Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Jalan Panjang Pranatacara sebelum Kantongi Sertifikat Praktik

Harus Lulus Ujian dan Kuasai Tujuh Keahlian

12 Januari 2020, 20: 31: 48 WIB | editor : Adi Nugroho

ujian tes

UJIAN: Para calon pranatacara mengerjakan soal seputar pembawa acara bahasa Jawa. Mereka juga harus lolos ujian praktik agar mendapat sertifikat. (Foto: Dokumen Permadani for radarkediri.id)

Share this          

Menjadi pranatacara, rupanya tak sekadar membawakan acara dalam bahasa Jawa. Mereka harus menguasai sejumlah keahlian khusus. Kelayakan mereka pun ditentukan lewat ujian yang memuat tes tulis dan praktik.

SRI UTAMI. NGANJUK, JP Radar Nganjuk   

Puluhan laki-laki memakai beskap dan blangkon serta perempuan berkebaya tampak mengisi beberapa kelas di SMPN 2 Nganjuk, sekitar pukul 08.00 Jumat (27/12) lalu. Seperti halnya para siswa yang biasa belajar di sana, orang-orang yang memakai baju adat Jawa itu membawa tas.

          Sesampainya di dalam kelas, mereka mengeluarkan pulpen dan secarik kertas. “Hari ini (Jumat lalu, Red) memang ujian pranatacara. Ada dua sesi. Ujian tulis dan ujian praktik,” ujar Puji Yohana, salah satu penguji dari Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (Permadani) Nganjuk, penyelenggara ujian.

          Tak mudah untuk menjadi pranatacara yang profesional. Modal fasih berbahasa Jawa saja tidak cukup. Pun kepiawaian berdandan dan memakai baju adat Jawa seperti yang terlihat dalam ritual Jawa biasanya.

          Para pembawa acara ritual Jawa itu dituntut untuk menguasai beberapa keahlian pranatacara. Mulai renggeping wicara atau menghafal bahasa Jawa. Hingga, mengucapkan lafal yang benar.

          Yang lebih sulit lagi di bagian renggeping wicara adalah kemampuan nyandra. Belajar tentang tinggi dan rendah suara. Menyesuaikan dengan gending Jawa yang dimainkan saat prosesi. “Ini bagian yang paling sulit. Ada yang satu tahun juga belum menguasai. Padahal lamanya kursus hanya enam bulan,” tutur pria yang juga guru di SMPN 3 Nganjuk itu.

          Kemampuan nyandra seorang pranatacara, lanjut Puji, bisa menjadi kekhasannya. Seorang pranatacara sering kali digemari karena kemampuan nyandra mereka yang beda dibanding pranatacara lainnya.

          Tes itu pula yang jadi bagian paling sulit dalam ujian Jumat lalu. Tidak sedikit peserta yang harus mengulang beberapa kali karena mereka tidak bisa melafalkan dengan benar. Melagukan dan memastikan tinggi rendah suara sesuai.

          Puji lantas memberikan contoh nyandra yang benar. Dia mengambil contoh kalimat yang dilafalkan saat pengantin perempuan masuk ke area resepsi. “Binarung swaraning ketawan pusparawna, ana ganda arum lumrang banjaran sari. Hangebegi sajroning sasana pawiwahan (terdengar suara lagu ketawang puspawarna, ada bau harum yang telah memenuhi tempat acara resepsi, Red),” ucap Puji menggunakan suara perut.

          Tak hanya suara pria berambut gondrong itu yang berubah. Tetapi, pelafalan kalimat saat nyandra itu juga penuh nada. Seirama dengan gending bernada pelan yang diputar siang itu. 

          Sementara itu, tidak hanya kemampuan nyandra yang menjadi bagian dari renggeping wicara, para pranatacara juga harus menguasai kemampuan lainnya. Mulai basa lan sastra Jawa, sekar setaman, padhuwungan, sekar gendhing, serta ngadat ngadi salira ngedi busana alias tata cara berbusana Jawa. Terakhir pranatacara harus memahami tata cara budaya Jawa. “Lain-lainnya mudah. Yang susah ya nyandra itu tadi,” urainya.      

          Berbagai jenis keahlian itu harus dikuasai dalam waktu enam bulan. Selebihnya, kemampuan mereka akan dites dalam ujian seperti yang digelar Jumat lalu. “Semua diujikan. Kalau tidak lulus harus mengulang,” tutur Puji sembari melihat sejumlah peserta mengerjakan soal.

          Dilihat dari usianya, peserta ujian pranatacara Jumat lalu datang dari generasi yang berbeda. Ada peserta yang berusia 20-an. Tetapi, tidak sedikit yang usianya di atas 50 tahun.

          Rupanya, tak hanya usia peserta yang beragam. Latar belakang mereka juga beragam. Dari 35 peserta yang mengikuti ujian Jumat lalu, 15 di antaranya atau hampir separo berprofesi sebagai guru. Delapan lainnya berstatus pegawai negeri sipil (PNS) non-guru. Adapun sisanya wiraswasta.

          Khusus untuk peserta wiraswasta ini, biasanya mereka merupakan pemilik salon. “Selain merias, mereka ingin menjadi pranatacara,” beber Puji tentang peserta yang juga datang dari Jombang dan Tulungagung ini.

          Bagaimana dengan peserta yang berprofesi sebagai guru? Ditanya demikian, Puji beralasan teman sejawatnya itu tertarik menjadi pranatacara hanya untuk hobi. “Kadang sungkan karena sering ditunjuk jadi pranatacara di lingkungan. Akhirnya ikut kursus sekalian,” ujar pemerhati budaya Nganjuk ini.

          Selebihnya, tidak sedikit peserta yang mengikuti kursus pranatacara karena ingin melestarikan budaya. Alasannya, saat ini semakin sedikit pranatacara yang benar-benar mengerti pakem. Mayoritas sekadar membawakan acara tanpa mengerti filosofinya. “Mereka benar-benar semangat karena memang tujuannya ingin belajar dan melestarikan budaya yang adiluhung ini,” tuturnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia