Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Politik

Cuaca Ekstrem di Kediri: Hujan Lebat Masih Terus Mengintai

11 Januari 2020, 21: 00: 31 WIB | editor : Adi Nugroho

cuaca ekstrem

BERTEDUH: Hujan deras mengguyur Pasar Grosir Ngronggo, Kota Kediri, kemarin. Hujan deras dengan disertai angin masih berpotensi terjadi dalam satu minggu ke depan. (Habibah Anisa - radarkediri)

Share this          

 KABUPATEN, JP Radar Kediri - Hingga seminggu ke depan, cuaca  ekstrem masih membayangi wilayah Kediri dan sekitarnya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat masih ada potensi hujan lebat di sejumlah daerah, termasuk Kediri.

Dari keterangan BMKG Juanda, cuaca ekstrem berupa angin kencang itu karena adanya pola tekanan rendah di Samudera Hindia. Tepatnya di wilayah selatan Nusa Tenggara. Menyebabkan terbentuknya pola pertemuan angin di sepanjang wilayah Provinsi Jawa Timur.

Untuk hujan lebat dan angin kencang itu, salah satunya disebabkan karena suplai uap air semakin meningkat. Karena itulah hujan deras masih akan terjadi selama satu minggu ke depan.

“Diimbau kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan khususnya yang berada di daerah rawan bencana,” kata Kepala Unit Reaksi Cepat (URC) BPBD Kabupaten Kediri Windoko.

Berdasar keterangannya, seluruh wiayah di Jawa Timur berpotensi terjadinya cuaca ekstrem itu. Tak terkecuali untuk wilayah Kabupaten Kediri. Karena itu masyarakat harus lebih waspada karena masih besar potensi terjadinya bencana seperti banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, hingga longsor.

Windoko mengingatkan, kewaspadaan harus lebih tinggi ketika terjadi hujan lebat. Jika rumah berada di lereng perbukitan, hendaknya peka pada kondisi tanah yang ada di dekat bangunan. Menurutnya, hal itu sudah terjadi di beberapa tempat.

“Masyarakat lebih peka terhadap sekitar. Apabila ada rekahan-rekahan tanah, apalagi sedang hujan deras dengan durasi lama, lebih baik mencari tempat yang lebih aman,” pesannya.

Windoko berharap apabila saat terjadi bencana. Jika ada kesadaran warga dalam deteksi dini dan antisipasi preventif itu dapat meminimalkan risiko yang ditimbulkan.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri menghentikan pengiriman air ke Lingkungan Nglebak, Kelurahan Pojok, Mojoroto. Selain sumber air mulai mengalir, warnanya juga jernih. BPBD tinggal mengevaluasi dalam beberapan pekan ke depan.

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Kediri Adi Sutrisno mengatakan, sumber air di Kelurahan Pojok sudah mengalir pada akhir Desember lalu. Meski awalnya berwarna kecokelatan. Saat ini, airnya sudah jernih dan normal kembali. “Rabu lalu (8/1) air Sumber Tretes jernih,” kata Adi kepada koran ini.

Dengan kondisi tersebut, BPBD akhirnya memutuskan untuk menghentikan dropping air ke Lingkungan Nglebak. Seperti diketahui lingkungan tersebut merupakan wilayah yang terkena dampak kekeringan terparah di Kelurahan Pojok. Yakni di RT 22 dan 23. “Kami terakhir kirim air seminggu lalu,” ungkap pria asal Kepung, Kabupaten Kediri ini.

Meski tidak lagi melakukan pengiriman, kata Adi, pihaknya tetap mengevaluasi sumber air yang berlokasi di Lingkungan Tumpang itu. Jika tetap stabil jernih, dropping akan dihentikan. “Kalau keruh, kami tetap kirim nanti,” ujarnya.

Untuk diketahui, kekeringan di Kelurahan Pojok terjadi sejak dua bulan lalu. Pegiriman pertama dilakukan pada 29 Oktober lalu di Nglebak. Sementara pada November, kekeringan meluas ke RT 24 dan 25 di Lingkungan Tumpang. Selama pengiriman, total ada 376 kepala keluarga (KK) yang mengalami kekeringan. Rinciannya, di RT 22 sebanyak 102 KK, RT 23 (114 KK), RT 24 (80 KK) dan RT 25 (79 KK).

Setelah turun hujan di akhir Desember 2019, BPBD mulai mengurangi intensitas pengiriman. Dari setiap hari menjadi dua kali sehari. Terakhir, sebelum dihentikan pada minggu lalu, pengiriman air ke Nglebak menjadi tiga kali sehari.

Memasuki musim hujan seperti sekarang, Adi mengatakan, fokus BPBD saat ini pada mitigasi bencana hidrometeorologi. Pasalnya, hujan yang turun selalu disertai angin kencang.

Seperti hujan kemarin yang membuat beberapa pohon tumbang di Kecamatan Pesantren dan Kota. Adi mengatakan, ada empat titik pohon tumbang. Tiga lokasi di antaranya di Kecamatan Pesantren. Yakni di sekitar Sumber Cakarwesi, Kelurahan Tosaren; Lingkungan Balekambang, Kelurahan Blabak dan Kelurahan Banaran. Sedangkan di Kota terjadi di Lingkungan Polaman, Kelurahan Manisrenggo. “Ada pohon mahoni dan jati yang tumbang,” katanya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia