Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Dewi Febriyanti, Sekolah Sambil Rawat Kakak Berkebutuhan Khusus

Kerja Berjualan Teh untuk Biaya Hidup

05 Januari 2020, 18: 21: 33 WIB | editor : Adi Nugroho

Dewi Febriyantiningtyas

TEGAR: Dewi Febriyantiningtyas melayani pembeli di lapak teh tempatnya bekerja. Untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan sang kakak, dia harus bekerja sepulang sekolah. (Dewi Febriyantiningtyas for radarkediri)

Share this          

Menyandang status sebagai anak yatim piatu, Dewi Febriyantiningtyas harus merasakan kerasnya hidup di usia remaja. Dia harus bersekolah sembari bekerja dan merawat kakaknya yang berkebutuhan khusus. Dalam keterbatasannya, masih terselip asa untuk melanjutkan kuliah selepas MA.

SRI UTAMI. PATIANROWO, JP Radar Nganjuk

“Setiap hari begini. Sepulang sekolah saya langsung bekerja,” ujar Dewi Febriyantiningtyas, membuka pembicaraan tentang aktivitas sehari-harinya. Gadis yang tinggal di Desa Bukur, Patianrowo ini memang tidak bisa menikmati masa muda seperti teman-temannya kebanyakan.

          Gadis yang akrab disapa Dewi itu harus merasakan kerasnya hidup. Terutama setelah Samito, sang ayah, meninggal pada 2016 silam. Dewi yang semula tinggal di pondok pesantren itu harus pulang ke rumahnya.  

          Dia hanya tinggal bersama Kasmiati, sang nenek, dan Novi Anggraini, 22, kakaknya. Adapun Nurati, sang ibu, sudah meninggal sejak Dewi duduk di bangku SD. Kehidupan gadis berambut panjang itu semakin berat setelah Dewi ditinggal pergi sang nenek pada 2018 silam.

          Praktis dia hanya tinggal bersama Novi Anggraini, kakaknya yang berkebutuhan khusus. Jika biasanya Novi dirawat oleh neneknya, semua peran harus diambil oleh Dewi. “Saya mulai bekerja. Sekolah sambil kerja,” lanjut gadis yang Februari nanti berusia 17 tahun itu.

          Aktivitas harian gadis kelahiran 27 Februari 2002 silam itu langsung berubah drastis. Bangun pagi pukul 04.00, dia harus memasak untuk kakaknya. Selebihnya, dia memandikan sang kakak sebelum berangkat ke sekolah sekitar pukul 06.00.

          Sekitar pukul 13.30, gadis yang bersekolah di MA Alhidayah, Termas, Baron itu baru pulang. Hanya sempat beristirahat sekitar satu jam, dia harus mulai bekerja sekitar pukul 15.00. “Awalnya saya bekerja di warung mi ayam,” tutur gadis berjilbab itu.

          Berangkat bekerja pada sore hari, Dewi baru pulang sekitar pukul 22.00. Dalam sebulan, dia mendapat gaji Rp 600 ribu. Dengan gaji itu, Dewi bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Tetapi, dia tidak bisa bertahan lama di sana.

          Bungsu dari empat bersaudara ini memilih keluar dari pekerjaannya. Alasannya, dia tidak mempunyai waktu untuk belajar. “Pulangnya terlalu malam. Saya tidak bisa belajar,” bebernya.

          Selepas dari warung mi ayam, Dewi ganti bekerja menjaga lapak penjual teh. Bekerja mulai pukul 15.00, dia harus bekerja hingga pukul 20.00. Sebagai imbalan, dia mendapat bayaran Rp 300 ribu sebulan.

          Meski gaji yang didapat berkurang separo, Dewi mengaku lebih nyaman bekerja berjualan teh. Alasannya, dia masih punya cukup waktu untuk belajar.

          Apakah uang Rp 300 ribu yang didapat sudah cukup untuk membiayai kebutuhan hidupnya bersama sang kakak? Ditanya demikian, Dewi mengaku berusaha mencukup-cukupkan. “Bagaimana caranya harus cukup,” tutur Dewi sambil tersenyum.

          Dengan gaji yang kecil itu, Dewi masih berusaha menyisihkan uang setiap bulannya. Yaitu, antara Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu. Uang itu sengaja ditabung untuk mengantisipasi kebutuhan mendesak. Misalnya, jika gadis kelas XII MA ini mendadak sakit. “Saya tidak punya BPJS, jadi kalau sakit harus tetap punya uang,” ungkap gadis yang tidak mendapat bantuan dari pemerintah itu berusaha tegar.

          Meski kondisi yang serbaterbatas, Dewi bersyukur dirinya mendapat jatah makan dua kali sehari dari tempatnya bekerja. Yaitu, setiap sore dan malam hari. Adapun pagi hari, dia tidak terbiasa sarapan. Sehingga, Dewi cukup menyiapkan makanan untuk Novi, kakaknya, sebelum berangkat ke sekolah.

          Selebihnya, Dewi kadang mendapat bantuan beras dari saudaranya. Beras inilah yang dimasak untuk makan setiap harinya. “Kadang diberi beras oleh adiknya kakek,” imbuh gadis yang tiga tahun menjadi anggota paskibraka kecamatan ini.

          Menanggung beban yang berat dibanding anak-anak seusianya, diakui Dewi pernah membuatnya merasa suntuk. Jika sudah demikian, gadis yang hanya tinggal berdua dengan kakaknya itu memilih untuk diam menyendiri di dalam kamar. Dengan cara itu dia bisa menenangkan diri dan semangat lagi menjalani hari-harinya.

          Dalam hatinya dia juga tetap menyimpan asa untuk bisa melanjutkan kuliah setelah dirinya lulus MA nanti. Gadis yang bercita-cita menjadi sosiolog ini ingin melanjutkan kuliah di jurusan sosiologi.

          Sembari terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, Dewi berharap pemerintah bisa membantunya mewujudkan cita-citanya. “Dulu pernah ditawari jadi pramugari, tapi biayanya kan mahal. Saya pasrah saja, tetapi saya ingin nanti bisa melanjutkan kuliah setelah lulus MA,” tutur gadis yang 2018 lalu menjadi Duta Kesehatan Remaja Kabupaten Nganjuk ini.        

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia