Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Wahyu Mukti, Mahasiswa IAIN yang Jadi Korban Bencana Angin Ribut

Sosok Pekerja Keras yang Ingin Jadi Guru

11 Desember 2019, 13: 34: 54 WIB | editor : Adi Nugroho

korban angin sumberjiput

KENANGAN: Endang Suprapti dan Abdul Wahab menunjukkan foto anaknya saat wisuda dari salah satu ponpes di Nganjuk. (Samsul Abidin - radarkediri)

Share this          

Beberapa jam sebelumnya, Wahyu masih menyempatkan diri menjaga warung milik keluarganya. Rutinitas yang biasa dia lakukan ketika mendapat jam kuliah siang. Tapi siapa sangka pemuda yang bercita-cita jadi guru ini mengembuskan napas saat berada di warung orang.

DWIYAN SETYA NUGRAHA, Kabupaten, JP Radar Kediri

Rumah di Dusun Plaosan, Desa Plaosan, Kecamatan Wates itu tak sepi dari pelayat. Hingga kemarin siang (10/12) kendaraan orang yang ingin mengucapkan bela sungkawa terus berdatangan. Di halaman, ada dua mobil jenis minibus yang terparkir. Juga puluhan motor tertata di depan rumah.

Di ruang tamu rumah itu tergelar karpet warna merah. Duduk lesehan di karpet itu adalah pemilik rumah. Pasangan Endang Suprapti dan Abdul Wahab. Keduanya terus melayani tamu yang datang.

“Mohon maaf jika Wahyu punya salah selama ini,” ucap Abdul Wahab, ayah Wahyu Mukti, mahasiswa yang jadi korban meninggal akibat bencana angin ribut di wilayah Kota Kediri Senin (9/10) lalu. Suara lelaki 68 tahun itu terdengar bergetar. Seperti menahan rasa sedih yang dalam. Kesedihan yang wajar mengingat Wahyu adalah anak sulung mereka. Tumpuan harapan mereka.

Rasa kehilangan juga terbaca dari Endang. Wanita 40 tahun itu sesekali mengusap air mata yang mengalir di pipi dengan tangannya. Menandakan kesedihan yang masih terasa.

Endang tak menyangka bahwa anaknya meninggal dunia di usia yang relatif muda, 18 tahun. Tak ada firasat sebelumnya dia akan kehilangan putra pertamanya itu. Hanya, Senin (2/12) lalu Wahyu sempat menjual motornya. Penyebabnya karena tak bisa mengembalikan onderdil motor yang dia bongkar. Saat itu Wahyu mencoba-coba untuk melakukan servis pada motornya, Honda Megapro.

“Wahyu memang suka bongkar-bongkar motor. Namun karena (saat itu) tak bisa mengembalikan, akhirnya motornya dijual,” kenangnya.

Yang paling dikenang Endang adalah keinginan anaknya ingin menjadi seorang ustaz atau guru. Karena itu, selepas menyelesaikan sekolah di SMPN 1 Wates, Wahyu ingin memperdalam pengetahuan agama. Dia hijrah ke kota angin, Nganjuk, untuk meniti ilmu di Pondok Al Qomar, Kecamatan Patianrowo. Keluarga pun mengamini keinginan Wahyu tersebut.

 “Awalnya saya kaget, kok minta mondok. Saat itu saya langsung dukung keinginan Wahyu,” ujar perempuan kelahiran Pare ini.  

Selama menimba ilmu agama tersebut, kepandaian Wahyu  terlihat. Selama mondok itu setiap ujian sekolah Wahyu selalu mendapatkan nilai bagus di mata pelajaran matematika. “Sejak SMP memang sudah jago matematika. Apalagi waktu mondok itu,” ujarnya.

Lulus dari pondok, kedua orang tua Wahyu mengarahkan untuk meneruskan ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri. “Dulu Wahyu pernah mengatakan ingin jadi ustaz, ya saya arahkan untuk ambil jurusan PAI atau PGMI,” tandasnya.

Dorongan keluarga itu membuat Wahyu luluh. Awal semester tahun ini Wahyu mendaftar di PAI IAIN Kediri. “Alhamdulillah, Wahyu diterima,” ujarnya.

Sayangnya, kali ini keinginan kedua orang tua Wahyu melihatnya mencapai cita-cita harus dikubur dalam-dalam. Pasalnya, pria yang menginjak usia ke-19 tahun pada 23 Desember nanti lebih dulu dipanggil Allah. Melalui tragedi angin ribut di Sumberjiput, Kecamatan Kota, Kota Kediri, itu. Wahyu mengembuskan napas terakhirnya saat berusaha menyelamatkan diri dari angin yang merobohkan pohon raksasa itu.

“Pengennya lari saat angin kencang itu, namun justru kena pohon,” ujar Endang sambil meneteskan air mata.

Jenazah Wahyu tiba di rumah duka pada pukul 23.00 WIB. “Saat itu saya dikabari sekitar pukul 17.30 WIB oleh pihak kepolisian,” terang Endang.

Yang paling tidak bisa dilupakan oleh kedua orang tuanya adalah sikap yang dilakukan sang anak beberapa jam sebelum nahas itu. Sebelum berangkat kuliah, Wahyu masih menyempatkan diri menjaga warung milik keluarga. Dan, rutinitas itu selalu dilakukan Wahyu ketika jam kuliahnya siang hari.  “Gantian mas, kalau Wahyu kuliah siang saya suruh jaga warung paginya. Sedangkan saya sama bapaknya pergi ke sawah,” ujarnya.

Kemarin, sekitar pukul 07.30 WIB jenazah Wahyu Mukti Prasetiadi dimakamkan di pemakaman umum Desa Plaosan. Yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah duka.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia