Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Kolom
MAHFUD

-- Stigma --

09 Desember 2019, 17: 46: 52 WIB | editor : Adi Nugroho

Mahfud

Oleh : Mahfud (radarkediri.id)

Share this          

Alergi terhadap suatu kata seperti sudah menjadi tabiat baru kita dalam berbangsa dan bernegara. Meskipun, sejatinya kata itu punya makna yang positif. Atau setidaknya netral. Yang baru punya makna positif atau negatif bila dikaitkan dengan satu hal yang lain.

Repotnya, menghadapi kata yang seperti itu sikap kita sangat sensitif. Bak menghadapi sesuatu yang sangat buruk. Yang harus kita jauhi. Atau, jika perlu, harus kita buang jauh-jauh.

Salah satu contoh kata yang menjadikan kita alergi besar itu adalah kata komunis (dan segala turunannya). Apa-apa yang berbau komunis seperti harus kita jauhi.

Sikap itu tak sepenuhnya salah. Penyebabnya adalah pengalaman kita dalam berbangsa yang mengalami beberapa kali percobaan kudeta gagal yang dilakukan oleh partai berideologi komunis. Namun, toh bukan berarti kita kemudian harus antipati pada kata komunis secara membuta. Karena bagi sebagian mahasiswa, terutama yang mempelajari ilmu politik, sesuatu tentang komunis tentu tak terelakkan. Karena menjadi bahan kajian keilmuan.

Lucunya, bagi kalangan yang ultra-alergi, kata komunis seperti menjadi kata yang amat-sangat tabu. Terlarang. Sampai-sampai, ketika ada ormas Islam yang mengkaji tentang pemberontakan partai komunis dan membukukannya, buku itu dilarang.

Masih terkait phobia di atas, ada lagi sesuatu yang awalnya biasa akhirnya mendapat stigma. Yaitu lagu berjudul 'Genjer-Genjer'. Lagu karangan seniman dari Banyuwangi ini terseret pusaran tabu karena digunakan partai komunis saat mereka melakukan aksi pada akhir 1966 silam. Suatu pemberontakan yang gagal.

Padahal, sebagai karya seni 'Genjer-Genjer' terbebas dari makna negatif. Lagu itu jadi negatif ketika orang atau sekelompok orang menyeretnya dalam kepentingannya.

Terbaru, yang mendapat nasib serupa adalah kata 'khilafah'. Kata ini bagi sebagian kita, termasuk yang muslim, menjadi kata 'menakutkan'. Tabu. Karena sudah masuk dalam stigma bahwa kata khilafah adalah kata yang merujuk pada ideologi yang akan mendongkel Pancasila sebagai dasar negara.

Akibatnya, ketika ada soal ujian madrasah yang memasukkan pertanyaan tentang khilafah, semua jadi kaget. Jadi takut. Jangan-jangan paham Islam radikal disusupkan pada otak anak-anak muda kita.

Nasib kata khilafah ini, dalam beberapa hal, memang mirip dengan kata yang saya contohkan sebelumnya. Karena bagi umat Islam, kata khilafah itu juga bukan sesuatu yang asing. Yang sejatinya juga punya makna sejarah perkembangan Islam.

Dalam pengertian sederhana, khilafah adalah suatu sistem pemerintahan, yang karena memang muncul dari kalangan Islam, tentu menerapkan hukum-hukum Islam. Pemimpin dari sistem ini biasa disebut khalifah. Dan ini memang diawali pada zaman Nabi Muhammad SAW. Yang diteruskan oleh empat sahabat utama, hingga kekalifahan Islam terakhir yang tercatat sejarah adalah kekhalifahan Turki Utsmani. Yang runtuh November 1922 seiring kemenangan Mustafa Kemal dengan gerakan nasionalismenya. Setelah itu Turki yang sebelumnya lekat dengan kekhalifahan Islam menjadi negara sekuler.

Sebagai suatu sistem pemerintahan, khilafah pun sejatinya memang perlu untuk dipelajari. Karena dengan mempelajari itu kita tentu bisa tahu tentang sistem tersebut. Berikut semua dinamikanya hingga sekarang. Tentu pelajaran tentang khilafah itu juga sama dengan pemberian materi tentang model sistem pemerintahan yang lain.

Memang, kekhawatiran kita terkait kata khilafah tak terlepas dari perkembangan terkini. Ketika kata khilafah justru dikenalkan oleh ormas keagamaan tertentu kemudian mengusungnya sebagai ideologi terbaik yang harus diterapkan, pun oleh kita. Padahal, kita sudah memiliki negara dengan konsep Pancasila yang sudah diterima oleh semua golongan, termasuk Islam.

Karean itu, seyogyanya kita jangan mudah antipati dulu dengan kata khilafah. Sebelum tahu duduk sebenarnya dari pemakaian kata itu. Termasuk pemberian soal seperti yang sempat viral beberapa waktu lalu. Karena sebagai suatu pengetahuan, khilafah juga punya nilai. Justru bila generasi muda tak diberi pemahaman dan pengetahuan tentang khilafah secara proporsional mereka justru bisa terpengaruh oleh propaganda pihak-pihak yang ingin mengubah dasar negara. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia