Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Jagung Kediri Naik, Luar Kediri Turun

03 Desember 2019, 16: 57: 14 WIB | editor : Adi Nugroho

ANGKUT: Pekerja di Pasar Grosir Ngronggo menurunkan jagung dari kendaraan pengangkut kemudian ditempatkan di kios-kios pedagang. Saat ini produksi jagung melimpah karena panen raya.

ANGKUT: Pekerja di Pasar Grosir Ngronggo menurunkan jagung dari kendaraan pengangkut kemudian ditempatkan di kios-kios pedagang. Saat ini produksi jagung melimpah karena panen raya. (HABIBAH A MUKTIARA - JP RADAR KEDIRI)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Kondisi kontras terjadi di harga jagung. Yang berasal dari petani Kediri mengalami kenaikan harga. Sementara yang datang dari luar Kediri justru mengalami penurunan.

Menariknya, stok jagung dari dua wilayah itu juga bertolak belakang. Yang dari luar Kediri melimpah menyusul panen raya di beberapa daerah sentra jagung seperti Blitar. Sementara, meskipun sama-sama panen raya, jumlah jagung dari wilayah Kediri justru sedikit. Sebab, petani Kediri sejak awal direpotkan dengan serangan ulat grayak. Yang membuat hasil panenan mereka jelek.

“Jagung (dari luar Kediri) mengalami penurunan harga),” kata Aji, 40, pedagang di Pasar Grosir Buah dan Sayur Ngronggo, saat ditemui di lapaknya.

Di lapaknya, Aji mendapat suplai jagung dari daerah Udanawu, Kabupaten Blitar. Di hari-hari sebelumnya, dia menjual dagangannya dengan harga Rp 2.500 per kilogram. Namun, dengan kondisi seperti harganya menjadi Rp 2.200 per kilogram.

“Karena banyak yang panen sehingga mengalami penumpukan barang,” imbuhnya.

Selain stok yang menumpuk, ada faktor lain yang menyebabkan turunnya harga jagung. Yaitu sepinya pembeli. Hal itu membuat pedagang harus mengoreksi harganya agar bisa terjual.

Menurut Aji, dalam kondisi normal dia biasa mendapat suplai 500 kilogram jagung dari pedagang besar. Jumlah sebanyak itu bisa habis dalam satu hari. Sementara dalam kondisi sepi seperti saat ini, jumlah yang sama menjadi tidak habis dalam sehari.

Kondisi berbeda terjadi di kios jagung milik Dian. Di lapak ini jagung yang dijual berasal dari wilayah Kediri. Karena itu mengalami kenaikan harga. Kalau sebelumnya di kisaran Rp 1.700 per kilogram untuk partai besar, kini menjadi 2.500 per kilogram.

“Meskipun sedang panen namun banyak barang yang jelek,” terang perempuan berusia 25 tahun itu.

Harga itu bisa lebih mahal lagi bila dijual eceran. Satu kilogram bisa mencapai Rp 4 ribu. Padahal, biasanya hanya Rp 2 ribu saja per kilogramnya.

Dian menjelaskan, petani di wilayah Kediri tak bisa menghasilkan jagung dengan maksimal. Faktornya karena banyak yang terserang hama ulat grayak. Selain itu diperparah dengan kondisi kering saat ini. Sehingga banyak lahan yang kekurangan air.

“Karena kekurangan air, jadi petani menggunakan disel sehingga jadi seperti itu,” imbuh pedagang yang mengaku disuplai jagung dari wilayah Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri ini.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri Ita Sacharani mengatakan, kenaikan dan penurunan harga itu bersifat temporer. Salah satu penyebabnya adalah anomali iklim yang terjadi saat ini.

“Meski ada kenaikan harga, namun masih dalam batas normal,” jelas Ita, ketika dikonfirmasi kemarin.

Ita menjelaskan, untuk konsumsi jagung wilayah Kota Kediri mengambil dari Kabupaten Kediri, Tulungagung, dan Blitar. Hingga saat ini stoknya mencukupi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi maupun kebutuhan ternak.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia