Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Kolom
ENDRO PURWITO

Jurus Sekali Pukul Raup Untung Berlipat

12 Januari 2020, 20: 53: 41 WIB | editor : Adi Nugroho

Endro Purwito 

Oleh: Endro Purwito  (radarkediri)

Share this          

Membaca rubrik Radar Kuliner di Jawa Pos Radar Kediri terkadang bisa bikin perut lapar secara tiba-tiba. Ibarat musik keroncong, mendadak ada irama keroncongan di lambung. Apalagi menu yang disajikan sesuai selera kita. Wah, rasa-rasanya ingin segera saja menyantap hidangannya.

Seperti menu yang diterbitkan edisi Senin lalu (6/1) di koran ini. Dua hidangan yang sayang dilewatkan untuk dicicipi. Ada menu seblak dan ketoprak. Seblak adalah makanan khas Sunda yang diracik dengan beraneka macam sayuran. Lalu ada tambahan bakso ikan, daging ayam atau seafood.

Yang unik, bahan dasarnya kerupuk basah dengan cita rasa gurih pedas. Bumbunya, bawang merah dan putih, kencur, cabai rawit, kunyit, dan tak lupa garam. Soal rasa, tak elok bila tak mencoba mencicipinya.

Selain seblak, di halaman rubrik kuliner itu juga mengupas menu ketoprak. Namanya sama persis seperti seni drama tradisional khas Jawa yang di wilayah Kediri dan Nganjuk sudah jarang dipentaskan lagi. Bila kesenian ketoprak terancam punah, berbeda dengan makanan ketoprak.

Menu yang menghidangkan lontong atau ketupat dan  bihun sebagai bahan utama ini masih eksis dan banyak penikmatnya. Sausnya bumbu kacang tanah. Biasanya disajikan dengan ketupat yang telah dipotong. Dipadu irisan dadu tahu goreng, lalu ditimbun mi bihun dan tauge. Ditambah lumuran kecap manis dengan taburan kerupuk di atasnya. Rasanya? Wow bikin nagih.

Membaca olahan boga itu, saya teringat dengan menu gado-gado yang sausnya juga menggunakan bumbu kacang. Yang saya suka, menu ini memakai bahan sayur-sayuran. Terasa lebih segar.

Bahan utama sayur itu direbus dan dicampur menjadi satu. Selanjutnya, dilumuri saus bumbu kacang tanah yang telah ditumbuk halus. Pelengkapnya ada tahu yang diiris dadu. Pun terkadang ditambah irisan tempe. Ada yang suka menambahnya dengan lontong, ada pula yang tidak.

Yang khas, biasanya, ada telur rebus dibelah dua dan irisan kentang rebus. Kemudian ditaburi dengan bawang goreng ditemani kerupuk udang atau keripik emping melinjo. Sayuran yang biasanya disajikan adalah selada, kubis atau kol, mentimun, kecambah tauge, dan kacang panjang,

Karena menghidangkan ragam sayur, menu gado-gado familier dengan sebutan salad of Java. Di warung langganan saya, bukan hanya racikan gado-gadonya yang enak dan sedap. Harganya pun standar rata-rata pasaran warung makan. Bisa terjangkau semua kalangan.

Maka kala beredarnya kabar viral di media sosial (medsos) soal warung makan yang menarik harga setinggi langit, warung gado-gado itu tak terpengaruh. Belakangan, memang sempat mencuat tempat-tempat makan yang sengaja tak memajang banderol harga menunya. Namun, begitu konsumen selesai menikmati sajian hidangannya, tiba-tiba saja disodori bon atau bill (tagihan) dengan harga selangit. Harga yang di mata khalayak umum dinilai tak wajar. Jauh dari standar harga rata-rata makanan serupa di pasaran.

Padahal, tempat makan itu biasa saja. Cita rasa hidangannya pun tak istimewa. Sama seperti di tempat makan lain. Tetapi, harganya setara atau malah lebih mahal dari hidangan di tempat-tempat elite atau resto eksklusif. Yang bikin tambah kecewa, hidangan yang disajikan kurang enak. Kalau sudah begitu, yang terlontar dalam hati adalah gerutuan, sudah mahal nggak enak lagi.

Penjual makanan yang seperti ini kerap disebut menggunakan jurus ‘sekali pukul langsung raup untung berlipat ganda’. Tak peduli customer-nya kecewa. Yang penting, dalam berdagang cepat mengeruk banyak keuntungan. Kendati hal itu merugikan pelanggannya. Mereka merasa dipalak, dikadali.

Walau begitu, pelanggan yang sudah telanjur pesan dan makan tak dapat berbuat banyak. Sebab sudah jadi adat, apa yang sudah dimakan dan masuk dalam perut, tetap harus dibayar.

Biasanya, pedagang begini tak punya banyak pelanggan setia. Dia tak berpikir panjang. Dengan praktik seperti itu, usaha kulinernya bisa ditinggalkan pembeli. Pelanggan yang pernah kecewa tentu enggan datang lagi. Kapok. Apalagi, kalau kemudian kekecewaan mereka tersebar melalui rasan-rasan berantai. Menjadi viral di medsos.

Dalam banyak kasus, jurus sekali pukul untung berlipat dan praktik main kadal itu hanya ampuh sesaat. Setelah itu justru malah merugi. Omzet turun drastis. Laba menipis. Lalu modal ikut terkikis. Habis.

Di saat warung lain yang pakai jurus sekali pukul ditinggalkan banyak pembeli, pelanggan di tempat gado-gado langganan saya tetap seperti semula. Mereka tetap setia. Malah belakangan kian ramai di akhir pekan dan saat cuaca panas.

Apalagi, penjualnya dikenal ramah. Ketika pedagang lain tak bertegur sapa dengan pelanggannya, peracik gado-gado itu hampir mengenal semua pembeli yang pernah andok (makan menu yang dipesan langsung di tempat) di warungnya. Seperti slogan, senyum, sapa, salam.

Suatu ketika, penjual gado-gado ini pernah berujar, lebih memilih menggaet konsumennya dengan servis (pelayanan) dan rasa. Dia tak mau bermain jurus sekali pukul. Mengeruk untung cepat dengan mengadali pelanggan.

Namun cenderung memilih memelihara untung jangka panjang. Tak perlu banyak atau berlipat-lipat, tetapi yang penting awet. Itu lebih langgeng, katanya. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia