Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Fenomena Limbah Beracun Bermunculan di Kediri

Di Mojo, Dinkes Akan Lakukan Uji Petik Air

11 Desember 2019, 14: 18: 27 WIB | editor : Adi Nugroho

limbah beracun

BERBAU: Tumpukan karung yang jadi tanggul di dekat Jembatan Maesan Mojo diduga berisi limbah. (Mualifu Rosyidin – radarkediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Fenomena pembuangan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) juga muncul di Kota Kediri. Kemarin, Satpol PP Kota Kediri menindaklanjuti laporan masyarakat di Lingkungan Pagut, Kelurahan Blabak, Kecamatan Pesantren. Warga melaporkan terjadinya pembuangan limbah yang terjadi di dua rukun tetangga (RT).

Saat mendatangi lokasi, Satpol PP mendapati limbah dibuang di RW 02. Ada dua RT yang menjadi sasaran pembuangan. Yakni di RT 20 dan 22. “Yang kami temukan berupa limbah kertas,” kata Kabid Ketentraman dan Ketertiban (Tramtib) Satpol PP Nur Khamid kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Khamid menerangkan, limbah tersebut dibuang di pekarangan rumah warga. Total lima kepala keluarga (KK) yang terdampak. Yakni keluarga Slamet, Sulastri, Siyam Sarofah, dan Ali Mudhofar di RT 20. Kemudian kediaman Hasan Bisri di RT 22.

Dari keterangan warga setempat, kata Khamid, limbah B3 tersebut menimbulkan bau tidak sedap. Bahkan ada warga yang sudah mengungsikan anaknya karena tidak kuat menahan bau. “Ini keterangan yang kami terima dari warga. Terutama saat terkena air baunya lebih menyengat,” ungkapnya.

Selain menimbulkan bau karena terkena air, limbah juga membuat mata pedih dan sesak napas. “Biasanya limbah di buang di malam hari,” ujar Khamid.

Namun sampai kemarin, satpol PP belum mengetahui asal muasal limbah tersebut. Pihaknya akan meminta keterangan dari sejumlah warga. “ Kami akan tindaklanjuti dengan melakukan pemanggilan. Sebab, dari mana limbah itu, belum ada yang tahu,” terangnya.

Dari survei yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri, limbah tersebut bernama Slag Aluminium. Itu termasuk jenis limbah berbahaya.

Sementara itu, dampak pencemaran dari bahan yang diduga limbah B B3 di perbatasan Desa Maesan dan Desa Kranding, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri  memang sudah terasa. Namun, hingga kemarin belum ada warga yang mengeluh dan memeriksakan diri ke puskesmas. Meski demikian, masyarakat akan terus diberikan penyuluhan dari dampak limbah yang semakin meresahkan beberapa hari terakhir.

“Di Puskesmas Ngadi sampai hari ini (kemarin, Red), belum ada yang periksa karena sakit akibat pencemaran limbah ini,” aku Plt Kepala Puskesmas Ngadi Rindang Farihah Idana.

Pihak puskesmas, menurut Rindang, telah melakukan pembinaan melalui desa siaga dengan mendatangi 50 kepala keluarga (KK) di dua desa terdampak. “Kami lakukan penyuluhan terkait penyakit yang diakibatkan dari dampak limbah tersebut,” jelasnya.

Itu dilakukan dari rumah ke rumah. Rindang menyebut sejauh ini keluhan warga masih sekitar mual, sesak, pusing, dan mata pedih. Belum sampai berdampak pada penyakit berat.

Terkait kondisi limbah, hingga kemarin Rindang mengaku belum ada hasil yang keluar. “Kami sudah koordinasi dengan DLH. Sampai hari ini (kemarin, Red) belum keluar hasilnya. Jadi belum bisa tindak lanjuti,” ungkapnya.

Selain kondisi dan kandungan limbah, petugas juga melakukan pengecekan pada sumber-sumber air bersih di sekitar lingkungan terdampak. Melihat apakah ada pencemaran atau tidak. Sebab, jika dilihat secara fisik, air di sana tidak ada perubahan warna dan bau.  Kondisinya juga jernih. Namun untuk kandungan kimiawi, Rindang belum bisa memastikan.

“ Diperkirakan minggu depan akan ada hasil dari pengecekan ini,” imbuhnya.

Rindang juga menegaskan bahwa sudah sosialisasi jika ada gangguan pernapasan, kulit, dan pencernaan. Termasuk apa yang bisa mereka lakukan dan apa saja gejalanya. Untuk penyuluhan yang akan dilakukan hari ini, Rindang akan membahas penyakit apa saja yang perlu diwaspadai. Mulai dari ciri, gejala penyakit, dampak, dan bagaimana menanganinya.

“Kami tetap melakukan surveilans. Karena ini musim hujan kami khawatir akan (terjadi) penyebaran penyakit,” pungkasnya.

Di tempat terpisah, Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan Olahraga Dinkes Kabupaten Kediri Nurul Puspa Irawati mengatakan bahwa masalah pencemaran di Desa Maesan, Kecamatan Mojo telah ditangani Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kediri.

“Tapi kami dari dinkes akan melakukan uji petik kualitas air di sekitar lokasi,” terang Nurul.

Dalam melakukan uji petik, yang dilakukan adalah mengambil sempel air sungai yang berada di lokasi. Dengan uji petik itu dinkes bisa mengetahui kualitas air di sekitar lokasi. Apakah limbah terebut sudah berdampak pada kualitas air yang digunakan oleh masyarakat atau tidak.

“Memang dari limbah tersebut akan berdampak pada kesehatan,” imbuhnya.

Berdasarkan keterangan yang didapatkan limbah itu bersifat korosif. Sehingga untuk saat ini menyebabkan sesak napas. Namun untuk efek jangka panjang, kemungkinan bisa menyababkan penyakit jantung dan kanker.

Nurul menambahkan, setelah kejadian tersebut belum ada yang mengeluh sakit akibat bau menyengat  tersebut. Namun untuk antisipasi, Plt Kepala Dinkes Bambang Triyono Putro sudah memerintahkan puskesmas setempat untuk siaga.

“Bila ada masyarakat yang mengeluh sakit karena limbah agar segera ditangani,”
 tutur Nurul.

Untuk diketahui, bau tak sedap muncul dari ratusan karung yang dijadikan plengsengan penahan tanah milik Badrul Munir, 46. Karung berisi bahan tak diketahui jenisnya itu sudah digunakan selama tiga bulan terakhir. Namun, ketika hujan turun benda yang berbentuk butiran seperti pasir itu menyebabkan bau menyengat seperti amoniak. Bau tercium hingga radius 3 kilometer.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia