Supriyadi, jaket tersebut dibuat oleh anggota PMK untuk pengamanan ketika menangani tawon yang dikenal dengan sebutan Vespa itu. Pasalnya, jika anggota PMK menggunakan jaket yang biasa dipakai untuk memadamkan api (firemans), bahannya terlalu berat.

Sehingga petugas yang mengenakannya susah untuk bernapas. “Karena itu kami membuat sendiri jaket yang bisa digunakan untuk menanggulangi serangan tawon,” paparnya.

Supriyadi menyebut, namanya jaket caping. Hal tersebut disesuaikan dengan kondisi bentuknya. Sebab, jaket tersebut terbuat dari topi caping dan jarring. “Dengan mengenakan jaket ini, anggota PMK bisa terlindung,” jelasnya.

Jaket yang digunakan untuk menangani tawon endas itu memang sederhana. Perlengkapannya hanya berupa caping dan jaring yang dililitkan ke sisi pinggir caping. Jika jaket tersebut dipakai, jaringnya menjuntai ke bawah dan menutup sebagian tubuh. Dengan demikian, si pemakai bisa leluasa untuk bergerak.

“Alatnya sengaja dirancang sederhana dan memang harus ringan. Jika menggunakan jaket untuk memadamkan api yang biasa kita pakai, terlalu berat dan susah bernapas,” ulasnya.

Seandainya mengenakan firemans, Supriyadi mengakui, bakal menyulitkan kalau ada sarang tawon endas yang tempatnya tinggi. Misalnya, seperti di dahan pohon atau di atap rumah. “Dengan pakaian khusus memadamkan api, kita akan kesusahan naik tangga. Berbeda jika pakai jaket caping yang kita buat sendiri,” terangnya.

Kini Supriyadi selalu menggunakan jaket caping itu untuk menangani tawon endas. Sebab sebelumnya, dia mengungkapkan, dirinya pernah disengat tawon endas saat bertugas. Supriyadi sempat menunjukkan luka sengatan itu. Luka entup  itu berupa titik hitam sebesar kacang polong.

Letaknya berada di tangan kiri dekat pergelangan tangan dan luka yang lain berada di tangan kanan dekat siku. “Selain di tangan, ada juga luka di paha kanan Mas. Lukanya sama, di paha juga menghitam,” jelasnya pada Jawa Pos Radar Kediri

Dari pengalaman disengat itu, Supriyadi dan anggota PMK yang lain berinisiatif membuat jaket caping. Sebab perlengkapan khusus tangkal tawon tersebut lebih praktis dikenakan. Apalagi, mengingat hingga kini aduan masyarakat terkait tawon endas masih tinggi.

Berdasarkan data sejak Januari, PMK Kabupaten Kediri sudah menangani delapan kasus serangan tawon endas. Dari delapan kasus itu, ada empat warga yang menjadi korban sengatan. Di antaranya berada di Taman Kanak-Kanak (TK) Nurul Fikri, Desa Canggu, Kecamatan Badas. Di sini, dua siswa tersengat hingga terluka.

Selain itu berada di rumah kosong milik Karmilah, 60, yang beralamat di Desa Pagung, Kecamatan Semen. “Untuk yang di Pagung itu, dua orang warga tersengat tawon Mas. Mereka dilarikan ke rumah sakit. Kita mendapat laporan, langsung menindaklanjuti,” tegas Supriyadi.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia