Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Kasus Limbah Beracun: Sesak, Tiga Bocah Diungsikan

Di Mojo Positif B3

14 Desember 2019, 13: 35: 49 WIB | editor : Adi Nugroho

limbah kediri

UJI: Petugas DLH mengambil sampel dari material yang diduga limbah B3 yang ada di Desa Ngreco, Kecamatan Kandat, kemarin. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Beberapa perkembangan muncul dalam kasus buangan limbah yang diduga berisi bahan beracun dan berbahaya (B3). Selain muncul kepastian limbah di Mojo adalah B3, pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kediri juga mengambil langkah pencegahan untuk kasus serupa di Desa Ngreco, Kecamatan Kandat. Bahkan, DLH juga mengungsikan tiga anak di desa ini ke daerah yang jauh dari paparan limbah ini.

“Hari ini (kemarin, Red) kami verifikasi lapangan dulu limbah yang ada di Desa Ngreco. Melihat lokasi di mana, volumenya berapa, di mana titik koordinatnya. Paling tidak kami lihat apakah sama dengan yang di Desa Maesan dan Kranding, Kecamatan Mojo,” ujar Plt Kepala DLH Putut Agung Subekti.

Putut menjelaskan, secara visual limbah yang ada di Desa Ngreco ini memiliki bau yang sama dengan di Desa Maesan. Termasuk kondisi dan bentuk limbah. Ia menyebut bahwa itu sama persis dengan limbah yang sebelumnya diresahkan warga. “Kami coba ambil sampel yang akan kita ujikan di laboratorium,” jelasnya.

Sampel itu nanti, lanjut Putut, untuk mengetahui apakah limbah di sana termasuk limbah jenis B3 atau bukan. Selain mengambil secara langsung. Ia menyebut juga menguji pencemaran lain yakni pada perairan.

“Kami ambil sampel air di sumur terdekat, untuk diuji pada laboratorium DLH,” lanjutnya.

Terkait hasil uji laboratorium limbah yang ada di Desa Maesan, Putut menjelaskan bahwa memang itu benar-benar limbah B3. “Ini untuk proses selanjutnya ditangani Polres Kediri Kota. Kita tunggu tindak lanjut pemeriksaan dari Polres,” paparnya.

Sementara untuk mencegah wabah penyakit akibat limbah tersebut, pihaknya yang bekerjasama dengan dinas kesehatan (dinkes) melalui puskesmas setempat telah melakukan sosialisasi.

“Sebenarnya kami sosialisasi tentang konservasi, dan kita masukan masalah limbah ini jangan sampai terjadi lagi,” jelasnya.

Sosialisasi itu juga agar masyarakat lebih berhati-hati. Khususnya agar mereka tidak mudah terprovokasi mendapat tawaran barang seperti ini lagi. “Kalau tidak paham terkait barang yang ditawarkan, bisa tanyakan kepada kami,” sarannya.

Lebih lanjut, Putut menyarankan pada warga yang terdampak, apabila terjadi gejala sakit yang diakibatkan oleh limbah tersebut, bisa langsung datang ke puskesmas. Sebab, DLH juga sudah berkoordinasi dengan pihak dinkes dan puskesmas untuk mengutamakan dan konsultasi bagi warga terdampak yang mengeluhkan limbah ini.

“Termasuk di Desa Ngreco ini. Gangguan kesehatan seperti mata pedih atau mual bisa langsung diperiksakan melalui puskesmas. Kami sudah menyarankan pihak puskesmas agar melayani warga terdampak ini,” sarannya.

Sementara Pj Kepala Desa Ngreco Mujib menyampaikan bahwa sejauh ini ada 9 titik lokasi pembuangan limbah di desanya. “Ada tiga anak yang rumahnya dekat dengan tempat pembuangan limbah ini diungsikan ke kota. Karena mereka sesak,” jelasnya.

Termasuk ada lansia yang tidak kuat menahan bau limbah ini hingga mual-mual dan kembung. Dari hasil mediasi dengan warga pada Selasa (10/12) lalu, Mujib mengatakan bahwa telah membuat banner imbauan di sejumlah titik untuk peringatan bagi warga yang membuang limbah sembarangan ini.

Sementara itu, Pemkot Kediri mulai memperhatikan dampak gangguan kesehatan dari pembuangan limbah di Kelurahan Blabak, Kecamatan Pesantren. Kamis lalu (12/12), petugas dari dinas kesehatan (dinkes) melakukan jemput bola. Mereka melakukan pemeriksaan kesehatan warga. Hari ini, rencananya dinkes juga akan mengambil sampel air tanah untuk mengetahui apakah ada kandungan zat berbahaya.

Kepala Dinkes dr Fauzan Adima mengatakan, pemeriksaan kesehatan warga dilakukan di Lingkungan Pagut dan Bulurejo. Petugas dinkes langsung mendatangi rumah warga. “Kami sudah mulai kemarin (Kamis, Red),” kata Fauzan kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Fauzan mengungkapkan, petugas kesehatan yang diterjunkan berasal dari Puskesmas Pesantren 1. Untuk menambah tenaga medis, dinkes juga menyiapkan petugas dari Puskesmas Pembantu (Pustu) Blabak.

Rencananya, pemeriksaan itu dilakukan selama satu minggu. Setelah itu, warga bisa datang langsung ke puskesmas bila memiliki keluhan. “Sejauh ini kondisi kesehatan warga sangat baik,” ungkapnya.

Tidak hanya jemput bola melakukan pemeriksaan kesehatan, dinkes juga akan mengambil air tanah di sekitar titik pembuangan limbah di Lingkungan Pagut dan Bulurejo. “Kami ambil di radius sekitar 10 meter dari titik pembuangan,” kata pria yang juga menjabat Plt Direktur RSUD Gambiran ini.

Fauzan mengaku sudah memerintahkan petugasnya untuk mengambil sampel air tanah dari radius 10 meter. Rencananya, pengambilan dilakukan hari ini. Setelah itu sampel akan diuji di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kota Kediri.

Dari uji laboatorium (lab) tersebut, Fauzan menerangkan, pihaknya ingin mengetahui kandungan zat berbahaya di dalamnya. Seperti aluminium dan kandungan bahan lainnya. “Kami perlu tahu apakah ada pencemaran sumber air tanah atau belum,” terangnya.

Dia melanjutkan, hasil lab nanti akan menunjukkan batas maksimal kandungan zat berbahaya dan beracun di dalam air. Untuk mengetahui hasilnya, dinkes membutuhkan waktu sekitar seminggu. “Hasilnya diketahui 5-7 hari,” kata Fauzan.

Lalu apakah hasilnya nanti akan disosialisasikan ke warga di Kelurahan Blabak? Fauzan mengatakan, pihaknya perlu mengonsultasikan ke Polres Kediri Kota. Pasalnya, kasus pembuangan limbah di 10 titik itu saat ini tengan diselidiki polisi. “Jadi bahan pertimbangan penyelidikan atau bisa kita sampaikan ke masyarakat. Yang jelas, harus dikonsultasikan dulu,” jelasnya.

Sementara itu, kemarin, dinas lingkungan hidup, kebersihan dan pertamanan (DLHKP) melanjutkan proses pengurukan di titik limbah. Kali ini sasarannya adalah lahan milik Hasan Bisri, warga Lingkungan Pagut. Hingga kemarin dari 10 titik, sudah empat lokasi yang telah diuruk. Sebelumnya pengurukan dilakukan di lahan Jumadi dan Daeng Triwahyudi, keduanya warga Bulurejo dan Siyam Sarofah, warga Lingkungan Pagut.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia