Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Wali Kota Datangi Tempat Pembuangan Limbah B3

13 Desember 2019, 13: 42: 47 WIB | editor : Adi Nugroho

limbah beracun

CURHAT: Wali Kota Abdullah Abu Bakar berdialog dengan Daeng Triwahyudi, warga Kelurahan Blabak yang tanahnya menjadi lokasi pembuangan limbah B3. (Anwar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri merespon cepat kasus limbah yang diduga bahan berbahaya dan beracun (B3) di Kelurahan Blabak, Kecamatan Pesantren. Selain menutup material yang mengeluarkan bau menyengat itu, pemkot juga akan melaporkan kasusnya ke Pemerintah Provinsi Jawa  Timur dan Pemerintah Pusat.

Kemarin Wali Kota Abdullah Abu Bakar langsung mendatangi lokasi ditemukannya tumpukan limbah itu. Saat kunjungan itulah Wali Kota Abu mengeluarkan perintah agar bahan-bahan berbau itu segera ditutupi dengan terpal. Setelah itu diuruk dengan tanah.

Dari tinjauan lapangan kemarin, diketahui ada dua lingkungan yang menjadi tempat pembuangan limbah itu. Yaitu Lingkungan Pagut dan Bulurejo. “Totalnya ada 10 titik (pembuangan limbah),” kata Abu saat ditemui di dekat tempat pembuangan limbah yang ada di Lingkungan Bulurejo.

Dia mengatakan, ada dua langkah yang akan ditempuh pemkot untuk menangani masalah dampak limbah tersebut. Yang pertama adalah menutup timbunan limbah di 10 titik itu. Tujuannya agar tidak menganggu warga setempat. “Kami putuskan untuk ditutup terpal dan diuruk dengan tanah,” ujarnya.

Pasalnya, dari laporan lisan yang disampaikan ke kantor kelurahan, Abu mengatakan, warga banyak yang mengalami sesak napas akibat bau limbah tersebut. Terutama saat terkena air hujan. “Jadi baunya sangat menyengat. Ada gas amoniak,” terang wali kota dua periode ini.

Langkah kedua, pemkot akan melaporkan ke provinsi dan Pemerintah Pusat Karena itulah, Abu sudah memerintahkan dinas lingkungan hidup, kebersihan, dan pertamanan (DLHKP) dan dinas kesehatan (dinkes) untuk mengambil sampel limbah.

Dari sampel tersebut, pemkot perlu memastikan limbah yang dibuang di belakang rumah warga tersebut berbahaya atau tidak. Hasil pengujian sampel itu keluar paling cepat 15 hari dan paling lama sekitar tiga bulan. “Kami juga akan melakukan cek air tanah,” tandasnya.

Agar kejadian yang sama tidak terulang, pemkot akan melakukan sosialisasi ke warga. Bahwa sebenarnya bekas urukan pembuatan batu bata di Kelurahan Blabak tidak boleh ditutup dengan limbah. “Sepertinya warga memang tidak tahu. Makanya perlu kami sosialisasikan,” ujarnya.     

Untuk proses hukumnya, Abu mengatakan, pihaknya menyerahkan ke Polresta Kediri. “Itu nanti yang tahu Pak Kapolres,” kata Abu yang kemarin didampingi Kapolresta AKBP Miko Indrayana dan beberapa pejabat organisasi perangkat daerah (OPD).

Akibat limbah tersebut, warga memang mengeluhkan dampaknya. Seperti diakui Isaroh, warga Lingkungan Pagut. Perempuan 59 tahun ini mengaku ketika timbunan limbah terkena air, baunya mirip ompol (air kencing). “Saya nggak kuat. Rasanya sesak,” katanya.

Dia mengaku, limbah tersebut dibuang sekitar sebulan lalu. Semula, warga setempat tidak mengeluhkan apa-apa. Namun begitu hujan mulai turun awal bulan ini, mereka baru merasakan dampaknya. “Di sini (Blabak) sudah empat kali hujan,” ungkap ibu dua anak satu cucu ini.

Lalu siapa yang membawa limbah tersebut? Isaroh mengaku, ada seseorang bernama Solikin, warga Lingkungan Jegles di kelurahan yang sama yang menawari benda tersebut. Sebenarnya Isaroh juga ditawari oleh Solikin untuk membeli limbah untuk menutup urukan bekas pembuatan batu bata. “Saya tidak mau,” katanya.

Dia mengaku, satu ritnya dihargai Rp 50 ribu. Biasanya, untuk menghindari kecurigaan warga, limbah dikirim malam hari. “Mulai jam sebelasan (malam) sampai dini hari,” ujar Isaroh yang rumahnya hanya berjarak sekitar 100 meter dari pembuangan limbah.

Hal senada disampaikan Daeng Triwahyudi, warga Lingkungan Bulurejo. Kemarin, lahannya yang dipakai pembuangan limbah didatangi wali kota. Wahyudi mengaku membeli limbah tersebut dari Solikin. Harganya Rp 25 ribu per rit. “Saya beli 40 rit. Dikirim sejak September kemarin. Saya beri uang satu juta (rupiah),” terangnya.

Dia mengaku, timbunan limbah tersebut digunakan untuk menutup bekas pembuatan bata merah. Soal asal limbah tersebut, berasal dari pabrik kertas di Gogorante, Ngasem, Kabupaten Kediri, dan Jombang. “Rencananya (setelah lahan diuruk) saya pakai jalan tembus,” akunya.

Seperti diketahui, limbah-limbah itu berada di 10 titik pembuangan. Lahan-lahan itu di antaranya milik warga yang bernama Lani, Siam Sarofah, Slamet Santoso, Ali Mudhofar, Sulastri, dan Hasan Bisri.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia