Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Nasib Cabai di Musim Penghujan: Pohon Ambruk, Buah Busuk  

05 Januari 2020, 15: 50: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

penyakit cabai

RAWAN: Petani di Desa Bangkok, Kecamatan Gurah saat mengecek kondisi tanaman cabainya. (Habibah Anisa - radarkediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Petani cabai di wilayah Kabupaten Kediri terus meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman serangan hama dan penyakit saat musim penghujan.

Terlebih saat ini petani di wilayah sentra cabai, yakni Kecamatan Kepung dan Kecamatan Puncu. “Kalau musim hujan kayak gini, yang banyak bukan hama akan tetapi penyakit,” terang Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri Anang Widodo melalui Kasi Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Hortikultura Arahayu Setyo Adi.

Kepada wartawan ini, Adi menjelaskan serangan penyakit ini hampir dialami oleh semua jenis tanaman hortikultura atau tanaman kebun. Penyakit yang sering menyerang tanaman hortikultura terdapat dua jenis. Penyakit yang menyerang di dalam tanah, dan penyakit yang menyerang pada daun.

Untuk penyakit yang berada di dalam tanah biasanya diakibatkan bakteri yang bernama jamur fusarium. Jika tanaman terkena jamur fusarium, tanaman tersebut akan sangat mudah layu. “Hampir semua tanaman jenis horti, apabila terkana dua jenis penyakit itu akan mudah layu,” imbuhnya.

Untuk penyakit yang diatas, atau yang menyerang daun adalah penyakit daun yang disebabkan oleh fusarium dan ralstonia atau disebut dengan busuk daun. Ketika tanaman mengalami busuk daun, maka terdapat sebuah bintik atau spot di bagian daun. “Terserangnya tanaman horti tergantung dengan petani yang menangani dan mengendalikannya,” tutur Adi.

Adi menjelaskan apabila tanaman tersebut terkena bakteri makan tanaman harus diberi bakterisida dan fungisida. Di wilayah Kabupaten Kediri, untuk tanaman yang paling banyak adalah cabai. Tanaman cabai tersebut, rentang terhadap jamur phytopthora atau busuk buah. Selain itu, cabai juga rentan terkena bakteri ralstonia yang kerap membuat layu pada tanaman. “Namun hingga saat ini masih belum ada laporan, terkait dengan adanya gagal panen karena penyakit,” ungkap Adi.

Dikonfirmasi secara terpisah, Pramono, 30, salah satu petani cabai di Desa Bangkok, Kecamatan Gurah. Selama musim hujan, tanaman cabainya sering mengalami kerusakan.

Kerusakan tersebut membuat tanaman cabainya membusuk. “Sudah saya kasih obat pestisida, namun karena hujan jadi obatnya hilang lagi,” terang Pramono ketika ditemui kemarin.

Di hadapan awak media ini, Pramono mengatakan bahwa tanaman cabainya baru sekitar tiga minggu masuk musim panen. Selain adanya buah yang busuk, dengan kondisi hujan angin membuat pohon cabainya roboh. “Kalau sudah roboh, jadi nggak bisa didirikan lagi,” imbuhnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia