Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Temukan Jalan Cor yang Sudah Mengelupas

Komisi III DPRD Nganjuk Sidak ke Ngluyu

03 Desember 2019, 15: 28: 36 WIB | editor : Adi Nugroho

Proyek

RUSAK: Wakil Ketua Komisi III DPRD Nganjuk Fauzi mengambil potongan cor jalan di Ngluyu yang mengelupas, dalam sidak kemarin. Rekanan beralasan ruas yang mengelupas itu merupakan sisa beton dan tidak termasuk kontrak. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGLUYU, JP Radar Nganjuk-Komisi III DPRD Nganjuk melakukan sidak di sejumlah proyek fisik Kota Angin yang Desember ini dikebut. Hasilnya, mereka menemukan jalan cor yang sudah retak. Bahkan, di beberapa bagian cor jalan sudah mengelupas.

Ada dua lokasi yang disasar oleh anggota komisi III. Yaitu, proyek pengecoran jalan Cumpleng-Gampeng, Kecamatan Ngluyu. Sasaran kedua pengurukan di mal pelayanan publik.

Di proyek pengecoran jalan Ngluyu, Ketua Komisi III DPRD Nganjuk Marianto bersama Wakil Ketua Komisi III Fauzi Irwana dan beberapa anggota  komisi langsung mengecek kualitas pengecoran. Hasilnya, mereka mendapati proyek yang dikerjakan oleh CV Indrajaya itu banyak kejanggalan.  “Mulai dari ketebalan dan lebar jalan ukurannya tidak sama,” ujar Wakil Ketua Komisi III DPRD Nganjuk Fauzi Irwana.

Sesuai rencana anggaran biaya (RAB), lanjut Fauzi, ketebalan cor 30 sentimeter. “Sekitar delapan spot tidak dikerjakan, ini luar biasa ngawurnya,” sesal politisi partai Demokrat ini terkait proyek senilai Rp 748,6 juta tersebut.

Dia juga mempertanyakan proyek pemeliharaan rutin bahu jalan yang dianggarkan sebanyak Rp 195,1 juta. Idealnya, kondisi bahu jalan ruas tersebut masih bagus untuk tahun ini.

Fauzi bersama Marianto dan Aria Tri Putra semakin terkejut saat mendapati cor-coran jalan yang sudah retak  dan mudah mengelupas. Bahkan, Fauzi dan Aria sempat mengambil potongan cor yang mengelupas. “Ini bagaimana?” lanjutnya dengan nada tanya.

Untuk diketahui, komisi III juga mengecek pengurukan kantor mal pelayanan publik (MPP) di Kelurahan Werungotok, Kota Nganjuk. Di sana mereka menyoal pengurukan yang menggunakan pasir dan batu (sirtu). “Sesuai spek seharusnya tanah,” tegas Fauzi mewakili teman-temannya terkait proyek senilai Rp 1,5 miliar itu.

Dengan beberapa temuan itu, Fauzi menuturkan, pihaknya akan memanggil dinas terkait dan pelaksana proyek dalam waktu dekat. “Akan kami minta penjelasan,” imbuh Fauzi.

Terpisah, pelaksana proyek pengecoran jalan di Ngluyu Bayu mengatakan, delapan spot yang tidak dikerjakan pengecorannya itu karena beberapa sebab. Yaitu, lokasinya curam. Ada pula tanah berbatu yang tidak bisa dikerjakan menggunakan ekskavator. “Ada segmen tertentu yang tidak bisa digali karena curam, jadi diperlukan penahanan jalan,” bebernya.

Dalam kontrak, lanjut Bayu, tidak ada item pemasangan batu kali sebagai penahan. Karenanya, pihaknya tidak bisa memaksakan untuk mengerjakannya. Alasannya, klausulnya akan lebih panjang dan harus ada kajian teknisnya. “Dalam draf kontrak jelas hanya galian dan pelebaran beton,” lanjutnya.

Ditanya tentang temuan cor jalan yang retak dan mengelupas, Bayu berkilah itu merupakan sisa beton untuk pengecoran. Dia pun meminta dewan mengecek kualitas pengecoran di titik konstruksi sesuai desain.

Sementara itu, Sugiarto, pelaksana proyek pengurukan MPP juga mengelak disebut tanah uruknya tak sesuai spek. Menurutnya, pengurukan sudah sesuai. Mereka menggunakan tanah panas. Bukan sirtu. “Nanti masih ada perapian,” terangnya tentang proyek yang baru berjalan seminggu itu.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia