Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Kolom
ANWAR BAHAR BASALAMAH

Pesepak Bola dan Loyalitas

05 Januari 2020, 15: 23: 09 WIB | editor : Adi Nugroho

Anwar Bahar Basalamah

Oleh: Anwar Bahar Basalamah (radarkediri)

Share this          

Tidak banyak pemain sepak bola yang hanya membela satu klub dalam karirnya. Di dunia, jumlahnya hanya segelintir. Paolo Maldini, Fransesco Totti, Carles Puyol, dan Paul Scholes adalah di antara yang sedikit itu. Jika Lionel Messi memutuskan gantung sepatu di Barcelona, pemain asal Argentina itu masuk daftar terbaru.

Di Indonesia, juga tidak banyak ditemukan pemain yang loyal. Kalaupun ada pemain yang bermain di satu klub, jalan karirnya masih di bawah 20 tahun. Sebut saja Tinus Pae dan Ian Kabes di Persipura, Kurnia Meiga di Arema serta Choirul Huda di Persela Lamongan.

Menyandang predikat one man one club memang berat. Sejak sepak bola bertransformasi dari sekadar olahraga menjadi industri, peluang pemain untuk meninggalkan klub lamanya semakin terbuka lebar. Kota kelahiran tak menjadi jaminan seorang pesepak bola loyal terhadap tim pujaannya di masa kecil.

Industri telah mengubah sudut pandat tentang loyalitas pemain sepak bola. Mereka, para pemain itu, boleh berbicara bangga dan mencintai klub kota asalnya. Tetapi, ketika bursa transfer dibuka, ada campur tangan presiden klub, pelatih, manajemen dan agen yang ikut mendepak pemain ‘loyal’ tersebut.

Anda tentu saja tidak meragukan loyalitas Iker Cassilas di Real Madrid. Sejak remaja, kiper asal Spanyol itu selalu bermimpi bisa berjaya dan pensiun di Los Blancos. Gelimang piala dan medali sudah diwujudkannya. Juara La Liga, Copa Del Rey, Liga Champions hingga kejuraan antarklub dunia, pernah digapainya.

Sayang, ada satu impian Casillas yang gagal terwujud. Yakni, menutup karir saat berkostum El Real. Pada 2015, Casillas memilih berlabuh ke Porto. Dari pernyataannya ke media, dia mengaku tidak cocok dengan pelatih saat itu, Julen Lopetegui. Kabar yang lain menyebutkan, Presiden Madrid Florentino Perez, tidak menginginkannya lagi.

Meski berkontribusi besar terhadap klub masa kecilnya itu, tidak ada perayaan khusus saat melepas kepergian Casillas ke Portugal. Yang terlihat hanya mata berkaca-kaca dari mantan kapten timnas Spanyol ketika menjuarai Piala Dunia 2010 itu di ruang konferensi pers.

Daniele De Rossi juga mengalami nasib yang sama di AS Roma. Digadang-gadang sebagai one man one club kedua setelah Totti, kontrak De Rossi justru tidak diperpanjang oleh klubnya pada akhir musim 2018/2019. Dia kini membela klub Argentina, Boca Juniors.

Di dunia sepak bola modern, transfer pemain adalah sesuatu yang lumrah. Mereka bisa saja memutuskan pindah atau bertahan di klub lama. Sepanjang harga yang ditawarkan cocok, ada peluang untuk dilepas. Sebaik atau seloyal apapun dia di klubnya.

Karenanya, sangat sulit mencari pemain loyal semacam Totti dan Maldini sekarang. Dalam perjalanan karir kedua legenda Italia itu, tawaran dari klub lain untuk pindah juga banyak. Dalam proses negosiasi, ada iming-iming gaji besar dan fasilitas yang wah.

Toh, akhirnya Totti yang pernah ditaksir Real Madrid, tetap berkarir di Roma. Begitu pula Maldini yang beberapa kali ditawar Chelsea, tetapi hatinya hanya untuk AC Milan.

Bursa transfer menjadi tolok ukur loyalitas pemain. Sebagai seorang profesional, pemain tentu memikirkan karir mereka ke depan. Karena itu, tawaran menggiurkan dari klub lain akan membuat mereka goyah. Apalagi klub yang dituju memasang target juara.

Kepindahan mereka tak bisa disalahkan. Siapa pun pesepak bola selalu ingin mengejar mimpi-mimpi mereka yang belum terealisasi. Ada yang sukses, ada pula yang gagal.

Michael Owen yang sempat dielu-elukan Liverpludian, memilih hijrah ke Real Madrid. Sejak awal, Owen sangat ngebet mengangkat piala Liga Champions yang mustahil didapatkannya ketika berseragam Liverpool waktu itu. Tetapi, justru setelah pindah, karirnya semakin hancur. Sementara klub lamanya jadi juara pada 2005.

Yang sukses juga terbilang tidak sedikit. Zinedine Zidane memutuskan pindah ke Los Galacticos pada musim 2001/2002. Di klub barunya itu, dia mewujudkan salah satu mimpinya setelah berhasil membawa pulang trofi Liga Champions.

Makanya, di era industri sepak bola seperti sekarang, jangan terisak dengan kepindahan para pemain ke klub lain. Mereka hanya diikat kontrak dengan durasi yang terbatas. Bisa setahun, dua tahun, atau sampai tiga tahun. Belum ada sejarah yang mencatat ada klub yang berani mengontrak pemainnya seumur hidup. Meskipun dia dianggap pemain loyal dan produk akademi klub sekalipun.

Hal yang sama dialami pemain Persik. Empat penggawa akhirnya memutuskan bergabung ke klub lain. Mereka adalah Edo Febriansyah, Taufiq Febrianto, Risna Prabahalabenta, dan Dodi Alexvan Djin.

Banyak Persikmania menyayangkan keputusan mereka pindah klub. Padahal, saat juara Liga 2 2019, empat pemain tersebut merupakan pilar utama tim. Seharusnya, kata suporter, mereka bertahan dan bermain untuk Persik di Liga 1.

Apalagi Risna dan Edo merupakan pemain asli Kediri. Risna dari Kras. Sedangkan Edo kelahiran Mojo. Tapi sekali lagi, mereka adalah pemain profesional. Materi, karir dan peluang juara, adalah pertimbangan untuk meninggalkan klub daerahnya.

Yang perlu diingat, Persik besar bukan hanya andil satu-dua pemain. Pemain boleh datang dan pergi, tetapi sejarah klub akan selalu bersemayam di hati. Persik lebih besar dari pemain yang telah pergi. Bahkan, melebihi apapun dalam diri pemain dan manajemen klub. (Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia