Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Mbah Choi, Guru yang Juga Seniman Pohon Kopi Lereng Kelud

Hasilkan Ribuan Karya dari Limbah Terbuang

14 Desember 2019, 13: 39: 41 WIB | editor : Adi Nugroho

Mbah choi

DI ANTARA KARYA: Mbah Choi memperlihatkan karya-karya yang dia buat dari limbah pohon kopi yang rusak akibat erupsi Gunung Kelud, di kiosnya, kemarin. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Namanya mencuat pasca-letusan Gunung Kelud 2014 silam. Mampu memanfaatkan pohon-pohon kopi yang mati karena erupsi menjadi karya seni. Kini, koleksinya sudah ratusan. Sebagian besar berkarakter tokoh legenda Kediri.

 

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri.

Lelaki bernama asli Choirul Anam itu menyambut hangat langkah-langkah penulis di pintu masuk Wisata Sumbercorah, di Jalan Letjen Sutoyo, Pare itu kemarin. Senyumnya mengembang. Kemudian maju beberapa langkah. Mengulurkan tangan untuk bersalaman.

Gerakan Mbah Choi masih gesit. Fisiknya juga tampak sehat. Apalagi semangatnya, seperti tak berkurang sedikit pun dengan beberapa tahun lalu. Seperti terlihat ketika dia mengenalkan karya-karyanya yang memenuhi dua kios berukuran 4x4 meter di tempat wisata itu.

Harus diakui, semangatnya untuk menciptakan karya seni masih tinggi. Meskipun satu minggu lagi ia akan memasuki masa pensiun dari pekerjaan utamanya sebagai guru di SMPN 2 Kepung.

Lima tahun silam, Mbah Choi pernah menjadi perbincangan karena inovasinya memanfaatkan limbah pohon kopi. Itu pasca-letusan Gunung Kelud 2014.

“Sekarang sudah jadi ratusan patung dari pohon kopi itu. Sebenarnya ada seribu lebih, tapi masih setengah jadi,” cetusnya.

Mbah Choi memang beruntung bisa memanfaatkan limbah dari bongkahan kayu pohon kopi yang dulu nyaris terbuang itu. Bahkan, hingga saat ini masih banyak kayu kopi setengah jadi yang ada di rumahnya. “Karena sudah tidak muat, sepertiganya saya taruh di gudang sini (Sumbercorah, Red),” ujarnya. Gudang yang dimaksud berada di bawah kios yang ditempatinya sejak 2016 itu.

Rata-rata patung yang dibuatnya memiliki karakter abstrak. Choi mengaku itu mengikuti alur dari serat-serat kayu di limbah pohon kopi itu. Termasuk bentuk cabang-cabangnya. “Kebanyakan saja bentuk jadi wajah misterius alias abstrak. Hewan, monster, saya gabung dengan legenda yakni Lembu Suro, Mbah Rinjing, jaranan, dan lain-lain,” papar pria 61 tahun ini.

Meski berbentuk abstrak, namun karyanya bisa dibilang luar biasa. Meski demikian, untuk karya-karya tertentu yang menyangkut sejarah dan legenda Kediri ia tak menjualnya. Hanya menjadi koleksi pribadi.

Mbah Choi ingat betul bahwa saat itu rela menjual sepeda motornya untuk membeli satu truk limbah kayu kopi ini. “Daripada tidak terpakai, ya saya manfaatkan,” ungkapnya mengenang awal ia membuat karya ini.

Sementara saat ini, selain membuat patung, ia juga tengah fokus pada seni lukis. Alirannya lebih condong ke lukisan abstrak. Menariknya, ia sangat jarang memakai kuas saat melukis. Caranya adalah dengan menuangkan cat air ke kanvas, dan menggoyangkannya.

Ke depan ia dan teman-teman seni akan menggagas penggiat seni rupa di Kabupaten Kediri ini. Menurut Choi, potensi seniman di Kabupaten Kediri ini sangatlah bagus dan banyak seniman berbakat. “Harapannya jika ada wadah seperti ini, seni di Kabupaten Kediri akan dilihat daerah lain,” jelasnya.

Memang, selama ini seniman khususnya seni rupa di Kabupaten Kediri belum memiliki wadah dalam keorganisasian. Sehingga mereka kesulitan dalam hal pengembangan dan memilih bergabung ke daerah lain. “Kami seniman lukis yang sudah tua ini ingin regenerasi, menghidupkan kembali seni rupa di Kabupaten Kediri,” ungkapnya.

Ia juga berharap, generasi muda di sini yang mencintai seni bisa menggali budaya kearifan lokal di Kabupaten Kediri. “Kerajaan Kediri seninya itu sudah luar biasa, jadi kita harus melestarikannya,” paparnya.

Choi sangat terbuka pada siapapun yang ingin belajar seni di galerinya. Bahkan ia tak memungut biaya. Baik berupa konsultasi, belajar, dan juga studi mahasiswa. Memang, semangatnya dalam hal kesenian yang menjaga kelestarian kearifan lokal Kabupaten Kediri perlu diapresiasi. Tetap mempertahankan budaya lokal yang ada. Diaplikasikannya dalam bentuk karya seni baik pahatan patung maupun lukisan yang luar biasa.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia