Sabtu, 29 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Features

Dedikasi Supriyono untuk Olahraga Renang Kota Kediri

Gembleng Atletnya agar Raih Prestasi

05 Januari 2020, 15: 42: 27 WIB | editor : Adi Nugroho

supriyono

APRESIASI: Supriyono menunjukkan koleksi piala kejuaraan renang di rumahnya, Kelurahan Burengan, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. (Anwar Basalamah - radarkediri)

Share this          

Dedikasinya sungguh luar biasa. Sudah 33 tahun Supriyono berkiprah dalam kepelatihan renang di Kota Kediri. Banyak atlet berprestasi ditelurkan. Dari level daerah hingga nasional.

Supriyono tengah bersantai. Dia menghabiskan waktu Jumat (3/1) paginya bersama sang cucu. Bercengkerama di teras rumah. Bermain dan bercanda sembari menyeruput kopi hitam di atas meja. “Seminggu ini memang libur dulu latihannya,” ujarnya saat ditemui di rumah orang tuanya di Kelurahan Burengan, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.

Sebagai seorang kakek, di saat senggang, Supriyono selalu menyisihkan waktunya dengan keluarga. Tapi, sebagai pelatih renang, jangan tanya soal dedikasi dan komitmennya. Dia sudah menjadi pelatih selama 33 tahun. “Waktu itu saya baru selesai kuliah,” ungkap pria kelahiran Kediri, 24 April 1959 ini mengawali perbincangan.

Supriyono menamatkan S1-nya di Sekolah Tinggi Olahraga (STO)–sekarang menjadi fakultas di Universitas Negeri Surabaya (Unesa)– pada 1985. Setelah lulus, dia memutuskan pulang kampung ke Kediri. Kemudian, bergabung ke salah satu klub renang menjadi pelatih.

Di kala muda, Supriyono merupakan atlet renang andalan Kota Kediri. Banyak kejuaraan sudah diikutinya. Kiprahnya terus berlanjut saat kuliah. Sekali waktu, dia membuka privat kepelatihan bagi calon perenang. “Jadi saya mengawali melatih saat mahasiswa,” ungkap pelatih berlisensi C nasional ini.

Pengalaman di zaman mahasiswa dan bergabung di klub membuat Supriyono mantap terjun ke dunia kepelatihan renang. Karenanya, pada 1986, dia mendirikan klub renang Arwana. Latihannya dipusatkan di kolam renang Paggora di Jalan Ahmad Yani, Kota Kediri.

Saat ini, Supriyono memiliki 70 anak didik. Sebanyak 48 anak di antaranya digembleng untuk prestasi. “Sisanya hanya berlatih renang. Tidak disiapkan untuk kejuaraan. Supaya sehat saja,” kata bapak dua anak dengan tiga cucu ini.

Mereka yang bergabung ke Arwana merupakan anak-anak usia 5 – 17 tahun. Supriyono ingin olahraga renang di Kota Kediri bisa berbicara di kancah daerah maupun nasional. Makanya, pembinaan usia dini harus berjalan baik.

Supriyono mengakui, beberapa anak didiknya telah dipanggil menjadi atlet daerah. Misalnya saja Nurita yang saat ini mengikuti training center (TC) pekan olahraga nasional (PON) Papua 2020. Kemudian ada Alfin Bayu yang diterima di sekolah olahraga Ragunan, Jakarta.

Selain itu, ada Ragil yang kini mengikuti pemusatan pelatihan daerah (puslatda) di Sidoarjo. “Jadi anaknya sekarang sekolah di Sidoarjo. Supaya lebih dekat,” ungkap pria yang tinggal di Desa Gogorante, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri ini.

Para atlet asal klub Arwana memang diperhitungkan di Kota Kediri. Supriyono mengakui anak didiknya kerap mewakili Kota Tahu dalam kejuaraan renang daerah. Di pekan olahraga provinsi (porprov) tahun lalu di Bojonegoro, dari 10 atlet yang dikirim, 8 anak berasal dari Arwana.

Di cabang olahraga (cabor) tersebut, Kota Kediri belum terlalu moncer. Di porpov, mereka hanya menggondol satu medali emas saja. “Satu-satunya emas itu dari atlet kami. Dari gaya dada,” ungkap Supriyono.

Di kejurda atau kejuaraan nasional (kejurnas), Supriyono mengaku, klubnya menjadi spesialis di gaya dada. Namun, sebenarnya dia tidak pernah membentuk para atletnya menguasai gaya tertentu saja. “Kami lihat perkembangannya. Tapi saya juga kurang tahu, selalu gaya dada yang jadi andalan,” katanya, lalu tertawa.

Untuk menjadi perenang, calon atlet harus bekerja keras saat latihan. Di klubnya, latihan digelar lima kali dalam seminggu. Liburnya Selasa dan Sabtu.

Karena sebagian besar pelajar, latihan baru dimulai pukul 16.30. Setelah tiga jam berlatih, mereka meninggalkan kolam renang sekitar pukul 19.30.

Sementara bagi pemula, mereka berlatih sore hari. Supriyono mengatakan, latihan dimulai pukul 14.30-16.00. Selama latihan, tim pelatih akan memantau terus para pemula tersebut. Mereka yang berpotensi, bakal dipoles lagi di latihan malam harinya. “Kami siapkan untuk jadi atlet,” ujarnya.

Di Arwana, Supriyono dibantu empat asistennya. Dulu, saat masih muda, dia menukangi langsung perenang pemula dan prestasi. Namun sekarang, dia hanya meng-handle untuk perenang prestasi. Untuk pemula, dia menyerahkan ke asistennya.

Asisten itu termasuk dua anaknya yang sekarang ikut membantunya di Arwana. Karena itu, sebelum memutuskan pensiun, Supriyono tidak pusing lagi memikirkan regenerasi.

 

Sudah Punya Pewaris, Tak Waswas Pensiun

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pepatah itu sangat tepat dialamatkan pada keluarga Supriyono. Dua anaknya, Septianing Lusianti dan Renditya Prima Putra, mewarisi bakat olahraga renang dari sang ayah. Bahkan, keduanya kini menjadi asisten pelatih di klub Arwana.

Supriyono mengaku, dua anaknya dulu atlet renang. Meski belum masuk level nasional, Lusi dan Rendi sering mengikuti kejuaraan tingkat daerah. “Dua-duanya atlet. Kuliahnya juga olahraga di Unesa seperti saya,” paparnya.

Lusi, anak pertama, pernah merebut medali emas di Porprov Malang beberapa tahun silam. Dia turun sebagai peselam. Sementara sang adik pernah menjadi wakil kampusnya dalam pekan olahraga mahasiswa (Pomnas). “Mereka sekarang menjadi dosen di UNP (Universitas PGRI Nusantara),” ungkapnya.

Dengan bekal tersebut, Supriyono tidak bingung mencari penggantinya di Arwana. Pasalnya, cepat atau lambat, dia akan pensiun sebagai pelatih. Sehingga setelah pensiun nanti, sang anak yang akan mewarisi untuk melatih para perenang muda di Kota Kediri.    

Di keluarga besarnya, sebenarnya bukan hanya Supriyono dan dua anaknya saja yang jago berenang. Enam saudara kandungnya merupakan atlet renang Kota Kediri. Hanya saja, level mereka tidak sama. “Yang bisa dikatakan berprestasi hanya saya dan adik laki-laki,” kata anak ketiga dari tujuh bersaudara ini.

Kemampuan renang satu keluarga itu memang tidak terencana sedari awal. Supriyono mengaku, Sahyid, sang ayah, bukan atlet. Ayahnya adalah tentara angkatan darat (AD). “Tapi lingkungan saya dekat dengan kolam renang,” katanya.

Ya, saat berdinas, kata Supriyono, ayahnya tinggal dekat dengan Paggora. Bahkan, Sahyid merupakan ketua harian di sana.  Zaman itu, Paggora memang dikenal sebagai kolam renang paling bagus di Kediri. “Rumah dinas dekat Paggora. Jadi setiap hari berenang,” ujarnya.

Dari keseharian tersebut, Supriyono mulai gemar dengan olahraga air tersebut. Dia kemudian serius menjadi perenang saat duduk di bangku SMP. Sayang, waktu itu, Kota Kediri belum memiliki klub renang. Akhirnya, latihan dilakukan secara otodidak dan apa adanya.

Hal yang sama dilakukan kakak dan adik-adiknya. Karena lingkungan tempat tinggal berdekatan dengan kolam renang, mereka mau tidak mau harus berbasah-basahan. “Dari kolam renang, kami semua bermimpi jadi perenang andal,” pungkasnya.

                                                

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia