Sabtu, 22 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal
Amy Pratama, Honorer Diskominfo Kota Kediri

Kisah Peraih Emas Kejuaraan Atletik Disabilitas Jatim Asal Kediri

Pantang Menyerah di Tengah Keterbatasan

22 Desember 2019, 19: 05: 05 WIB | editor : Adi Nugroho

honorer kominfo

BERBAKAT : Amy (kanan) bekerja memasang kabel, bersama dengan teman kerjanya di Kominfo Kota Kediri, Rabu (18/12) siang. (Iqbal Syahroni - radarkediri)

Share this          

Gangguan saraf pendengaran yang dia derita sejak kecil tak mengurangi semangatnya dalam mengarungi hidup. Amy bahkan terkenal sebagai sosok pantang menyerah, ulet dan pekerja keras.

Lelaki berkemeja biru itu merapikan untaian kabel yang baru saja dikeluarkan dari plastik pembungkusnya. Dengan teliti dia kemudian memotong beberapa bagian. Kemudian menyambungkan pada benda yang lain.

amy pratama

ERAT : Amy Pratama (hijau) bersama ibu dan kedua adiknya saat berada di rumah, di Kelurahan Ngronggo, Kecamatan/Kota Kediri, Jumat (20/12) siang (Iqbal Syahroni - radarkediri)

Sesekali lelaki itu meminta bantuan rekannya. Tapi tanpa suara. Hanya dengan isyarat tangan. Sosok yang dimintai bantuan, yang berada di sebelahnya, kemudian membantunya. Menunjukkan cara memasang kabel itu.

Lelaki berkemeja biru itu adalah Amy Pratama. Bukan tanpa sebab dia meminta tolong hanya dengan isyarat tangan. Sebab, Amy menderita bisu tuli sejak kecil.

Sebenarnya, Amy bekerja di bagian sekretariatan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Kediri. Namun dia juga mahir sebagai teknisi, meskipun bukan job desk-nya. Kemampuannya itu juga dibantu oleh Tri Sasono, rekannya. Saat itu keduanya tengah memperbaiki jaringan telepon di ruangan.

Amy, yang menjadi tenaga honorer sejak awal 2019 itu mengalami gangguan saraf pendengaran sejak kecil. Itu yang membuatnya tidak dapat berbicara. Tapi dia masih mampu menangkap apa yang orang bicarakan. Tapi, tentu saja dengan melihat gerakan bibir lawan bicaranya.

Selain sebagai tenaga honorer di Diskominfo Kota Kediri, Amy adalah ketua Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) Kota Kediri. Selain itu, Amy juga seorang atlet. Dia juga baru saja tampil di Kejuaraan Atletik Disabilitas tingkat Provinsi Jawa Timur pada awal Desember 2019. Bahkan, di ajang ini Amy mendapatkan medali emas di dua nomor lari antar-disabilitas tuna rungu. Lelaki 28 tahun ini mendapatkan emas pada nomor 100 meter dan 200 meter. “Seratus. Dua Ratus,” begitu yang diisyaratkan Amy, sembari mengacungkan angka satu dan dua dari jari tangannya.

Melalui Tri Sasono yang mengartikan bahasa isyaratnya, Amy mengaku sudah berlatih atletik sejak usia 12 tahun. Yaitu sejak bersekolah di SLB Putera Asih Balowerti. Saat itu awalnya dia menekuni lompat jauh. “Sudah tidak lompat jauh. Sekarang hanya lari,” terang Amy sembari melakukan gerakan jogging dengan tangannya.

Amy dapat membagi waktu berlatihnya dengan pekerjaan. Yaitu sepulang kantor atau pagi sebelum berangkat kerja. “Atau pada hari libur,” kata Amy melalui gerak bibir yang diterjemahkan oleh Tri.

Prestasinya bukan hanya pada kejuaraan terakhir itu saja. Beberapa kali dia telah mengikuti kejuaraan sejenis. Pada 2012 dia sudah mulai terjun di berbagai event. Baik di tingkat kota, provinsi, maupun nasional.

Kepala Dinas Kominfo Kota Kediri Haris Candra Purnama menjelaskan bahwa selain berprestasi, Amy juga dikenal sebagai sosok yang giat bekerja dan ulet. Selain itu, Amy juga terlihat tertarik dengan banyak hal. “Akrab dengan semua pegawai, paling akrab dengan Mas Tri. Biasanya membantu Mas Tri,” ujarnya.

Amy juga tidak malu bertanya. Seperti meminta bantuan kepada Tri bila tidak tahu atau tak bisa. Karena memang job desc Tri adalah sebagai teknisi sandi dan telekomunikasi. “Memang kalau dilihat dari dulu, awalnya iseng bertanya ke saya, lalu sedikit demi sedikit belajar memasang dan mengurai kabel,” ujar Tri sembari mewakili Amy.

Jam dinding menunjukkan pukul 11.30 WIB. Seharusnya, Amy sudah boleh meninggalkan kantor untuk pulang ke rumah. Memang, waktu istirahat kerja sering dihabiskan Amy  untuk menikmati masakan rumahnya.

Sekitar pukul 13.00 WIB pun, Amy kembali lagi ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya. “Amy selalu menyempatkan pulang ke rumah untuk istirahat makan siang bersama keluarga. Pernah juga makan di sekitar kantor, karena mungkin pekerjaannya sedang banyak,” imbuh Tri.

Ajak Keluarga Makan-Makan usai Juara

Saat didatangi di rumahnya pada Jumat (20/11)Amy terlihat segar. Memang, lelaki itu baru saja menyelesaikan mandi setelah berlatih lari di pagi itu. Kemudian dia memanggil sang ibu untuk mendampingi selama wawancara dengan Jawa Pos Radar Kediri. Menerjemahkan apa yang dia maksudkan.

Ketua Gerkatin Kota Kediri ini menjelaskan bahwa Jumat (20/12) pagi, ia izin tidak masuk Kantor. “Siang kembali lagi, setelah salat Jumat,” terang Amy.

Di rumah yang terletak di Kelurahan Ngronggo, Kecamatan/Kota Kediri ini, Amy tinggal bersama dengan orang tua dan tiga adiknya. Ia adalah anak pertama dari lima bersaudara. “Satu sedang di Malang. Kuliah,” imbuh Purwaningsih, ibu Amy.

Purwaningsih menjelaskan bahwa ia baru mengetahui bahwa Amy mengalami sakit saraf pendengaran pada saat umur Amy 1,5 tahun. Waktu itu, saat Purwaningsih dan Sofa, suaminya, memanggil anak sulungnya agar masuk ke rumah. Namun Amy tidak merespon. “Saat itu Amy bersama sepupunya yang juga masih kecil. Saat saya panggil yang kembali hanya sepupunya,” kenang wanita berumur 50 tahun itu.

Khawatir terjadi suatu hal yang tidak diinginkan Purwaningsih bersama Sofa membawa anak sulungnya ke dokter. Ternyata benar, Amy mengalami gangguan di saraf pendengaran.

Mulai saat itu pasangan Pur dan Sofa terus mengawasi Amy kecil. Kebetulan Amy tergolong balita yang aktif. Karena sangat aktif juga, pasangan Pur dan Sofa juga ingin yang terbaik untuk anaknya.

Awalnya, kedua orangtuanya ingin Amy melanjutkan kerja di peternakan ayam petelur yang dikelola oleh Sofa. Hingga lulus SMA, Amy juga terlihat sering membantu orang tuanya di kandang yang terletak di Kelurahan Ngletih, Pesantren. Namun, Amy malah tidak ingin merepotkan orang tuanya. Dia ingin bekerja sendiri dan menjadi pria yang mandiri. Hingga pada Januari 2019, Amy direkrut sebagai tenaga kerja honorer di Pemkot Kediri. Tepatnya di Kominfo Kediri. “Sebagai orang tua, kami berdua juga bangga dan selalu mendukung apa yang dilakukan oleh Amy,” imbuh Purwaningsih

Pur menjelaksan ia sama sekali tidak menyangka anaknya diberkahi dengan kemampuan olahraga. Pada saat sekolah anaknya tak terlihat fokus pada satu cabang saja. “Semuanya ia ikuti. Sepak bola, lari, pingpong, dan lainnya. Banyak ikut kegiatan olahraga di sekolah,” paparnya.

Tapi kini  Amy fokus di olahraga lari. Tempat yang dia gunakan untuk berlatih mulai dari trek lari di Stadion Brawijaya, memutari sekitar rumah, hingga di Lapangan Bawang. Dia berlatih bersama sang pelatih, Karmani.

Segala upaya dan jerih payah hasil latihannya, terbayar dengan berbagai piala dan medali. Pernah, waktu ia mendapatkan juara di Surabaya, saat pulang ke Kediri ia langsung mengajak keluarganya untuk makan malam di restoran. “Meski saya dan suami bilang biar dibagi saja, tapi Amy menolak. Dia saat itu memang kepingin mentraktir sekeluarga,” ucap Pur bercerita.

Soal nama yang agak unik, Pur punya ceritanya. Saat mengandung dia mengidolakan penyanyi rock asal Malaysia bernama Amy Search. Karena itu dia namanya anaknya dengan nama Amy. Ternyata, Amy juga berprestasi. Meskipun bukan sebagai penyanyi melainkan sebagai atlet disabilitas.

Saat berpamitan meninggalkan rumah, Amy menjabat tangan ibunya. Dia hendak berangkat ke masjid untuk menunaikan Salat Jumat. Lalu berpamitan menuju kantor Diskominfo untuk bekerja lagi. Semangat yang dicontohkan oleh Amy tidak pernah padam. Keterbatasannya dalam berucap tidak menyurutkan kepercayaan dirinya untuk terus berbuat baik orang di sekitarnya.(syi/fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia