Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Politik

Tanggul Diduga Berisi Limbah B3: Asap Mengepul, Bau Menyengat Tercium

DLH Tunggu Hasil Lab

10 Desember 2019, 18: 24: 58 WIB | editor : Adi Nugroho

limbah beracun

PUTIH: Karung penahan tanah di dekat Jembatan Maesan, Kecamatan Mojo, menyebarkan bau menyengat. Karung itu diduga berisi bahan berbahaya dan beracun (B3). (Mualifu Rosyidin – radarkediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Bila melintasi Jembatan Maesan di Kecamatan Mojo, beberapa hari ini, siap-siap untuk menutup hidung. Bila tidak maka yang melintas harus siap menyantap bau busuk menyengat. Terlebih bila daerah itu baru saja diguyur hujan. Bau busuk bakal semakin menyengat.

Dari mana bau busuk itu berasal? Ternyata, asal bau itu mengarah pada tumpukan karung warna putih yang tertata rapi di tanggul sungai. Tanggul yang menjadi penahan tanah milik warga Desa Banjaranyar, Kecamatan  Kras itu bertujuan agar tidak longsor ke sungai. Nah, diperkirakan isi dari karung-karung itu berupa bahan berbahaya dan beracun (B3).

Ironisnya, bau menyengat itu sangat kuat. Bisa tercium hingga radius tiga kilometer dari lokasi. Akibatnya, tiga desa terdampak bau tak sedap itu. Yaitu Desa Maesan, Kranding, dan Mojo. Semuanya berada di Kecamatan Mojo.

limbah beracun

BAU MENYENGAT: Petugas puskesmas setempat melintas dekat tanggul yang sudah dibatasi garis polisi. (Mualifu Rosyidin – radarkediri)

Menurut Nizar Zulmi, 45, yang rumahnya berjarak 200-an meter dari tanggul, bau dari karung itu sangat menyengat. Seperti amoniak. Menyebabkan pusing dan sesak napas. “Di mata terasa sangat perih,” terang warga Dusun Jasem, Desa Kranding tersebut.

Menurut Nizar, bau itu mulai tercium pada Minggu (8/12). Sekitar pukul 13.30, usai hujan bercampur angin menerjang wilayah Kecamatan Mojo. Setelah hujan yang berlangsung sekitar satu jam itu reda asap mulai terlihat dari tumpukan karung penahan tanggul. Asapnya putih pekat. Namun bila terkena air asap itu berubah warna menjadi biru. Aroma amoniak yang menyengat tercium seiring keluarnya asap tersebut.

Saat bau itu muncul, Nizar dan keluarganya tengah makan. Sontak, nafsu makan mereka pun jadi lenyap. Bahkan, putra Nizar yang masih berusia 6 tahun menangis.

“Karena tidak kuat, saya dengan keluarga langsung mengungsi ke rumah orang tua,” tutur Nizar.

Berdasar keterangannya, tanah di tepi sungai itu memang sering longsor. Meskipun beberapa kali diplengseng. Terakhir, pada April lalu ada pekerja yang melakukan pemlengsengan dengan menggunakan karung-karung tersebut.

 “Saya ingat, katanya nanti kalau tanah tersebut terkena air bakal menjadi keras,” katanya.

Hal yang sama dikatakan oleh Mohamad Najim, 54, juga warga sekitar.  Menurutnya, bau tersebut begitu terasa. Selain membuat sesak napas, juga membuat mata pedih.

Pemilik tanah, Badrul Munir, mengaku tak tahu bila karung untuk penahan longsor itu justru bakal berakibat seperti sekarang ini. Lelaki yang mendapatkan tanah itu dari warisan orang tuanya tersebut mengaku hanya berusaha agar tanahnya tak longsor ke sungai lagi.

Lelaki yang juga kepala Desa Banjaranyar, Kecamatan Kras, ini mengatakan, karung-karung itu diperolehnya dari seseorang secara gratis. Dia juga tak tahu apa isi karung tersebut. Dia pun meminta maaf karena terjadi hal seperti itu.

Sementara itu, ditemui di tempat terpisah, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kediri Putut Agung Subekti mengatakan telah berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

“Memang untuk kasusnya sedang ditangani Polres Kediri Kota. Dan untuk penegakan hukum KLHK,” kata Putut.

Ia menegaskan, limbah yang menggegerkan warga itu masih dalam dugaan berjenis B3. Sehingga pihaknya belum dapat memastikan kandungannya. Hingga kemarin sampel limbah yang ada di bantaran sungai perbatasan  Desa Maesan dan Desa Kranding itu sudah dibawa ke DLH Provinsi Jatim.

“Kami juga tunggu uji laboratorium hasil sampling oleh DLH provinsi. Termasuk keputusan balai penegakkan hukum wilayah Jawa di Surabaya,” paparnya.

Putut mengaku bahwa prosedur penanganan kasus ini memang agak panjang. Termasuk upaya ke depan, baik clean up dan pemulihan lokasi. “Nanti kita lihat dulu kandungannya, tadi (kemarin, Red) kami sudah surati provinsi dan mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah diberi laporan dari balai penegakan hukum,” ungkapnya.

Untuk penanganan sementara, besok Rabu (11/12) akan ada ada kegiatan untuk sosialisasi di Desa Maesan bekerjasama dengan DLH Provinsi Jatim. Putut menyebut bahwa itu terkait supaya tidak terjadi lagi kegiatan seperti itu. “Termasuk pemaparan dampak-dampaknya akan kami sampaikan di sana. Dinkes termasuk puskesmas juga kami undang,” sebut Putut.

DLH juga telah berkoordinasi dengan Puskesmas Ngadi. Jika ada masyarakat yang terdampak dan mengeluhkan sakit, sesegera mungkin memeriksakan ke puskesmas.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia