Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Mbah Sumber, Menginspirasi Warga agar Peduli Kelestarian Mata Air

Butuh Waktu Tiga Tahun untuk Bersih-Bersih

12 Januari 2020, 21: 08: 14 WIB | editor : Adi Nugroho

mbah sumber

JERNIH : Mbah Sumber dan beberapa pemuda tengah memasang baliho publikasi acara diskusi tentang air yang akan digelar di Sendang Kahuripan, kemarin. (Habibah Anisa - radarkediri)

Share this          

Mochamat Zaenal Arifin seperti tak bosan mengajak warga desanya merawat sumber air. Meskipun berulang-kali yang diajak kembali membuang sampah di lokasi yang telah dibersihkan. Lelaki ini pun berencana ‘menghidupkan’ area sumber agar orang malu membuang sampah.

Mata air ini terletak di Desa Canggu, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri. Suasananya rimbun. Masih ditumbuhi pohon-pohon berukuran besar. Beberapa di antaranya sudah berusia ratusan tahun. Beberapa jenis pohon seperti bendo dan beringin menjulang dengan gagah.

Di dekat lokasi mata air itu kawat diikatkan di dua batang pohon bendo. Mengapit tulisan yang menggantung di awang-awang. Bertuliskan ‘Sendang Kahuripan’.

sumber air

SEGAR: Mbah Seger menunjukkan kondisi air yang jernih di Sendang Kahuripan. (Habibah Anisa - radarkediri)

“Itu sebagai penanda bahwa  nama tempat ini adalah Sendang Kahuripan,” terang seorang lelaki berbaju hitam dengan blangkon menghias di kepala. Lelaki itu bernama Mochamat Zaenal Arifin. Namun, lebih familiar dengan panggilan Mbah Sumber. Yang menandakan kepedulian lelaki ini pada kelangsungan sumber air di desanya.

“Dulu kondisi sumber tidak seperti ini. Masih sangat rimbun,” lanjut Mbah Sumber, sembari menunjuk sekitar lokasi mata air.

Saat itu, pria 38 tahun itu tengah sibuk dengan aktivitasnya. Bersama dengan beberapa remaja, dia memasang baliho berangka bambu. Setinggi 2,5 meter dan lebar tiga meter. Baliho itu berisi publikasi kegiatan yang akan berlangsung hari ini. Diskusi tentang kelangsungan mata air dengan tajuk ‘Menjemput Rendeng’.

Menurut Mbah Sumber, di Desa Canggu banyak terdapat mata air. Membuat desa ini punya kandungan air yang melimpah. Yang mampu mengairi persawahan hingga menghidupkan tambak-tambak yang tersebar di seantero desa.

Setidaknya, ada lima sumber yang masih mengalir lancar. Salah satunya di Dusun Surowono. Yang namanya Sendang Kahuripan itu.

Dibanding sumber-sumber lain yang sudah dibangun untuk kolam  renang dan wisata, Sendang Kahuripan masih terasa alami. Pembangunan fisiknya belum terasa. Gapura masuknya pun nyaris tidak ada. Menyatu dengan pagar rumah warga.

“Sebelumnya lokasi ini sangat banyak tumbuhan. Bahkan dari jalan sumber ini tidak kelihatan,” terangnya.

Sayangnya, kerimbunan Sendang Kahuripan tak menghilangkan tabiat buruk warga yang kurang peduli pada kelestariannya. Bahkan, dulu sumber ini dipenuhi pula dengan sampah. Mulai dari sampah plastik hingga limbah rumah tangga. Popok bayi atau diapers bekas juga banyak yang dibuang di area ini. Membuat saluran air yang keluar dari sumber terhambat.

Kondisi seperti itulah yang membuat Mbah Sumber resah. Padahal, dusunnya adalah dusun pertanian dan perikanan. Yang seharusnya tak bisa dilepaskan dari kehadiran sang tirta.

“Namun selama ini masih belum ada bentuk kesadaran kolektif dari masyarakat untuk merawat air. Baik itu air dari sungai maupun dari sumbernya,” keluh suami dari Nur Kholifah, 37, ini.

Melihat hal tersebut, sebagai warga dusun, dia ingin melakukan sesuatu. Salah satunya mengajak warga agar lebih peduli dengan sumber mata air yang selama ini digunakan untuk kehidupan sehari-hari.

“Pada saat itu saya mengajak orang-orang yang berada di warung,” kenangnya.

Bisa membuat warga peduli dengan sumber air tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak sekali usaha yang harus dilakukan. Salah satunya dengan pendekatan. Bahkan ia harus memiliki pemikiran yang sama dengan warga.

Karena kondisinya yang rimbun, warga banyak yang merasa takut ketika diajak kerja bakti membersihkan sumber air. Mereka meminta dilakukan tumpengan. Dan memanggil kiai untuk berdoa di lokasi sebelum acara bersih-bersih dilakukan. Akhirnya, setelah rentang waktu selama tiga tahun akhirnya sumber bisa bersih. Karena tidak tahu akan dibuang   ke mana, awalnya sampah dimasukan dalam karung. Kemudian digunakan sebagai penahan tanah.

“Dalam proses pembersihan kotoran selalu ada lagi.  Bahkan sampai dihalau menggunakan jaring,” tutur laki-laki kelahiran 1981.

Memang, sayangnya, banyak warga yang tidak bertanggung jawab tetap membuang sampah di lokasi tersebut. Karena itu, agar warga merasa engan membuang sampah di sekitar mata air, Mbah Sumber  memiliki ide untuk menghidupkan area sekitar. Dengan adanya warga di lokasi dia berharap lokasi yang sudah bersih tidak menjadi kotor lagi.

Sasar Anak Muda karena Lebih Mudah Diajak

Desa Canggu memang memiliki banyak sumber air. Dimanfaatkan berbagai keperluan. Tak hanya untuk mengairi sawah dan tambak ikan. Juga untuk kebutuhan sehari-hari. Di desa ini ketersediaan air benar-benar melimpah.

Menurut Mbah Sumber, pemanfaatan air harus benar-benar dilakukan dengan benar. Meskipun ketersediaannya saat ini masih melimpah. Apalagi pada saat musim kemarau, penggunaan air yang bijaksana perlu dilakukan.

Air, menurutnya, sangat penting untuk menunjang semua kehidupan masyarakat. Sayangnya, manusia yang merasa diuntungkan dengan keberadaan air ini sering tak sadar pentingnya kelestarian. Apalagi mereka sudah terbiasa dengan air melimpah sejak kecil. Hal yang justru menjadikan mereka lupa bahwa sumber air perlu dilestarikan.

“Hal ini yang berbahaya. Maka ke depannya tidak hanya tempat ini (yang dilestarikan). Minimal semua yang berada di desa ini terjaga,” ungkap Mbah Sumber.

Untuk menjaga sumber-sumber tersebut agar tetap ada, memang tidak bisa dilakukan Mbah Sumber sendirian. Karena itu dia sengaja mengajak anak muda yang berada di desa tersebut. Alasan anak muda dijadikan sasaran, karena mereka masih mudah untuk dibimbing dibanding orang yang sudah tua.

Melalui anak muda tersebut efek berantai diharapkan terjadi. Anak muda itu yang diharapkan dapat mempengaruhi orang tuanya agar bersikap positif pada keberlangsungan sumber air. Agar bisa sadar betapa pentingnya menjaga kelestarian sumber air.

Dalam mengajak para anak muda itu Mbah Sumber tidak hanya memberikan gambaran atau pengarahan saja. Namun juga memberi contoh langsung kepada anak muda tentang pentingnya menjaga sumber air. Salah satunya dengan upaya menghidupkan lokasi sumber dengan membuatnya menjadi  lokasi  wisata.

“Meski hanya sebagai tempat wisata kecil-kecilan, setidaknya warga yang akan membuang sampah merasa engan,” imbuhnya.

Untuk ke depannya lokasi tersebut tidak hanya terdapat kolam dan gazebo saja. Namun lokasi tersebut juga akan diisi oleh warga yang ingin berjualan. Warga juga boleh mandi di sumber tersebut. Hanya saja agar menjaga kejernihan air tidak boleh mamasukkan sabun.

Agar sumber tersebut tetap terjaga, masyarakat juga diedukasi terkait pentingnya sumber mata air untuk generasi selanjutnya. Salah satunya dengan kegiatan yang berjudul ‘Menjemput Rendeng’. Kegiatan yang mirip festival ini berisi diskusi tentang pentingnya air serta kegiatan menanam pohon. Kegiatan ini rencananya akan berlangsung hari ini.

 

Tentang Sendang Kahuripan

Lokasi                  : Dusun Surowono, Desa Canggu, Kecamatan Badas

Luas                     : Tiga hektare

Fungsi                  : Irigasi pertanian (utama)

                               Wisata      (tambahan)

Status Lahan        : Milik Desa

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia