Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Sopir Nekat Loncat ke Sungai Brantas

10 Desember 2019, 17: 35: 22 WIB | editor : Adi Nugroho

bunuh diri papar

CEK LOKASI: Polisi dan warga berada di dekat jembatan tempat bunuh diri. (Rendi - radarkediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Subejo, 53, warga Desa Bringin, Kecamatan Badas benar-benar nekat. Pria yang bekerja sebagai sopir ini diduga mengakhiri hidupnya dengan menceburkan diri ke ke Sungai Brantas. Dia meloncat dari Jembatan Papar, Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Papar, sekitar pukul 20.30, Jumat (6/12).

Hingga malam (7/12), jasad Subejo masih belum ditemukan. Padahal tim dari kepolisian, Basarnas, SAR, BPBD Kabupaten Kediri, dan relawan telah mencarinya hingga pukul 16.30, kemarin.

“Diduga kuat korban bunuh diri dilatari motif depresi karena sakit tak kunjung sembuh,” ujar Kasihumas Polsek Papar Aipda Bahroni.

Sebelumnya, ia mengungkapkan, menerima informasi warga. Ada saksi yang melihat Subejo berada di Jembatan Papar. Dia membawa sepeda motor. Sesaat kemudian, laki-laki itu tak terlihat lagi. Namun, kendaraannya masih terparkir di pinggir trotoar jembatan.

Yang mencurigakan, helm dan sepasang sandal tertinggal di trotoar. Karena itu, warga lantas melaporkannya ke polisi. Petugas polsek segera mengeceknya. “Di jembatan kami temukan barang bukti sepeda motor Yamaha Mio GT  warna merah dengan nopol AG 2552 DT,” kata Bahroni.

Selain itu, ditemukan pula dompet hitam berisi kartu identitas KTP dan telepon seluler (ponsel) merek Nokia. Mengetahui identitas pria tersebut, polisi melakukan konfirmasi ke keluarga Subejo. Akhirnya diperoleh keterangan bahwa Subejo memang telah meninggalkan rumah sejak pukul 19.00.

Informasi petugas tersebut dari Sriatun, 49, istri Subejo. Menurut dia, suaminya sempat pamit akan pergi ke Nganjuk. Malam itu, Subejo mengenakan kaus warna putih tanpa kerah bercelana panjang kain warna cokelat. Dia juga memakai jaket kain jamper warna putih lengan panjang garis biru..

“Menurut keterangan istrinya, korban mengidap sakit kencing manis. Dia baru berobat di Rumah Sakit (RS) HVA (di Tulungrejo, Pare),” terang Bahroni.

Karena diketahui menceburkan diri ke Sungai Brantas, petugas dibantu warga melakukan pencarian. Kemarin, mereka mendapatkan bantuan dari tim Basarnas, BPBD, SAR, dan relawan. Pencarian dilakukan sejak pukul 11.00 WIB.

Namun hingga pukul 16.30 tim belum menemukan petunjuk. “Kita belum temukan korban. Biasanya korban tenggelam tergulung-gulung pasir atau tersangkut ranting-ranting. Tapi hingga sore tadi (kemarin, Red) belum kita temukan,” ujar Andris, ketua regu Basarnas Trenggalek.

Dia mengaku, tim Basarnas kesulitan menemukan karena diduga jasad korban masih di dasar sungai. “Pertama, dari kondisi korban. Kedua, dari kontur sungai, ada yang dangkal dan ada yang dalam. Kemudian ada air putar, ada yang berpalung. Airnya juga keruh. Itu menjadi kendala kami untuk hari pertama ini,” jelas Andris.

Selain itu, menurut dia, di malam sebelumnya turun hujan. Sehingga debit air Sungai Brantas naik. Akibat hujan itu pula kedalaman sungai mencapai lima sampai delapan meter. Arusnya pun menjadi deras.

Meski begitu, Andris mengatakan, tim Basarnas memprediksi pada hari kedua atau ketiga jasad korban akan terapung. Sehingga pencarian lebih mudah. “Kita sudah melakukan pencarian sejauh tujuh kilometer sampai Purwoasri,” ungkapnya.

Tim melakukan pencarian menggunakan satu perahu karet. Untuk memaksimalkan operasi pencarian (8/12), akan ditambah satu perahu karet lagi. “Kita akan sisir kanan kiri sungai,” pungkas Andris.  

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia