Sabtu, 22 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Di Kepung, Kediri Lebih Separo Cabai Merah Tak Bisa Dipanen

10 Januari 2020, 18: 16: 31 WIB | editor : Adi Nugroho

TAK MAKSIMAL: Petani cabai merah di Desa Kebonrejo, Kepung memanen tanamannya (9/1).

TAK MAKSIMAL: Petani cabai merah di Desa Kebonrejo, Kepung memanen tanamannya (9/1). (DIDIN SAPUTRO-jp radar kediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri- Masuknya musim hujan yang terlambat menjadi persoalan baru bagi petani cabai merah di Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung. Permasalahan itu membuat hasil panen perdana kali ini tak bisa maksimal. “Karena tanam tidak serempak, jadi banyak hama yang menyerang,” kata Lugito, salah satu petani cabai saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri (9/1).

Penanaman yang tidak serempak itu diakibatkan musim kemarau yang panjang tahun lalu. Inilah yang memengaruhi petani saat hendak memulai tanam. Jika biasanya Oktober sudah mulai, kini banyak petani yang baru mulai tanam pada November hingga Desember. “Yang tanam awal hanya petani-petani besar,” ujarnya.

Lugito menyampaikan, usia tanaman yang tidak sama pada setiap lahan budidaya itu membuat banyaknya hama dan penyakit yang menyerang. Banyak sifat hama yang saat perkembangannya berada di tanaman cabai yang berumur tua. Namun, begitu ada tanaman baru, hama-hama tersebut ganti menyerang cabai yang lebih muda. Hama yang sering menyerang cabai itu adalah kutu kebul dan trips. “Hujan yang tidak stabil membuat perkembangan ulat cepat,” sebut mantan Kepala Desa Kebonrejo ini.

Lugito menyebut, untuk petani yang menanam bulan November, tingkat keberhasilan 40 persen. “Sementara Desember sebenarnya diharapkan bisa panen, tapi karena banyak penyakit jadi gagal panen,” lanjutnya.

Pada tahun ini, ia mengaku tingkat keberhasilan panen cabai merah di desanya tak lebih dari 40 persen saja. Dan itu sangat jauh menurun dibanding tahun lalu. Meski demikian, penurunan presentase panen itu masih bisa ditutupi dengan harga cabai yang cukup tinggi pada tahun ini. Sehingga meski banyak cabai yang tidak terpanen, setidaknya petani bisa bernapas lega karena harga pasar yang tak terlalu jatuh.

Saat ini, harga dari petani adalah Rp 38 ribu. Berbeda untuk harga eceran yang hampir mencapai Rp 50 ribu per kilogram. Harga tersebut, menurutnya dua kali lipat dari harapan petani. “Meski harga tinggi tapi banyak yang gagal ya sama saja,” pungkasnya. (din)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia