Sabtu, 22 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Telur dari Blitar Bikin Harga Anjlok Telur Kediri, Ini Sebabnya

06 Januari 2020, 13: 45: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

TURUN HARGA: Pedagang telur di Pasar Setonobetek melayani pembeli. Harga telur ayam mulai menunjukkan tren menurun dalam beberapa hari terakhir.

TURUN HARGA: Pedagang telur di Pasar Setonobetek melayani pembeli. Harga telur ayam mulai menunjukkan tren menurun dalam beberapa hari terakhir. (HABIBAH MUKTIARA-JP Radar Kediri)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Tren turunnya harga telur ayam terjadi di awal tahun ini. Salah satu penyebabnya adalah  menumpuknya stok akibat terganggunya pengiriman. Jatah telur yang harusnya dikirim ke Ibu Kota akhirnya dilimpahkan ke daerah-daerah terdekat dari sentra produksi telur tersebut. Salah satunya adalah Kota Kediri.

“Seharusnya telur dari (peternak) Blitar dikirim ke Jakarta. Namun karena banjir akhirnya tidak bisa dikirim. Jadi kemudian dilimpahkan ke kota-kota terdekat seperti Kota Kediri ini,” ujar seorang pedagang di Pasar Setonobetek yang bernama Sri Widarti.

Penurunan harga telur sebenarnya sudah terjadi sejak masuk Januari. Padahal, komoditas ini merupakan penyumbang inflasi selama Desember 2019 lalu.

Di lapaknya Sri mengatakan menjual telur dengah harga Rp 24.500 per kilogram saat Natal bulan lalu. Kemudian, memasuki tahun baru harganya mulai berangsur turun. Mulai Rp 22 ribu dan kemarin menjadi Rp 21 ribu per kilogramnya.

“Waktu sebelum Natal kemarin, meski harga telur tinggi tapi masih banyak pembeli,” terangnya.

Kini, ketika harga murah, Sri mengaku tingkat pembelian eceran juga tetap. Tak mengalami lonjakan ataupun penurunan yang berarti. Karena itulah, meskipun stok melimpah perempuan kelahiran 1977 ini mengaku tak mengubah kuantitas pengambilannya. Dalam durasi pembelian selama dua hari sekali dia mengambil sekitar empat kuintal saja.

“Karena saya nggak pernah numpuk. Jadi empat kuintal digunakan selama dua hari,” ujar Sri, sembari menerangkan bahwa lokasi kulakan telurnya dari peternak di Desa Silir, Kecamatan Wates.

Tarmi, pedagang telur di Pasar Pahing, juga mengatakan hal serupa. Wanita 60 tahun ini melabeli telur jualannya seharga Rp 22 ribu per kilogram. Sebelumnya dia mengaku menjual dengan harga Rp 24 ribu per kilogram.

Ketika dikonfirmasi, Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Ali Mansur membenarkan soal tren penurunan harga telur tersebut. “Telur ayam ras ini harga menurun terus. Harga di pasaran mulai Rp 20 ribu sampai Rp 23 ribu per kilogram,” terang Ali.

Ali menjelaskan, penyebab turunnya harga telur karena stok yang melimpah. Selain itu pada Januari tidak banyak momen hari besar.

Tidak hanya itu saja, faktor lain penyebab turunnya harga telur adalah adanya pengaruh telur dari wilayah Blitar yang masuk ke Kota Kediri. Karena jika dari faktor peternakan, dari segi produksi masih normal. Curah hujan juga tidak mempengaruhi produksi telur ayam ras. 

“Infonya telur dari Kabupaten Blitar masuk karena pengiriman ke Jakarta tersendat karena banjir,” imbuhnya.

Degan kondisi saat ini, harga telur belum merugikan pihak peternak. Karena harga kandang masih sekitar Rp 18 ribu hingga Rp 19 ribu per kilogramnya. Untuk harga telur sendiri, terdapat dua jenis. Telur dengan cangkang yang tipis dijual dengan harga Rp 20 ribu  per kilogram. Sedangkan untuk harga telur  ayam cangkangnya tebal, pada umumnya dijual dengan harga Rp 22 ribu  per kilogram. (ara)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia