Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Politik

Waspada Longsor Ngetos! Batu Raksasa Menggelinding di Jalan

05 Januari 2020, 18: 39: 25 WIB | editor : Adi Nugroho

longsor ngetos

CEK LOKASI: Anggota Koramil Ngetos dan Tagana Nganjuk mengecek kondisi longsor di Desa Blongko, Ngetos, Kamis lalu (2/1). (Andhika Attar - radarkediri)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk – Kewaspadaan terhadap bencana longsor harus mulai ditingkatkan. Di Desa Blongko dan Klodan, Kecamatan Ngetos, tanahnya tergerus akibat hujan yang turun beberapa hari terakhir. Akibatnya, sebuah batu besar menggelinding dan jatuh ke jalan desa.

          Koordinator Taruna Siaga Bencana (Tagana) Nganjuk Aris Trio Effendi mengatakan, kejadian pertama dilaporkan pada Kamis lalu (2/1). Yakni bertempat di tanah Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Kediri di Dusun Tengger, Desa Blongko, Ngetos. “Kami dapat laporan dari warga ada batu yang menggelinding ke jalan,” ujarnya.

Bahkan, batu tersebut berukuran cukup besar. Diperkirakan diameter batu tersebut mencapai sekitar satu meter. Batu tersebut menggelinding ke jalan aspal desa setempat dari atas tebing dengan ketinggian sekitar 2-3 meter. Beruntung, saat batu tersebut menggelinding, tidak ada warga yang melintas.

ngetos

RAWAN LONGSOR: Petugas saat mengecek kondidi tebing di Ngetos. (Andhika Attar - radarkediri)

“Kami bersama unsur TNI langsung mengecek ke lokasi. Beruntung tidak ada korban akibat kejadian tersebut,” tutur Aris.

Dia melanjutkan, sehari berselang, Jumat lalu (3/1), dilaporkan lagi ada batu yang kembali menggelinding. Hanya saja, lokasinya berbeda. Kali ini berada di Desa Klodan, Ngetos. Batu yang menggelinding tersebut mempunyai ukuran yang tak jauh berbeda dengan sebelumnya.

Beruntung, pada kejadian kedua tersebut juga tidak ada warga sekitar yang menjadi korban. Hanya saja, Aris memprediksi, jika hujan kembali turun dengan deras di wilayah tersebut dikhawatirkan kejadian serupa akan terulang. “Ditakutkan kalau hujan lalu longsor pas ada orang lewat di sana,” katanya.

Menurutnya, batu-batu tersebut longsor karena unsur tanah pada tebing tersebut semakin  tergerus. Terlebih dengan curah hujan yang turun belakangan ini. “Ya tanahnya lama-lama tergerus. Ditambah beban dari batu tersebut,” tutur Aris.

Dia mengimbau kepada warga sekitar agar tetap berhati-hati dan waspada jika melewati daerah yang rawan longsor. Terlebih jika saat itu sedang atau sehabis turun hujan besar. “Yang penting harus selalu waspada dengan keadaan sekitar,” imbuh Aris.

Kekhawatiran Aris tersebut bukan tanpa alasan. Pasalnya, di atas tebing tersebut terdapat sungai yang mengalir. Belum lagi, tebing tersebut memang rawan longsor. “Pepohonan juga jarang di titik tersebut,” tambahnya.

Seperti diberitakan, wilayah Ngetos dan Sawahan memang masuk dalam zona merah tanah longsor. Sehingga masyarakat di dua daerah tersebut memang harus mewaspadai potensi itu.

Sementara itu, di daerah Loceret dan Pace juga tercatat rawan tanah longsor. Terutama yang berada di sisi selatan dan wilayah lereng Gunung Wilis. Hanya saja, kedua daerah itu masih masuk dalam zona kuning tanah longsor.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia