Sabtu, 22 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Air Banjiri Jakarta, Cabai Banjiri Kediri

07 Januari 2020, 11: 30: 54 WIB | editor : Adi Nugroho

pasar induk pare

MELIMPAH: Pekerja di Pasar Induk Pare sedang mengangin-anginkan cabai agar tidak busuk. Banjir yang terjadi di Jabodetabek membuat berton-ton cabai Kediri menumpuk tak bisa terkirim. (Habibah Anisa - radarkediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Banjir besar di daerah Jabodetabek banyak yang berimbas ke daerah-daerah seperti halnya Kediri. Banyak komoditas pertanian dan peternakan yang tak bisa terkirim ke Jakarta. Akibatnya, komoditas-komiditas itu membanjiri pasar lokal. Setelah pasar di Kediri mendapat limpahan telur dari Blitar yang tak bisa tersalurkan ke Jakarta, kini bertambah dengan melimpahnya cabai yang juga gagal kirim.

Repotnya, melimpahnya cabai tak membuat harganya turun. Sebaliknya, harga komoditas pertanian itu terkatrol naik. Karena cabai-cabai yang tak terkirim itu banyak yang menjadi busuk.

“Kalau kaitan dengan harga, yang terdampak cuaca memang komoditas pertanian,” terang Plt Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih, kemarin.

Berdasarkan pantauan harga di Pasar Induk Pare, harga cabai rawit mencapai Rp 45 ribu per kilogram. Naik dari harga terakhir yang ‘hanya’ Rp 42 ribu. Kondisi ini juga dipengaruhi meningkatnya permintaan terhadap si pedas tersebut.

Menurut Tutik, seharusnya masa-masa seperti sekarang ini adalah momentum mendapatkan keuntungan yang lebih bagi para petani cabai di Kediri. Sebab, pada Januari ini di Kediri merupakan puncaknya masa panen cabai. Sementara di daerah sentra-cabai yang lain, justru masa panennya sudah lewat.

Sayangnya, banyak kendala yang dihadapi para petani cabai di Kediri. Yang pertama adalah ancaman penyakit tanaman. Menurut Tutik, saat musim penghujan seperti sekarang ini cabai mudah sekali terserang penyakit. Beberapa yang mengancam produktivitas tanaman ini adalah penyakit patek. Hama ini membuat tanaman cabai membusuk pada buahnya. Yang tentu saja mengurangi produktivitas saat panen.

Kendala lain adalah faktor alam. Banyaknya bencana di daerah-daerah tujuan pengiriman membuat penjualan hasil panen terganggu. Misalnya adalah banjir hebat yang terjadi di wilayah Jabodetabek. Situasi itu membuat petani gagal melakukan pengiriman.

Sebenarnya, terang Tutik, permintaan di wilayah bencana itu justru tinggi. Harganya pun sangat bagus. Namun, mayoritas petani atau pedagang besar tak berani melakukan pengiriman. Karena takut terkendala banjir dan tidak bisa tiba tepat waktu. Sebab, keterlambatan pengiriman cabai akan memunculkan denda bagi mereka.

“Ada beberapa pengiriman cabai yang mendapat denda mulai Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu. Sehingga banyak (petani) yang tidak mau mengirim,” urai Tutik.

Selain faktor banjir, ada penyebab lain cabai-cabai petani itu batal masuk wilayah Jakarta dan sekitarnya. Yaitu karena tidak sesuai dengan prosedur pengiriman barang. Menurut Tutik, prosedur pengiriman cabai yang tepat adalah dikemas dalam boks yang memiliki sirkulasi udara cukup. Bila tidak sesuai dengan prosedur itu maka akan memengaruhi kualitas cabai.

Selain cabai, sebelumnya juga terjadi penghambatan terhadap pengiriman telur dari wilayah Kabupaten Blitar. Telur-telur yang tidak bisa dipasok ke wilayah yang terkena banjir itu akhirnya dijual di pasar-pasar lokal di sekitar area Blitar. Salah satunya membanjiri Kediri.

Sementara di sisi lain tidak ada tambahan permintaan dari konsumen. Karena itu, berbeda dengan cabai yang mengalami kenaikan harga, untuk telur justru menarik turun.

“Telur terakhir dijual dengan harga Rp 22 ribu per kilogram,” sebut Tutik.

Menurutnya, ada solusi lain yang diupayakan untuk menghindari penumpukan komoditas pertanian di lokasi-lokasi panen. Salah satunya dikirim ke daerah lain. Seperti ke daerah Surabaya dan sekitarnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia