Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Panen Gagal, Ini Akibatnya pada Harga Sayuran di Kediri

05 Januari 2020, 17: 43: 52 WIB | editor : Adi Nugroho

harga sayuran

MASIH MAHAL: Pedagang menawarkan dagangan sayurnya di Pasar Induk Pare, kemarin. Di awal tahun ini harga komoditas ini melonjak. (Habibah Anisa - radarkediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Memasuki awal tahun, harga komoditas sayuran mulai merangkak naik. Tidak hanya satu jenis saja, namun hampir semua sayuran mengalami lonjakan harga.

Hal tersebut diungkapkan Prasetyo, salah satu pedagang sayur di Pasar Induk Pare. “Di awal tahun ini semua sayuran mengalami kenaikan harga,” ujar laki-laki berusia 30 tahun itu.

Pedagang yang karib dipanggil Pras ini mengatakan, kenaikan harga sayuran karena berkurangnya stok di pasaran. Sementara itu, peminat sayur masih sangat tinggi. Karena hal tersebut, harga sayur mengalami kenaikan.

Lantas mengapa persediaan sampai menipis? “Penyebabnya karena cuaca. Akibat curah hujan yang tinggi, banyak panen yang gagal,” ulas Pras.

Sebelum memasuki tahun baru, di lapak milik Prasetyo, harga sawi putih dijual Rp 15 ribu per kilogram (kg). Kini setelah tahun baru, harga sawi putih dijual seharga Rp 22 ribu per kilogram.

Sebelum stok berkurang, Prasetyo mengaku, dalam satu hari dapat menjual sebanyak 2000 kilogram. Namun kini karena barang sedikit, dalam satu hari ia hanya menjual sebanyak 700 kilogram.

“Kalau sawi putih saya langsung dari daerah Malang,” tutur laki-laki kelahiran 1989 ini.

Meski mengalami kenaikan harga, dagangan sayur miliknya cepat terjual. Bahkan ketika barang baru sampai, belum sampai dipindahkan sudah laku. Tidak hanya sawi putih, kenaikan harga juga terjadi pada tomat. Semula tomat dijual dengan harga Rp 5.000 per kilogram, kini harganya Rp 7.000 per kilogram.

“Stok kurang sedangkan peminat banyak, dan juga sebagian dikirim ke luar pulau,” terang Minto, 40, pedagang lain di Pasar Induk Pare.

Untuk dijual ke luar pulau, dia menjelaskan, tomat dikemas menggunakan peti. Sementara untuk dijual ecer, dikemas menggunakan plastik. Dengan perbedaan kemasan juga mempengaruhi harga jual. Untuk dijual ecer, harga Rp 6.000 per kilogram. Padahal sebelumnya masih Rp 5.000 per kilogram.

“Karena lokasi pengiriman terkena bencana, sehingga banyak yang tidak mengirim,” ungkap Minto.

Karena kurangnya barang, dalam satu hari dia hanya menjual sebanyak 200 kilogram. Itu untuk tomat yang biasa. Sedangkan untuk tomat yang bagus, dalam satu hari dapat menjual 3.000 kilogram.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia