Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Ati Mbingget

09 Januari 2020, 14: 39: 12 WIB | editor : Adi Nugroho

Ati Mbingget

Share this          

Berita Terkait

Mbingget. Itu yang dibikin Dulgembul cilik pada lengan kawannya jika sedang geregetan atau marah karena digoda. Lengan itu dicokot. Sampai membekas. Bekas gigi.

Tapi, bukannya balik marah, yang dicokot malah makin ketawa-ketawa. “Bocah kok nyokotan…!,” seru mereka. Lalu ganti menyodorkan lengannya yang lain supaya dicokot Dulgembul.

“Nyoh…! Nyohhh…!,” kayak adegan Bu Dendi dari Tulungagung itu.

Maklum, walau membekas, cokotan Dulgembul cilik ndak sampai menimbulkan luka. Apalagi sampai siwel dan berdarah. Ndak sama sekali. Ya cuma mbingget itu. Lha wong gigi Dulgembul cilik banyak yang gigis. Akibat kebanyakan makan permen.

Kawan-kawannya tau, bingget itu juga akan segera hilang. Makanya, dicokot lengan yang satu, malah disodorkan lengan yang lain. Setelah itu, ketawanya semakin keras. Bersama-sama. Kawannya puas karena bisa menggoda Dulgembul. Dulgembul pun puas karena bisa melampiaskan geregetannya. Tanpa harus melukai.

Itu beda lagi dengan Jeng Mayang dan Yu Kanthil kalau sedang padu. Meski ndak sampai cokot-cokotan atau jambak-jambakan, bingget-nya bisa ndak hilang-hilang. Soalnya, yang bingget bukan lengan. Tapi hati. Perasaan.

Makanya, benarlah pepatah “dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa yang tau.” Sebab, bingget-nya lengan bisa segera hilang, bingget-nya hati bisa tahunan. Bahkan tujuh turunan.

“Ojo sampek anak-putuku rabi oleh anak putumu…!,” seru Jeng Mayang kalau sudah ngamuk.

“Ora sudi! Sampek pitung turunan, ora bakal enek anak putuku sing arep rabi oleh anak putumu…!,” sahut Yu Kanthil ndak kalah sengit.

Haiyah, sampai anak-putu tenan. Tujuh turunan pisan. Makanya, jika sudah begitu, berbahagialah yang jadi turunan kedelapan dari Jeng Mayang dan Yu Kanthil. Sebab, kalau sudah saling jatuh cinta, ndak ada larangan bagi mereka untuk membangun mahligai rumah tangga. Yang ngenes ya turunan pertama sampai ketujuh itu.

Konflik Jeng Mayang dan Yu Kanthil itu padahal cuma urusan suthil. Yang mestinya dibuat molak-malik gorengan gerih, eh malah dibikin ngudek sambel tumpang. Padahal, gerih dan sambel tumpang sama-sama baunya. Meski, sama-sama huenak pula rasanya.

Itu belum kalau urusan pulitik. Lurah-lurahan. Kades-kadesan. Konflik bisa tujuh turunan betulan. Setiap kali ada pemilihan, yang bertanding ya antar-turunan itu. Maklum, urusannya bukan lagi kalah-menang. Tapi gengsi. Setiap kali yang sana macung, yang sini juga harus macung.

Tapi, itu pun sebenarnya masih mending. Sebab, yang kalah tau kapan saat yang tepat untuk membalaskannya. Yaitu, pada pemilihan berikutnya. Bukan dengan setiap hari atau setiap kali ada kesempatan untuk melampiaskannya.

Yang bingget-nya ndak ilang-ilang itu ya efek pilpres dan pilgub Jakarta lalu. Yang bingget pun bukan cuma warga Jakarta, tapi menyebar se-Indonesia. Yang di Kediri ikut-ikutan pula. Sudah bingget, njarem pula. Itu karena agama ikut dibawa-bawa.

Seperti kalau nama ibu atau bapak yang dibawa-bawa. Sebab, nama mereka memang bukan bahan yang layak untuk dipakai sembarangan. Apalagi bahan mainan. Hati ndak bisa terima.

Maka, begitu ada kesempatan, hati yang bingget tergerak untuk segera melampiaskannya. Lewat sumpah serapah. Atau berbagai ekspresi lain karena geregetan. Marah. Mungkin, itulah mekanisme pertahanan atau penyembuhan dari hati yang terluka. Tiap kali ada pelampiasan, berarti hatinya masih bingget. Sakit. Terluka. Belum pulih dan kembali seperti sedia kala.

Padahal, Natal tempo hari sudah terasa lebih tenang dan damai. Perbedaan pendapat soal kebolehan mengucapkan selamat mulai bisa diterima sebagai hal yang wajar saja. Seperti penerimaan tuan rumah kondangan pada tamunya yang tak berani mencicipi rawon gara-gara menderita asam urat dan kolesterol.

Apalagi, kemudian, yang berbeda pendapat sama-sama punya cara untuk ikut ‘merayakannya’. Karena sudah menjadi ‘nature’ mereka sebagai manusia. Yang senantiasa menghendaki kedamaian sekalipun dalam perbedaan keyakinan.  

Tapi, memang, berbeda pada lengan, bingget pada hati tak mudah untuk dihilangkan. Cuma, memelihara ke-bingget-an karena sebab-sebab politik, bukankah sesuatu yang eman-eman untuk dilakukan? Lha wong ke-bingget-an karena sebab asmara yang bikin hati ambyar saja tak perlu dirisaukan –bahkan jika perlu malah dirayakan. Tak percaya? Tanyakan pada Didi Kempot atau Denny Caknan. (tauhid wijaya)

(rk/jpr/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia