Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Kolom
ANDHIKA ATTAR

Jangan Mudah Latah dan Termakan Zaman

05 Januari 2020, 18: 33: 16 WIB | editor : Adi Nugroho

Andhika Attar

Oleh: Andhika Attar (radarkediri)

Share this          

Berita Terkait

Ada yang pernah berkata bahwa tidak ada yang tetap pada dunia ini. Satu-satunya ketetapan adalah perubahan.

Kalimat tersebut mungkin sudah pernah menyelinap di telinga dan otak kita. Meskipun tidak hinggap, setidaknya kalimat tersebut pernah singgah. Walau dalam kurun waktu yag singkat.

Ya, tidak ada yang tetap di dunia ini. Setiap zaman pasti ada perubahan. Baik yang kita sadari maupun tidak. Mungkin kita sadar dengan adanya perubahan tersebut tapi kita pura-pura tidak tahu. Bisa saja.

Bagi sebagian orang, merasa tidak tahu atau berlagak lupa adalah sebuah keuntungan. Tidak perlu merasa berdosa karena enggan menanggung akibat yang terjadi di kemudian hari.

Tetapi, sebagai manusia yang diberi akal dan pikiran, sudah selayaknya kita tidak mengambil pilihan itu. Bait terakhir dari ramalan Jayabaya pun pernah menyinggung hal itu.

“Sak beja-bejane wong kang lali, isih beja wong kang eling lan waspada.”

Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia, artinya seberuntung-beruntungnya orang yang lupa, masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada.

Memang sudah seharusnya setiap perubahan harus disikapi secara dewasa. Dengan pikiran yang terbuka dan hati yang lapang dada. Karena kembali lagi, perubahan sudah pasti akan menghampiri.

Dilihat dari segi dan sisi manapun, perubahan pasti akan terjadi. Mulai dari teknologi, gaya hidup, pakaian, tren, hingga pola pikir manusia. Semua akan mengalami perkembangan. Sesuai dengan asupan dan lingkungan tempat kita berkembang.

Namun, apakah semua perubahan harus diikuti secara membabi buta? Apakah setiap perkembangan harus ditelan mentah-mentah tanpa tahu efek dan gunanya? Dengan segala hormat dan kerendahan hati, saya memilih untuk tidak setuju dengan hal itu.

Sudah sewajarnya setiap perubahan akan membentuk pola pikir dan perilaku kita. Contoh mudahnya adalah perkembangan teknologi gawai. Coba tengok pada tahun lalu. Tahun 2019 yang baru kita lewati beberapa hari ini.

Berapa banyak tipe dan gawai yang diluncurkan dalam satu tahun tersebut? Banyak, banyak sekali. Satu merek gawai bisa minimal dua hingga tiga kali meluncurkan amunisi terbarunya.

Itu pun baru dari satu lini merek gawai. Belum dari produsen gawai lainnya. Jika ditotal, jumlahnya akan seabrek. Lalu, apakah semua gawai tersebut harus kita miliki dan kuasai? Saya rasa tidak. Seorang yang bijak tentu akan mempunyai prinsip yang kuat.

Berlanjut pada sektor fashion. Mulai dari pakaian, gaya hidup, bahkan pola pikir dan gaya bahasa kita akan terbawa tren terkini. Anak gaul masa kini jika boleh meminjam istilah generasi sekarang.

Apakah salah? Tentu tidak.

Lalu, apa masalah dengan mengikuti semua tren yang ada setiap waktunya? Masalahnya, adalah pada kebutuhan dan kemampuan kita. Apakah kita mampu untuk mengikuti gaya hidup tersebut? Apakah kita memang butuh mengikuti tren yang sedang hits kala itu?

Masing-masing dari kita sendiri yang dapat menjawabnya. Memang, tidak ada yang salah dengan mengikuti tren. Namun, jangan sampai kita dibodohi dan dengan suka rela menjadi budaknya.

Tidak ada yang salah dengan menjadi diri sendiri ketika semua orang memilih untuk diseragamkan tren. Di kala semua orang berlomba mengganti gawai setiap model yang keluar, tidak salah jika kita tetap menggunakan gawai yang sebelumnya.

Semua tergantung kebutuhan dan kemampuan kita. Kalau memang gaya pakaian atau gawai kita masih relevan dengan perubahan yang ada, kenapa harus kebakaran jenggot mencari yang terbaru? Terlebih, jangan sampai menjadi konsumtif dan gila dengan tren yang ada.

Lebih jauh lagi, jangan menjadi manusia yang latah. Tidak semua hal tersebut harus dan wajib diikuti. Ketahui dulu kebutuhan yang kita perlukan. Jangan tergesa-gesa dan menutup mata hingga mengesampingkan hal-hal yang prinsipil.

Mengikuti perkembangan zaman memang perlu. Namun jangan sampai kita termakan perkembangan zaman.

Bagaimana pun juga, setiap waktu perubahan pasti akan datang. Hal itu sudah menjadi kodratnya. Tinggal kita pintar-pintar untuk memilahnya. Mana perkembangan yang cocok dan harus diikuti, atau sebaliknya. Biarkan 2019 berlalu dengan setiap tren yang ada. Mari menyongsong 2020 ini dengan lebih selektif.

Jangan mau menjadi latah dan termakan zaman. Jangan mau diseragamkan oleh tren yang ada. Berani ambil sikap. Jika memang tren yang berkembang tidak sesuai, tinggal saja.

Tidak ada salahnya menjadi original dan berbeda. Pakai gawai sesuai kebutuhan. Pakai pakaian yang memang nyaman. Kita diberi akal untuk berpikir dan hati untuk merasakan.

Selamat memasuki tahun 2020. Semoga segala jeram dan ombak yang menerjang tidak akan menyurutkan nahkoda untuk mengarungi samudera. (Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia