Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal
Pembunuhan di Eks Lokalisasi Wonojoyo Gurah

Usai Membunuh, Pemuda Ini Basuh Kemaluannya dan PSK yang Dikencani

10 Januari 2020, 19: 57: 42 WIB | editor : Adi Nugroho

NYANTAI: Galang Anggara saat diperiksa sebagai terdakwa kasus pembunuhan Sunarti, PSK eks Lokalisasi Wonojoyo, di PN Kabupaten Kediri, Kamis (9/1).

NYANTAI: Galang Anggara saat diperiksa sebagai terdakwa kasus pembunuhan Sunarti, PSK eks Lokalisasi Wonojoyo, di PN Kabupaten Kediri, Kamis (9/1). (SAMSUL ABIDIN-jp radar kediri)

Share this          

NGASEM, JP Radar Kediri – Sidang lanjutan kasus pembunuhan Sunarti, pekerja seks komersial (PSK) di eks Lokalisasi Wonojoyo, Gurah, Kamis (9/1), sempat membikin hakim Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Kediri geregetan. Ini karena Galang Anggara, 21, terdakwa kasus tersebut, dinilai tidak sopan dan tidak menghargai persidangan.

Saat ditanya Lila Sari, hakim anggota, pemuda asal Dusun Bakung, Desa Tempurejo, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri itu justru mengalihkan pandangannya. Duduknya juga terlihat terlalu santai. Bahkan, justru tersenyum-senyum. “Kamu yang sopan ya. Kalau lihat perempuan seperti itu?,” tegur Lila. 

Untuk diketahui, sidang yang digelar sekitar pukul 14.00 WIB di Ruang Kartika tersebut sebenarnya beragenda pemeriksaan saksi. Namun, urung dilaksanakan karena saksi tidak dapat dihadirkan. Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan terdakwa. Sidang dipimpin majelis hakim yang diketuai Agus Tjahjo Mahendra dengan anggota Lila Sari serta Imam Santoso.

Dalam sidang terungkap, Galang sudah terbiasa ‘main’ ke lokalisasi sejak remaja. Itu diakuinya ketika ditanya hakim Imam. “Sejak SMA sudah sering,” akunya.

Bahkan, ‘bermain’ dengan Sunarti di eks lokalisasi yang terletak di Dusun Krajan Timur, Desa Wonojoyo, Kecamatan Gurah, itu pun tidak sekali. Dua kali dia menggunakan jasa PSK berusia 50 tahun asal Magetan tersebut.

Sebelum yang berakhir dengan pembunuhan pada 24 Juli 2019 lalu, Galang pernah memesan jasa Sunarti beberapa bulan sebelumnya. “Ya, sebelumnya juga pakai,” akunya lagi.

Dia mengatakan, sebelum pembunuhan terjadi, dirinya berhubungan intim dengan Sunarti dalam keadaan mabuk. Saat itu, disepakati ‘harga servis’-nya Rp 40 ribu. “Tapi, uang saya hilang,” sebutnya.

Itulah yang rupanya membuat Sunarti marah karena merasa ditipu. “Setelah itu saya ditendang di bagian perut dan kemaluan,” lanjut Galang.

Pemuda itu pun spontan tersinggung dan ganti ngamuk. Tubuh Sunarti dipegang dan dibantingnya ke lantai. Lantas, dia mencekik leher perempuan itu sekitar dua menit dan menindih tubuhnya.

Kalah tenaga, Sunarti lemas. Lalu, kehabisan napas dan tak bergerak lagi. “Sebelum meninggalkan lokasi, saya basuh dulu kemaluan saya dan Sunarti. Untuk menghilangkan jejak,” tutur Galang.  

Setelah itu, dia mengambil rokok dan gawai Sunarti. Gawai itu dibuangnya untuk menyempurnakan penghilangan jejak. Galang pulang ke rumahnya di Tempurejo, Wates. Semula, upaya penghilangan jejaknya membawa hasil. Namun, berkat kejelian polisi, Galang berhasil dibekuk dua bulan kemudian.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yusuf Kurniawan Abadi menjeratnya dengan pasal berlapis. Galang didakwa melanggar pasal 338, pasal 351 ayat 3, dan pasal 365 ayat 3 KUHP.  “Ancaman maksimal 15 tahun penjara,” kata Yusuf yang sempat meminta Galang untuk merenungi perbuatannya. Sidang lantas ditutup dan dilanjutkan Kamis depan (16/1). (c3)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia