Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Kolom
BADRUS

Pendidikan: Antara Output dan Harapan

11 Januari 2020, 20: 27: 34 WIB | editor : Adi Nugroho

Badrus

Oleh: Badrus (radarkediri)

Share this          

Berita Terkait

   Output pendidikan nasional akhir-akhir ini mendapat sorotan tajam dari para ahli. Setidaknya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim membeberkan bahwa mutu pendidikan Indonesia masih jauh dibanding dengan negara lain. Dengan negara kecil dan muda sekalipun. Karena itu pendidikan nasional saat ini mendesak untuk diadakan pembaruan sistem pengelolaanya. Agar terjamin kualitas outputnya (Jawa Post, 23 Okt 2019)

Satu lembaga independen yang mengukur mutu pendidikan di dunia adalah international programs for student asessment (PISA). Menurut catatan lembaga ini, pendidikan di Indonesia dikategorikan jauh dari standar rata-rata pendidikan di dunia.   Capaian nilai peserta didik bidang sains Indonesia mendapat angka 396. Sementara rata-rata negara lain 569. Kemudian kemampuan matematika bangsa kita mendapat 379. Sedangkan rata-rata negara lain mencapai 591. Demikian pula kemampuan literasi (daya baca) masyarakat Indonesia mendapat nilai 371, sedangkan umumnya rata-rata 487. Ketiga bidang itu, sain, matematika dan literasi, menjadi tolok ukur kemajuan bangsa dari sisi mutu pendidikan.

Fakta di atas perlu kita respons kuat. Dengan segera menentukan langkah-langkah strategis. Memang, mengacu pada UU Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 / 2003, hasil pendidikan harus dapat mewujudkan manusia yang beriman dan bertakwa, berbudi pekerti luhur, berpengetahuan dan berketerampilan, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian yang mantap dan mandiri, serta tanggung jawab untuk masyarakat dan bangsa. Namun perlu diingat, tujuan pendidikan ini merupakan tujuan sentral dan normatif, dan memang terkesan sempurna. Apabila lembaga pendidikan hanya memahami tujuan ini apa adanya dan tidak menentukan tujuan secara spesifik target output pendidikannya, mereka tidak akan bisa menghasilkan pendidikan yang unggul. Lulusan lembaga pendidikan sekadar lulus dengan lama pendidikan tertentu yang tidak bisa memenuhi tuntutan masyarakat.

Sebenarnya harapan masyarakat terhadap output pendidikan telah digariskan oleh Unesco. Acuan itu sangat sederhana. Hanya empat pilar output pendidikan dapat dikatakan berhasil. Pertama, learning to know. Yaitu peserta didik dikatakan berhasil apabila menguasai pengetahuan tertentu. Berupa konsep sekaligus skill yang membanggakan bagi dirinya, karena mereka dapat berbuat sesuatu berkat keahlianya. Untuk mencapai pengetahuan ini, orang yang berperan penting tidak hanya guru, juga orang tua yang harus mengawal, memotivasi, dan menyangga dananya.

Kedua, learning to do.  Pilar ini memberikan penjelasan bahwa peserta didik dikatakan berhasil manakala ia dapat menguasai keterampilan tertentu, khususnya di bidang ekonomi. Indikatornya ia dapat berpartisipasi dalam dunia ekonomi dan masyarakat global. Dalam posisi ini seseorang sudah tidak lagi mengenal pengangguran.

Ketiga, learning to be. Bahwa keberhasilan pendidikan peserta didik telah terlihat jelas. Dia mampu mengembangkan dirinya menguasai soft skill, yakni kreatif, percaya diri, dan menguasai teknologi untuk mengembangkan dirinya. Orang yang berhasil dalam pilar ketiga ini, secara bebas mengaktualisasikan dirinya di  manapun berada.

Dan yang terakhir, learning live together. Yakni kemampuan seseorang untuk bekerjasama. Tentu pengetahuan yang dibutuhkan sangat mendasar. Yaitu kemampuan memahami diri sendiri dan orang lain. Langkah selanjutnya ia memiliki visi dalam dirinya untuk mengubah dunia bersama demi kesejahateraan umat manusia.

Untuk mencapai hasil pendidikan yang berkualitas dibutuhkan pemikiran yang kritis, kreatif, dan kemauan tinggi. Utamanya bagi pengelola lembaga pendidikan dan pendidik di dalamnya. Sebagai bahan pemikiran, kita dapat melihat sistem pendidikan terbaik di dunia yaitu di Finlandia. Pertama, di sana, syarat utama orang menjadi guru, minimal the best ten dari perguruan tinggi terbaik di dalam atau luar negeri. Kedua, guru disyaratkan minimal berpendidikan magister. Ini menandakan pendidik dituntut tidak hanya mampu mengajar, juga harus bisa memahami kejiwaan siswanya. Sekaligus memberdayakan cara belajar siswa yang efektif.

Ketiga,  di kelas, Finlandia mengharuskan dua guru pengampu dalam satu mata pelajaran. Satu bertugas memberikan materi dan lainnya mendesain aktivitas siswa untuk menguasai skill yang dibutuhkan. Keempat, selama pembelajaran, tatap muka guru dan murid hanya 40 persen dari lamanya pembelajaran. Selebihnya aktivitas siswa untuk mengeksplorasi pengetahuan dari berbagai sumber. Kelima, di kelas tidak ada rangking dan tidak ada PR. Pada prinsipnya pendidikan di Finlandia mengkondisikan siswa senang dengan dirinya dan berkembang sesuai dengan kemauannya. Dengan kata lain, membentuk siswa menjadi cerdas dan mandiri.

Belajar Finlandia, pendidikan Indonesia tidah harus sama. Namun pada intinya mempunyai orientasi yang tidak berbeda. Yakni mewujudkan pembelajaran yang efektif. Yaitu pembelajaran yang mampu menghasilkan output unggul. Karena itu dalam proses pembelajaran pendidik berupaya sepenuh hati agar peserta didik senang mempelajari ilmu pengetahuan, senang dalam belajar keterampilan khusus, dan memiliki kemauan kuat untuk menjadi ahli di bidang pilihannya. Semoga sukses. (Penulis adalah Kepala Program Studi PAI Pascasarjana IAI   Tribakti Lirboyo Kediri)

 

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia