Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Ecoton Akan Cek Limbah

Dinas LH Minta Semua Camat Pantau Wilayah

06 Desember 2019, 14: 43: 01 WIB | editor : Adi Nugroho

Ecoton Akan Cek Limbah

Share this          

PATIANROWO, JP Radar Nganjuk - Timbunan limbah yang diduga abu slag aluminium (asalum), jadi perhatian banyak pihak. Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) berencana mengecek keberadaan limbah di peternakan ikan milik Sutikno, di Desa Babadan, Patianrowo itu. Lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang aktif mengkaji ekologi dan konservasi lahan basah tersebut menegaskan keberadaan limbah di pemukiman sangat berbahaya. 

          Direktur Ecoton Prigi Arisandi mengatakan, tempat yang dijadikan sebagai penampungan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) itu harus dibersihkan. “Limbah B3 ini berbahaya karena dampaknya bisa langsung ke air, biota, hewan ternak dan manusia,” ujar lulusan Universitas Airlangga, Surabaya ini.

          Karenanya, menurut Prigi, limbah yang sudah ada di area peternakan ikan milik Sutikno iut harus dikembalikan ke tempat semula. Yakni, di Jombang.

“Besok (hari ini, Red) saya akan ke lokasi melihatnya,” lanjut Prigi.

          Lebih jauh Prigi menjelaskan, ciri dari limbah B3 adalah sangat reaktif. Apalagi, limbah yang ada di tengah pemukiman penduduk itu bereaksi mengeluarkan asap ketika terkena air. “Itu sudah menunjukan ciri-ciri dari limbah B3,” tegasnya.

          Dikatakan Prigi, tindakan memasukkan limbah B3 ke pemukiman penduduk tergolong pidana. Hal itu diatur dalam PP No. 101/2014 tentang Penelolaan Limbah B3. Juga, UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan lingkungan Hidup.

          Karenanya, laki-laki yang pernah mendapat The Goldman Environmental Prize dari Yayasan San Fransisco ini akan mengecek ke lokasi. Dari sana dia bisa mengetahui kondisi limbah dan asal limbah berbahaya tersebut.

          Prigi menduga limbah tersebut merupakan serat alumunium dari perusahaan besar. “Ada yang membeli limbah ini karena 30 persennya masih bisa digunakan,” tuturnya.

          Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tri Wahju Kuntjoro mengungkapkan, kejadian di Desa Babadan, Patianrowo ini langsung ditangani penegakan hukum lingkungan hidup dan kehutanan (Gakum LHK).  “Kami sudah sampaikan surat resmi untuk menindaklanjuti kejadian ini,” terang Tri.

          Sembari menunggu Gakum LHK turun, Tri meminta agar tidak ada aktivitas di peternakan ikan. Termasuk aktivitas mengurangi atau menambah limbah di sana.

          Untuk mengantisipasi kejadian serupa di desa lain, Tri juga sudah mengirim surat kepada camat seluruh Kabupaten Nganjuk. Mereka diminta memantau wilayah masing-masing. “Kalau ada limbah untuk uruk yang mengeluarkan asap dan mengeluarkan aroma tak sedap, lapor ke desa dan kecamatan,” pintanya.

          Tri menegaskan, pihaknya tak ingin Kabupaten Nganjuk menjadi tempat penampungan limbah B3 dari luar daerah. Dia pun meminta warga ikut berperan aktif menjaga desanya. Terutama, dari masuknya limbah berbahaya seperti di Desa Babadan, Patianrowo. “Warga harus mengawasi lingkungan masing-masing,” tandasnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia