Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Be Creative!

13 Desember 2019, 13: 02: 19 WIB | editor : Adi Nugroho

Be Creative!

Be Creative! (radarkediri.id)

Share this          

Dulgembul cilik paling seneng dolanan cap-capan. Baik yang ala tato untuk ditempel di bagian tubuh maupun yang ala stiker kekinian untuk ditempel di barang mainan. Paling demen dia yang gambar macan atau singa. “Sangar,” katanya.

Kalau waktu itu sudah ada film Jurassic Park, mungkin dia juga akan demen yang gambar dinosaurus. Wabilkhusus Tyrannosaurus rex alias T-rex yang bergigi tajam. Seperti hewan demenan bocah-bocah cilik sekarang. Bukannya takut, hewan-hewan raksasa purba itu malah mereka cari-cari.

Menempelkannya di bagian tubuh tertentu bisa membuat dia makin gaya. Setidak-tidaknya merasa bertambah keren. “Sangar, nda…,” ucapnya sambil memamerkan cap-capan bergambar macan di lengan.

Biasanya, kalau sudah begitu, teman-temannya ndak mau kalah.

“Aku ya nduwe, nda...”

“Aku ya nduwe, nda..”

Begitu ucap mereka sambil memamerkan koleksi cap-capan yang berhasil menyamarkan panu atau koreng di bagian tubuh masing-masing.

Beranjak ABG, demenan Dulgembul pada cap-capan ndak berubah. Bahkan semakin berkembang dan nganeh-nganehi. Apa saja bisa dijadikan cap-capan. Termasuk plester-plester penutup luka itu. Tensoplast. Atau Hansaplast. Untuk menutup tas atau celananya yang juga terluka. Sobek. Jebol.

“Keren to…,” katanya sambil memamerkan dengkul celananya yang ditembel plester yang sudah digambari pulpen warna hitam dan biru. Bukan lagi gambar macan dan singa. Tapi ganti logo grup-grup musik cadas macam Sepultura, Megadeth, Slayer, atau Metallica.

Dia lebih merasa keren memakai tambalan seperti itu. Daripada harus ditambal kain dengan jahitan. Sebab, menambal dengan kain dan jahitan tetap akan kelihatan jebolnya. Maksudnya, tidak menghilangkan kesan tambalannya.

Beda jika ditambal dengan Hansaplast atau Tensoplast bergambar karya tangan sendiri seperti itu. Perhatian orang akan teralihkan. Bukan pada tambalannya. Tapi, pada gambar yang dilukiskan di atasnya. Sampai-sampai, demi dianggap keren, celana yang ndak jebol pun ikut ditempeli plester dan digambari.

Be creative! Begitu doktrin kaum muda agar tak hilang ditelan jaman. Bukannya menyamarkan, Dulgembul justru menguatkan bagian celana yang jebol itu dengan sesuatu yang lebih kuat. Pada era itu, kadang yang jebol malah dibikin semakin jebol. Ditambal dengan kain berwarna kontras. Dijahit dengan benang berwarna kontras pula. Jadilah mode. Baru. Mode gembel. Gembel pun naik kelas. Yang jebol-jebol dan tambalan justru dianggap makin bergaya.

Be creative! Slogan itu pula yang belakangan dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin –sekaligus tak ingin—dianggap gembel. Ingin dianggap karena ingin tetap dapat bantuan dari pemerintah. Tak ingin dianggap karena ini soal gengsi dengan tetangga.

Ya, jengah karena bantuan-bantuannya banyak yang tidak tepat sasaran, pemerintah berinisiatif memberi ‘cap-capan’ pada mereka yang mestinya tak layak mendapat bantuan. Cap-capan bertulisan ‘Kami Keluarga Miskin’ itu ditempel di rumah-rumah mereka. Agar tak dilepas, cap-capan bahkan tak cukup berbentuk stiker tempel. Tapi langsung cat semprot. Di tembok.

Itu upaya kompromi sebenarnya. Sebab, jika frontal langsung mencabut bantuan dari rumah tangga yang dianggap tak layak menerima, bisa gegeran. Pemerintah ogah risikonya. Maka, yang diharap hanya rasa malunya. Caranya, ya memberi ‘cap-capan’ miskin itu. Kalau ndak malu dibilang miskin plus ndak takut jadi doa, silakan tetap terima.

Eh tapi ini soal duit. Yang ndak mengenal suku, agama, ras, maupun antargolongan. Ndak kenal juga ideologi. Ehm, pun demikian dengan rasa takut dan malu. Apalagi jumlahnya lumayan. Dan sama sekali ndak perlu kerja keras. Hanya perlu menghilangkan rasa takut dan malu itu.

Pada masyarakat yang cenderung bermental gratisan, dua prasyarat itu bukan hal yang sulit dilakukan. Apa susahnya menghilangkan rasa takut? Lha wong menerimanya dijamin tidak bakal masuk penjara. Menghilangkan rasa malu karena rumahnya ditempeli ‘cap-capan’ miskin? Inilah yang melahirkan kreativitas seperti di atas. Sebab, di mata tetangga apalagi tamu, walau miskin harus tetap terlihat nggaya.

Be creative! Cap-capan bisa disamarkan. Atau, ditutup dengan objek baru yang lebih mencolok. Tinggal memaku kalender dinding atau lukisan terindah untuk menutupinya. Beres.

Kalau ada petugas datang, tinggal melepasnya. Itu dijamin sudah membuat petugas malas untuk gegeran. Kalau ada tamu yang datang, tinggal memamerkan, “Lukisan dindingku keren to?” Itu dijamin sudah membuat sang tamu mengagumi dan tak lagi menganggapnya miskin.

Be creative! Be creative gundulmu kuwi… (tauhid wijaya)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia