Sabtu, 22 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Features

Kisah Nurali, Juru Kunci Candi Tegowangi yang Lulusan SMK

Usai Lengser, Gus Dur Datang Malam-Malam

06 Januari 2020, 15: 05: 29 WIB | editor : Adi Nugroho

nurali candi tegowangi

PENJAGA: Nurali berada di depan bangunan utama Candi Tegowangi. (Rendi Mahendra - radarkediri)

Share this          

Latar belakang pendidikannya jauh dari dunia kepurbakalaan, tamatan jurusan teknik listrik dari SMK Kosgoro Pare. Tapi, baginya, menjadi juru kunci Candi Tegowangi menjadi cara dia mencari ilmu. Atau bahkan berbagi ilmu.

RENDI MAHENDRA, KOTA, JP Radar Kediri

Jarum jam menunjukkan pukul 14.05 WIB. Mendung hitam menggelayut di langit, di atas Candi Tegowangi. Seorang lelaki berseragam warna cokelat dengan tulisan cagar budaya terbordir di lengan baju sebelah kiri, terlihat membantu seorang pedagang. Menolongnya membereskan barang dagangan yang sebelumnya dijajakan di dekat area candi. Keduanya seperti bergegas. Sebab rintik hujan mulai berjatuhan.

candi tegowangi

ANTUSIAS: Nurali saat menjelaskan tentang Candi Tegowangi. (Rendi Mahendra - radarkediri)

Setelah selesai membantu pedagang itu, lelaki tersebut berlari ke pos penjagaan yang tak jauh dari tempat itu.  Berteduh dari rintik hujan yang kian banyak.

Lelaki itu adalah Nurali. Sehari-hari merupakan juru kunci candi yang berada di Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri. Pos penjagaan itu adalah tempatnya memantau candi setiap harinya. Terutama memantau arus pengunjung yang datang.

Berukuran tak terlalu besar, hanya 6 x 6 meter, pos penjagaan itu juga dilengkapi pengeras suara. Fungsinya untuk memanggil pengunjung jika ada barang yang terjatuh. “Jika dompet atau barang pengunjung jatuh dan ditemukan petugas di sini, pengeras suara ini untuk mengumumkan (berita) kehilangan,” ucap Nurali.

Memang, menurut lelaki yang tinggal sekitar 2 kilometer dari lokasi kerjanya itu, jumlah pengunjung candi meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Relatif banyak. Terutama saat hari libur.

“Selama liburan Natal dan Tahun Baru kemarin pengunjung yang datang ke sini mencapai 3 ribu orang,” terang pria dengan tiga orang anak ini.

Pria kelahiran 1970 ini terasa sekali antusiasmenya saat berbicara tentang Candi Tegowangi. Terlihat sekali bila dia menikmati pekerjaannya. Baginya, menjadi juru kunci di tempat itu memberinya banyak kesenangan. Bisa mengenal banyak orang. Karena pengunjungnya datang dari berbagai kalangan. Mulai dari anak usia taman kanak-kanak (TK) hingga arkeolog dari  mancanegara. Tokoh-tokoh penting pun juga pernah datang ke tempat ini.

“Bahkan Gus Dur pun pernah berkunjung ke Candi Tegowangi. Beberapa bulan setelah lengser. Malam-malam, sekitar jam sebelas. Gus Dur ke sini bersama tokoh Konghucu dari Surabaya,” kenang Nurali, menceritakan kunjungan Presiden keempat RI tersebut.

Padahal, latar belakang pendidikan Nurali tidak berhubungan dengan pekerjaannya saat ini. Lelaki yang beralamat di Desa Langenharjo, Kecamatan Plemahan ini adalah lulusan dari SMK Kosgoro Pare. Jurusannya dulu adalah teknik listrik. Namun, baginya, menjadi juru kunci di Candi Tegowangi merupakan tempat mencari ilmu. Atau juga tempat berbagi ilmu.

“Di Balai Pelestarian Cagar Budaya Mojokerto kan sering ada seminar. Saya banyak belajar dari arkelog. Saya serap ilmunya. Lalu jika ada pengunjung ke sini, jika bertanya informasi tentang Candi Tegowangi, saya bisa menjelaskan,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Kediri.

“Bahkan saya senang jika ada yang bertanya. Dengan begitu saya bisa berbagi ilmu,” tambah Nurali.

Sesaat setelah hujan reda, pria yang menjadi juru kunci sejak 1997 ini berkeliling Candi Tegowangi. Dia sudah sangat familiar sudut-sudut lokasi yang tiap hari selalu dikelilinginya itu. Seperti relief cerita Sudamala yang menghiasi dinding candi.

“Relief ini berisi cerita Sudamala tentang (penyucian) Dewi Durga. Dewi Durga yang sebelumnya dalam bentuk jelek dan jahat menjadi Dewi Uma dalam bentuk baik. Penyucian ini dilakukan Sadewa, salah satu tokoh Pandawa Lima. Tapi sebetulnya bukan Sadewa yang meruwat. Melainkan Bathara Guru yang merasuki Sadewa,” cerita Nurali panjang lebar. Persis seperti yang sering dia ceritakan kepada pengunjung yang bertanya tentang relief tersebut.

Juga ada yoni yang ada di puncak candi. Menurutnya, yoni merupakan simbol perempuan. Pasangannya adalah lingga. Dan, masih menurut dia, harusnya ada lingga pula di Candi Tegowangi. Tapi, hingga saat ini lingga itu belum ditemukan.

Tentu saja, bukan melulu cerita gembira yang dia dapat selama menjadi juru kunci. Juga ada cerita tentang sulitnya menjaga dan merawat candi. Seperti saat musim penghujan. Karena lumut mulai tumbuh di batu-batu candi. Yang mengharuskan Nurali harus selalu sigap membersihkan.

Nurali pun melakukannya dengan sepenuh hati. Karena baginya, merawat Candi Tegowangi merupakan pengabdian terhadap sejarah. Juga upayanya menjaga dan merawat situs. Agar pengunjung dan peneliti bisa nyaman berada di candi tersebut. 

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia