Selasa, 18 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Politik

Wakil Rakyat Nganjuk: Minta Limbah Segera Dipindah

Komisi III Agendakan Hearing dengan OPD

21 Desember 2019, 10: 51: 31 WIB | editor : Adi Nugroho

Limbah

TAK TAHAN BAU: Ketua Komisi III DPRD Nganjuk Marianto (kiri) membuka terpal yang menutupi limbah di Desa Ngepung, Patianrowo, kemarin. Meski sudah memakai masker, baunya masih menyengat. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

PATIANROWO, JP Radar Nganjuk-Komisi III DPRD Nganjuk mendorong Pemkab Nganjuk mempercepat penanganan limbah abu slag aluminium (asalum) di Desa Babadan, Ngepung, dan Rowomarto, Patianrowo. Kemarin mereka kembali mendatangi lokasi pembuangan limbah yang membuat warga setempat merasakan sesak napas, mual, dan perih di mata itu.

Tiba sekitar pukul 13.30, rombongan yang dipimpin oleh Ketua Komisi III Marianto itu langsung mengecek lokasi pembuangan limbah di lahan milik Nihan Dwi Martani, 47. Pria yang tinggal di Dusun Satak, desa Ngepung, Patianrowo itu hanya bisa menunduk saat didatangi para wakil rakyat.

Setelah berbincang dengan warga setempat, Marianto kembali menegaskan jika limbah kategori bahan beracun dan berbahaya (B3) itu telah berdampak kepada masyarakat sekitar. Karenanya, dia meminta pemkab segera mengambil tindakan. “Hampir setiap pagi warga mengeluh sesak napas, pusing, dan mual-mual,” ujar politisi dari PDI Perjuangan ini. 

Marianto dan rombongan juga merasakan sendiri dampak limbah asalum. Dengan bau yang menyengat, dia juga hampir muntah bersama anggota komisi III lainnya.

Setelah mengecek kondisi lapangan secara detail kemarin, Marianto berencana memanggil semua instansi terkait penanganan limbah berbahaya tersebut. Mulai dinas lingkungan hidup (LH), dinas pertanian, dinas kesehatan, hingga kecamatan. Mereka akan diajak membahas percepatan penanganan limbah. “Kasihan masyarakat yang terdampak,” lanjutnya.

Sebelum pelaksanaan hearing, Marianto meminta dinas kesehatan menggelar pemeriksaan rutin kondisi kesehatan warga. Terutama para lanjut usia, balita, dan ibu hamil yang sering mengeluh sesak napas. “Kami minta agar melakukan uji kelayakan air sumur warga yang ada di dekat limbah,” tegasnya sembari menyebut jika air tercemar harus diberi bantuan air bersih.

Marianto memahami, pemindahan limbah tidak bisa dilakukan serampangan. Meski demikian, limbah berbahaya itu tidak bisa dibiarkan terlalu lama di permukiman penduduk. “Harus ada kepastian kapan limbah ini akan dipindah,” pintanya.

Wakil Ketua Komisi III DPRD Nganjuk Fauzi Irwana menambahkan, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Polres Nganjuk untuk memproses kasus ini. “Kami tidak ingin limbah ini meluas ke kecamatan lainnya. Asal-usul limbah harus jelas untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya,” tandas politisi dari Demokrat itu.

Terpisah, Camat Patianrowo Edie Srianto mengungkapkan, dirinya akan memberi penjelasan kepada warga terdampak. Sesuai hasil gelar perkara di Surabaya, mereka sepakat pemindahan limbah dilakukan pada minggu ketiga dan keempat. “Pelaksana pemindahan limbah pihak provinsi. Kecamatan hanya menunggu,” urainya.

Ditanya kendala pemindahan limbah, Edie berujar, pemindahan tidak bisa dilakukan oleh pemkab atau kecamatan. Sebab, jika penanganannya salah dikawatirkan akan memunculkan masalah baru. “Pemindahan limbah ini harus purna. Sekali pindah masalah harus selesai,” terangnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia