Jumat, 17 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Kali Ketiga Kepala MAN 2 Kota Kediri Nursalim Raih Cundamani

Tanamkan Filosofi Cengkir dan Jagung

15 Desember 2019, 11: 14: 41 WIB | editor : Adi Nugroho

nursalim man 2 kota kediri

AKRAB: Nursalim ketika berdiskusi dengan para anak didiknya di ruang lobi MAN 2 Kota Kediri (13/12). (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

Tahun ini bukan kali pertama Nursalim mendapatkan penghargaan Cundamani dari Wali Kota Kediri. Namun sudah yang ketiga. Dia dikenal dekat dan akrab dengan anak didiknya.

Pagi itu, segenap civitas akademika Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kota Kediri sedang melakukan aktivitasnya masing-masing. Murid-murid berada di dalam kelas mengikuti pelajaran. Pun para guru memberikan materi pembelajaran.

          Beberapa pegawai sedang sibuk dengan aktivitasnya. Begitu pula dengan Nursalim. Laki-laki yang merupakan kepala madrasah (kamad) tersebut juga sedang sibuk dengan kegiatannya.

Ketika ditemui pada Jumat lalu (13/12), dia tampak berada di ruang lobi madrasahnya. Tak sendirian. Namun, terlihat bersamanya beberapa murid berseragam pramuka. Rupanya, mereka tengah melakukan diskusi di sana. Suasananya cukup akrab dan santai.

Nursalim tak canggung berinteraksi dengan anak didiknya. Bahkan, seolah tak ada jarak kendati ia dikenal sebagai orang nomor satu di sekolah setingkat SMA itu.

Kepada wartawan koran ini, Nursalim mengatakan bahwa guru merupakan profesi yang dicita-citakannya ketika masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, ia kemudian menempuh pendidikan guru di Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Kediri.

“Saya lulus pada tahun 1986, kemudian diangkat menjadi guru di MTsN 2 Kota Kediri,” ujarnya.

Dengan diangkat menjadi guru di madrasah tersebut, Nursalim mulai menjalankan tugasnya. Mengajar di madrasah ternama itu merupakan hal yang membanggakan baginya. Terutama bagi dirinya yang merupakan anak desa. Ia merupakan anak dari keluarga petani dengan ekonomi menengah ke bawah.

Untuk mewujudkan cita-citanya menjadi guru, Nursalim menceritakan, kedua orang tuanya menanamkan filosofi tentang cengkir dan jagung. Cengkir adalah kenceng pikir. Sedangkan jagung adalah sejo kang agung. Keduanya memiliki arti, sungguh-sungguh dalam meraih cita-cita.

“Ketika saya menjadi guru, waka (wakil kepala sekolah), dan kepala sekolah filosofi yang saya terapkan adalah ayam yang mengerami telur,” paparnya.

Arti dari ayam mengerami telur, di mana ketika induk mengerami telur harus telaten dan tekun. Ini agar nantinya telur dapat menetas dengan baik. Sebagai guru ataupun kepala madrasah jika tidak secara tekun mengasah, mengasih, dan mengasuh maka tidak akan lahir tetasan murid yang berprestasi.

Sebagai kepala MAN 2 Kota Kediri, Nursalim tidak hanya dekat dengan anak didiknya. Namun juga terkenal dekat dengan anak buahnya. Agar dapat menyeimbangkan hal tersebut, ia selalu berusaha mendekatkan diri dengan mereka.

“Saya selalu bersama siswa, pesuruh, guru, dan pegawai untuk bisa bersama-sama mendukung mereka agar mereka dapat menjalani tugas dengan baik,” tutur laki-laki asal Prambon, Nganjuk tersebut.

Supaya lebih mendekatkan diri dengan mereka, salah satu hal yang dilakukan Nursalim adalah tidak segan-segan untuk membantu. Termasuk membantu pesuruh ketika sedang menyapu.

Sedangkan dengan pegawai tata usaha (TU), ia pun tidak segan membimbing mereka dalam cara pengetikan surat yang benar. Untuk guru, Nursalim memberikan motivasi dan contoh pembelajaran yang baik. “Dengan hal tersebut dapat mewujudkan visi dan misi madrasah,” ungkapnya.

Begitu pula dengan pendekatannya kepada anak didik. Apalagi, karena muridnya tidak hanya satu generasi. Hal ini membuat Nursalim melakukan cara pendekatan yang berbeda-beda. Pada tahun 1980 misalnya. Menurut Nursalim, waktu itu hanya membicarakan hal-hal dengan fasilitas yang sederhana.

Hal tersebut berbeda ketika memasuki era tahun 2000. Di era teknologi digital saat ini, layanan kita ke anak-anak juga harus disesuaikan yakni layanan berbasis IT. Kami fasilitasi anak-anak dengan akses internet yang memadai agar mereka dapat mengakses ilmu pengetahuan bukan saja dari guru. “ IT merupakan keniscayaan bagi anak-anak kita yang hidup di era disruftif ini,”  pungkas Nursalim.

Targetnya Bimbing agar Murid Berilmu Manfaat

Pemberian penghargaan Cundamani dari Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri membanggakan Nursalim. Apalagi, tahun ini dirinya telah kali ketika menerimanya. Hal ini menjadikan motivasi untuk berbuat lebih baik.

“Terima kasih kepada Pak Wali Kota, karena telah memberikan apresiasi dengan apa yang saya lakukan,” ujarnya.

Nursalim mendapatkan penghargaan Cundamani pertama pada tahun 2017. Dua tahun berikutnya, pada 2018 dan 2019 ia kembali menerima penghargaan bergengsi itu. Dibanding penghargaan pada tahun sebelumnya, pada tahun ini ternyata tidak hanya dirinya yang mendapatkan penghargaan tertinggi dari wali kota itu.

Sebab, di antara 20 piala Cundamani yang disiapkan untuk kategori pelajar,  sebanyak sembilan berhasil dibawa pulang oleh siswa MAN 2 Kota Kediri. Dengan mendapatkan penghargaan tersebut, ayah dari tiga anak ini berkomitmen untuk menjalani profesinya dengan penuh dedikasi.

Nursalim mengaku, tidak pernah berharap mendapatkan penghargaan. Pasalnya, selama menjadi guru, ia berusaha menjalankan tugas tersebut dengan baik dan benar. Sehingga baginya, penghargaan yang diperoleh saat ini merupakan sebuah bonus.

“Target kita, bagaimana membimbing anak-anak agar lebih baik dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk ke depan,” imbuhnya.

Menjadi guru selama 35 tahun, banyak prestasi yang telah diperoleh Nursalim. Pada tahun 2016, ia mendapatkan penghargaan menjadi kepala sekolah teladan.

Kemudian, pada tahun 2017, Nursalim mendapatkan kepercayaan dari Menteri Agama untuk mengikuti pelatihan pendek di negara Finlandia. Hingga pada tahun 2019, ia menjadi salah satu tim penyusun inovasi dan implementasi di madrasah.

Selain itu, selama menjadi kepala madrasah di MAN 2 Kota Kediri banyak prestasi yang didapatkan anak didiknya. Tidak hanya pada prestasi akademik, namun juga non-akademik. Untuk akademik, pada ujian nasional (unas) para siswa MAN 2 Kota Kediri merupakan terbaik nomor dua di Jawa Timur.

“Sedangkan untuk non akademik, selama 2019 kami dapat mengumpulkan 123 penghargaan,” tuturnya.

Sebelum menjadi Kepala MAN 2 Kota Kediri, Nursalim mengawali karir di MTsN 2 Kota Kediri. Sekitar tahun 1986, ia mengawali karir sebagai guru sukwan (sukarelawan). Setelah lima tahun mengajar di sana, pada tahun 1991 ia diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

“Kala itu saya juga baru saja menyelesaikan S1 di IKIP PGRI jurusan pendidikan dasar bahasa Indonesia,” kenang laki-laki kelahiran 1966 ini.

Selama menjadi guru di MTsN 2 Kota Kediri, Nursalim pernah menjadi wali kelas, pembina ekstrakurikuler, waka kesiswaan, waka sarpras, waka humas, waka kurikulum, dan yang terakhir menjadi Kepala MTsN 2 Kota Kediri.

“Saya diangkat oleh pemerintah menjadi kepala sekolah pada tahun 2011,” imbuhnya.

Setelah menjadi kepala madrasah selama lima tahun, mulai 2011 hingga 2016, Nursalim kemudian dimutasi menjadi Kepala MAN 2 Kota Kediri.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia